About Me:

Saya adalah seorang manusia gila yang terlalu banyak uneg-uneg & obsesi yang belom tercapai. Sebagian orang menilai saya adalah orang yang sedang mencari jati diri. Pernyataan tersebut hampir betul dikarenakan sedikitnya waktu bagi saya untuk menemukan apa yang saya benar2 inginkan dalam hidup ini. Tak ada ruang untuk berekspresi, berkreasi, dan menjadi gila di dunia yang naif ini. Alhasil, terciptalah saya sebagai pribadi yang terkesan eksplosif, dableg & sering keluar dari jalur. Kebahagiaan & kesenangan yang saya rasakan pun terkadang tidak pernah bisa dibagikan dengan orang lain, padahal Chistopher McCandless berpesan di akhir hayatnya: "Happiness only real when it shared". Untuk itulah blog ini tercipta, ga masalah orang2 yang baca mo menanggipnya atau tidak, ga masalah jika para pembacanya menjadi antipati atau termotivasi karena topiknya, yang penting saya sudah berbagi supaya ada sedikit cahaya kebahagiaan dalam hidup saya ini.

Sabtu, 14 Mei 2011

Tempat Tinggal Ke Dua

Foto depan rumah

Papan nama di taman besar
Baru sadar, ternyata saya belom cerita tentang rumah baru tempet kami tinggal sekarang. Dan baru sadar juga ternyata belom ada juga cerita tentang rumah tempet tinggal kami pertama kali waktu dateng ke Aussie. Tapi itu nanti aja lain waktu kalo sempet, sekarang mood nya lagi mo cerita tentang tempet tinggal baru di Ginifer, St. Albans.

Di taman besar
Rumah kami ada di blkg sana, < 2mnt
Jarak dari rumah ke stasiun kereta biasanya memakan waktu 15 menit jalan kaki, tapi biasanya saya udah berangkat 20 menit sebelum jadwal kereta yang saya mau naikin, maksudnya biar jalannya sambil santai2 menikmati cuaca pagi hari yang dinginnya minta ampun di sini sekarang dan bisa santai2 dulu di stasiun sambil ngumpulin nyawa.

Di sini kami tinggal bersama 3 penghuni lainnya yakni: Andres, cowok Kolombia sekaligus si penghuni pertama sebelum kami semua, Minath, cowok India yang PR di Aussie dan lagi menyelesaikan ujian kedokterannya, 2 atau 3 bulan lagi dia akan balik ke Sidney. Dan Michell, cewek tapi ga tau asalnya dari mana karena ga pernah ngobrol, si penghuni terakhir yang terancam dikeluarin karena selalu nginepin orang tiap malem tanpa sepengetahuan Mimi Ten, si pemilik rumah, cewek Chinese tapi udah menetap di Aussie. Selain itu juga sering ngerokok di dalam rumah, ngrusakin pintu kamar mandi, mesin cuci, dan buang tissu yang ada bekas darahnya ga pada tempatnya.

Di atas kuda2an per
Seluruh arena bermain anak2 di taman besar
Suatu pagi pernah temennya namanya Kristina juga, keluar dari kamar Michell, mungkin untuk kencing dan sekalian menyapa kami. Dia bilang kalo Michell itu punya penyakit Agaphobia, suatu phobia takut ketemu orang jadi dia di sini untuk nemenin Michell. Hmm, antara bener atau boong, tapi saya sih lebih percaya kalo dia boong. Kalo memang dia agaphobia, kok sering nerima tamu? Nginep lagi... yang bikin kami (saya, kristina, andres, dan minath) bingung adalah, dia ga kuliah, dia juga ga kerja. Seharian bisa di dalem kamar terus ga kemana2 selama seminggu. Dapet uang dari mana? Kami jadi menduga2 jangan2 sebenernya dia pelacur, dan ga mau ngobrol sama kami karena mungkin takut profesinya ketahuan sama kami. Hihihi... Yah, cukup ngomongin orangnya, sekarang balik lagi ke rumah.

Dapur kami
Disblh kiri sy ada rmh yg buang TV dan Kulkas
Dalam perjalanan ke stasiun itu saya harus ngelewatin 2 taman yang ada di sekitar rumah. 1 taman besar yang isinya ada arena bermain untuk anak2, dari prosotan, ayunan, ungkat-ungkit, sampe kuda2an yang berdiri pada 1 per, jadinya bisa goyang2 gitu. Selain itu ada juga lapangan basket setengah lapangan seluas tembakan 3 points. Dari taman besar kita beralih ke taman yang kecil dimana di sini ga ada apa2nya, Cuma jalan setapak aja yang dihiasi rumput2 liar. Tapi di ujung jalan dari taman kecil ini ada rumah yang dulu pernah saya foto untuk saya jadikan bukti autentik. Hehehe... waktu itu rumah itu lagi buang TV, dimana saya dan istri heboh banget ngeliatnya, abis ga lazim. Dan informasi terbaru, sekarang dirumah yang sama TV nya udah ga ada, tapi bukan berarti halaman depannya kosong melompong gitu aja. Sekarang udah ada kulkas 2 pintu warna putih ngeceng nungguin siapa yang minat untuk mengambilnya. Ada cerita lucu dari teman Kolombia kami, Andres. Dia punya temen Kolombia juga yang tinggal di Aussie. Suatu hari dalam perjalanan pulang ke rumahnya yang agak menanjak 30 derajat jalan kaki selama 20 menit, temennya itu nemu TV besar dan dia seneng banget. Dia cerita ke Andres dia seneng banget bakalan bisa nonton ini itu, jadi ada hiburan tambahan di rumahnya sekarang. Sambil siul2 senandung dia tenteng itu TV dengan tanjakan yang bukan main lagi beratnya kalo sambil bawa TV 26 inci malah katanya beratnya sama sekali ga kerasa sangkin senengnya, karena di Kolombia kalo elektronik di taro di luar rumah dalam itungan detik pasti ilang. Pas sampe di rumah di setel deh itu TV nya, eh, lho... apa yang salah? TV nya ga bisa nyalah. Hahahaha... Udah bawa seneng2, berat2, eh TV rusak. Ditendang2 lah TV nya itu untuk mengekspresikan kekecewaannya, ditenteng lagi sama dia sambil kecewa terus dibuang, jatohnya agak ke jauh sedikit dari rumahnya. Besok paginya, TV yang sama ada di atas meja makan dia. Dia shock setengah mati, bingung kenapa ada di situ (kaya film Benyamin sama sepatu boot). Ga lama temen serumahnya orang Argentina bangun, dengan girang temennya bilang: “eh, gw nemu TV nih, dibuang sama tetangga sebelah kita. Nih, gw ambil, lomayan kan?” Hahaha... Bukan main, temennya Andres ini langsung pukul kepalanya pake telapak tangannya. Dia jelasin ke temennya yang orang Argentina itu kalo TV ini dia yang buang dan itu TV rusak. Aduh, apa kami orang Amerika Latin ini bodoh2 semua ya? Terlalu euforia ketika ngeliat elektronik dibuang di jalan?

Kamar kami yg berantakan
Di meja makan
Untungnya untuk kemana2 saya ga perlu melewati tanjakan atau turunan setiap hari nya. Dan lucunya rumah di sini walaupun ada pagernya tapi ga ada pintunya. Jadi maling atau siapa aja bisa aja bisa masuk ke pekarangan rumah kami. Untuk itu setiap saat pintu rumah harus selalu kekunci. Tiap 2 minggu sekali kami bayar sewa rumah $270 ditambah uang air $50 sebulan. Belom termasuk uang listrik dan gas yang dibayar 3 bulan sekali. Untuk diinformasikan, di sini gas dan listrik tersentralisasi dari perusahaan listrik dan gas dan tagihannya jadi 1. Berhubung belom ada 3 bulan saya di sini jadinya ga tau berapa listriknya. Tapi berdasarkan kira2 dari Mimi Ten, karena dia punya 1 rumah lagi yang disewain juga, kurang lebih per orang $80 per 3 bulan. Tapi musim dingin gini pastinya listrik ngelonjak deh, soalnya heater kan nyala terus tiap malem.

Halaman Depan
Halaman belakang
Dengan $270 per 2 minggu kami dapet kamar seluas kamar kos kami dulu waktu di Jakarta, plus area tambahan lemari pakaian yang bisa buat tidur di dalemnya, abis gede banget, ya kurang lebih luasnya 4x5 meter lah. Lalu kami juga bisa pake kulkas, kompor, microwave, toaster (panggangan roti), alat2 masak dan makan, mesin cuci, TV dan heater. Selain itu ada juga AC di ruang tengah yang bisa untuk dingin maupun panas, dan ada garasi juga. Tapi berhubung ga punya mobil jadinya garasi bukan termasuk fasilitas yang bisa saya nikmatin. Di belakang rumah ternyata Mimi Ten si pemilik rumah bikin 1 bangunan rumah lagi yang di sewain. Rumah inilah yang saya bilang di awal yang menjadi patokan untuk itung2an uang listrik dan gas, karena penghuninya udah ada dari sejak sebelum kami pindah ke sini.

Di depan stasiun Ginifer
Yach, itulah sedikit cerita tentang tempat tinggal saya yang baru. Walaupun berada di Zona 2, 30 menit dari kota, dan harus berjalan kaki 15 menit ke stasiun, tapi suasana di sini bener2 menyenangkan dan menenangkan. Ga ada lagi suara bajaj yang bangunin kami tiap pagi. Ataupun suara orang kumpul2, mabok sambil dangdutan di poskamling setempat tiap malam (karena di sini ga ada poskamling, hehehe...). Apalagi asep knalpot KOPAJA atau bis Mayasaribak yang ga karuan itemnya. Yang ada ketika keluar rumah adalah sambutan kicauan burung, cuit... cuit... cuit... Atau kalo ga, udara bersih pagi maupun malam hari yang bener2 bersih mirip2 sama Kaliurang, Yogya. Berhubung di sini lagi winter/musim dingin jadinya ga pagi, siang, ataupun malam, tiap kali buang nafas udah kaya buang asep rokok. Pengen selamanya di sini, dan semoga aja terjadi...

Rabu, 11 Mei 2011

Roti Selai Kacang

Alkisah ada seorang karyawan yang berkeluh kesah ke temannya ketika hendak mengganyang sarapan paginya berupa roti isi selai kacang...

A: Ppfff... Selai kacang lagi, selai kacang lagi...!!! 
B: Kamu ga doyan roti selai kacang? Kalo ga doyan kan bisa minta istri kamu bikinkan yang lain?
A: Itu dia masalahnya. Roti selai kacang ini saya sendiri yang buat. 
B: Hah, kamu bosan makan roti selai kacang tapi kamu tetap bikin makanan itu?

Cerita ini saya dapat waktu masih jalanin satu bisnis multilevel marketing. Ada hal lucu terkait dengan cerita ini. Intinya adalah tentang perubahan, dan cenderungnya orang takut terhadap perubahan baik perubahan di tempat kerja berupa pindah posisi atau kehibahan kerjaan gara2 temen sekantor cuti hamil/resign maupun perubahan untuk pindah tempat kerja. Karena dalam perubahan tersebut terdapat tantangan2 baru yang mungkin akan menguras otak dan emosi kita serta kemampuan kita beradaptasi dengan lingkungan baru. Menurut ahli psikolog yang udah almarhumah, Sigmun Freud, mengatakan "Ada 2 macam manusia di dunia ini, manusia yang menjauhi kesusahan/kesulitan dan manusia yang mencari kesenangan." Kita termasuk tipe yang mana?

Ada banyak orang mengeluh tentang hidup (termasuk saya yang masih belom menemukan kesempatan untuk melakukan apa yang sudah menjadi impian saya), dan keluh kesahnya itu paling gampang bisa kita liat di status2 jejaring sosial, tapi kita ga berbuat apa2 untuk keluar dari situasi yang membuat kita sulit, karena kita berpikir di luar sana pasti lebih sulit lagi dan memerlukan energi ekstra untuk mengatasinya padahal kita belom coba. Nah, kalo yang kaya gini ini tipe yang mana? Udah tau ga enak, tapi tetep dijalanin. Bukannya pilihannya cuma 2, menjauhi yang ga enak atau mencari yang enak?

Karena pengalaman jalanin bisnis MLM dan dapet cerita inilah saya jadi berada di sini sekarang bersama istri. Saya melihat ada cahaya terang untuk bisa menggapai impian saya. Istri saya sampe hari kamaren masih mempertanyakan diri saya kenapa setelah punya penghasilan di sini, kok masih menyiksa diri untuk ngirit padahal masih bisa nabung walaupun dengan jajan sana sini? Jawabannya adalah karena saya mau secepatnya menggapai kesenangan saya, jadi atlit olahraga (bukan jadi orang kaya). Saya mau secepatnya punya penghasilan pasif jadi saya bisa berolahraga semau saya tapi keluarga tetep bisa makan dan idup. Istri juga tanya, apakah dalam mencapai impian kita harus berlari? Menurut saya, ya, harus berlari, karena kita ga tau umur kita tinggal berapa lama lagi di dunia ini. Yang tau cuma Babeh di atas. Jadi yang namanya target hidup harus secepatnya tercapai sebelom mokat (mati).

Semoga Tuhan yang di dalam Surga baca blog saya dan berkenan mengabulkannya... Amin...

Selasa, 10 Mei 2011

Makan Malam Bersama Jess dan Suman

Kejadiannya sih udah agak basi, kurang lebih sekitar 1 bulan yang lalu. Tapi baru sempet ceritanya sekarang. Abis ga ada waktu untuk ngetik blog, terlalu banyak topik yang mau diceritain. Jadi sebelum lupa mendingan diceritain dulu aja deh.

Jess, Koki di tempet kerja Kristina (istri saya) pernah cerita ke Kristina kalo istrinya nganggur di rumah sejak  Suman (istri Jess) diketahui hamil, karena sebelumnya Suman kerja di restoran cina dan menurut pengakuan Jess, Suman setiap hari kesepian, pengen banget ada yang bertamu ke rumahnya dan ngobrol2 sama dia. Nah, tiba2 aja Jess nanyain Kristina apakah suka sama makanan India, karena dia mo ngundang Kristina dan saya ke rumahnya untuk makan malam bersama, makan masakan India buatan sendiri. Wow, keren banget. Belom pernah ada undangan seperti ini antar teman selama tinggal di Indo. Yang ada undangan makan yang ngundang saudara. Kristina langsung aja menanggapi dengan senang hati karena dia tau saya suka banget sama masakan India.

Undangan makan malam yang ditawarkan Jess rencananya untuk minggu depannya. Dan selama 1 minggu itu pula Jess selalu menanyakan apakah kami jadi atau tidak ke rumah mereka pada hari Sabtu malam, dan setiap kali itu pula sampe capek Kristina selalu jawab “Jadi...!” Sepertinya mereka bener2 mengharapkan kedatangan kami untuk bertamu di rumah mereka dan mereka khawatir kalo2 kami ada perubahan rencana yang mendadak.

Wah, hari sabtu waktu itu jadi hari yang ditunggu2 karena moment kaya gini belom pernah saya rasakan, diundang makan malam, makan masakan India, yang bikin orang India. Bisa aja sih makan masakan India di restoran India yang kokinya orang India, sama aja khan. Tapi di sini bedanya adalah kami melihat sendiri cara mereka bekerja sama bikin roti kane sebagai makanan utamanya. Kalo di Indo namanya roti Kane, tapi di India namanya adalah Roti. Ditambah lagi kami banyak ngobrol dan jadi tau banyak tentang budaya2 di India, misalnya:

1.       Istri
Seorang istri harus menuruti kehendak suaminya karena di India suami diibaratkan titisan dari Tuhan. Menuruti kehendak suami = menuruti kehendak Tuhan. Kalo suami bikin salah, istri ga boleh bantah. Yang bisa dilakukan istri adalah melaporkannya ke mertuanya. Supaya mertuanya yang menasehati anaknya sendiri. Istri akan selalu berdoa untuk kepanjangan umur sang suami. Setiap pagi setelah berdoa, istri akan menempelkan pewarna merah mulai dari atas jidat (ujung pangkal rambut) sampe sepanjang belahan rambut mereka.

2.       Suami
Seorang suami di India hanya boleh beristri 1 dan ga boleh cerai. Kalo suami bertindak di luar batas dalam artian melanggar adat istiadat seperti berjudi, mabuk, selingkuh atau memukul, si istri bisa menindak-lanjutinya dengan cara melaporkan perbuatan suaminya ke mertuanya. Kalo si suami masih ga nurut juga akan dilaporkan ke polisi. Nah, lucu nih. Di India kalo loe ga nurut sama orang tua, bisa ditangkep sama polisi dan dipenjara.

3.       Orang Tua
Pernikahan di India adalah urusan orang tua. Mereka menikah berdasarkan pilihan dari orang tua mereka. Contohnya aja Jess dan Suman, mereka baru saling tau wajah dari pasangannya pada saat malam pertama. Pilihan dari orang tua dianggap adalah pilihan yang terbaik. Dan orang tua ga akan pernah menjodohkan anaknya laki2nya pada anak perempuan yang udah pernah pacaran sebelumnya. Pacaran doank lho... langsung ga laku.

4.       Laki-laki dan Perempuan
Di India cowok dan cewek ga bisa ngobrol seenaknya kalo dia ga ada hubungan keluarga. Misal kalo saya nyasar di jalan, saya Cuma boleh bertanya pada sesama laki2 aja. Gitu juga dengan perempuan Cuma boleh ngobrol sama sesama perempuan. Bahkan tempet kerja pun kata Suman pria dan wanita dipisahkan dan ga ada interaksi sama sekali. Kalo sampe ada pria yang berani ngajak ngobrol cewek yang bukan keluarganya, walaupun maksudnya baik niscaya jejak telapak tangan akan ada di pipi anda.

Perihal tentang perkawinan di India, Suman bilang bahwa tingkat perceraian di India sangat kecil. Kalo melihat dari 4 cerita budaya di atas, no. 1 & no. 4 lah menurut saya penyebabnya. Tapi sayang, perlahan2 kebudayaan ini pun semakin ditinggalkan oleh orang2 India nya sendiri, terutama mereka yang idup di kota2 besar seperti New Delhi.

Dewi dari agama Hindu
Para tetua & tempat ibadah agama Sikh
Oya, perlu diketahui nih, Jess dan Suman beda agama lho. Jess beragama Sikh dan Suman beragama Hindu. Mereka mempunya aturan keagamaan yang berbeda tapi mereka bisa akur. Mereka juga menyembah Tuhan yang berbeda tapi mereka saling toleransi. Agama Sikh adalah agama yang melarang setiap pemeluknya untuk memotong bulu yang ada pada tubuh mereka. Jadi biasanya mereka yang beragama Sikh jenggot dan rambutnya panjang2. Rambut mereka hanya boleh dilihat oleh muhrim nya mereka aja. Jadi cenderungnya para pria pemeluk agama Sikh pasti pake sorban dan jenggotnya lebet2. Tapi beda dengan Jess yang juga pemeluk agama Sikh. Dia murtat kata Suman karena dia memotong rambut dan jenggotnya.

Halah, mo ngomongin makan malam sama orang India kok jadi ngomongin kebudayaan India. Ok, kita balik lagi soal makanan. Pas baru dateng kami langsung disambit dengan meriah-happy sama Suman. Dia langsung aja nyerocos ga bisa direm dan dari sejak baru dateng sampe kami pulang. Kami juga disuguhi film kawinan mereka berdua yang bener2 India banget plus jus jeruk dingin. Awal2nya kami ngomongin artis2 India, eh Suman udah mau nyetelin aja tuh film yang kami sebutin, dari 3 Idiot, My name is Khan, sampe Kuch2 Hota Hai. Wah, kalo aja sampe kejadian tuh film India disetel, roman2nya bakalan nginep deh di situ. Suman lebih banyak ngomong ketimbang Jess. Suman juga lebih banyak bercerita dan kami lebih banyak bertanya dan mendengarkan. Hahaha... maklumlah, kayanya hasrat curhatnya baru bisa tersalurkan sekarang kali ya, jadinya mumpung ada orang yang ngedengerin, hajar bleh aja, cerita aja terus. Tapi kami ga bosen, malah kami tanya2 terus, karena budaya India bagi kami hal baru dan unik. Haiya, budaya lagi...

Balik lagi soal makanan. Pas pemanasan perkenalan kami ada 3 hal yang dilakukan: Nikmatin jus jeruk dingin, nonton kawinan Jess dan Suman, dan bertukar informasi tentang gosip2 artis2 India (sebenernya yang ngobrol artis India sih cuma Kristina sama mereka aja, saya sama sekali ga ngerti artis India, jadi cuma nyimak aja), dari yang cowok nya ganteng, sampe artis cewek India satu2nya yang bermata hijau (duh, lupa namanya!) Rani Mukerje pa ya kalo ga salah). Ga lama mereka mulai beranjak kerja sama bikin ROTI yang kalo di Indo ini selevel sama nasi. Roti ini rasanya hambar jadi harus dimakan sama lauk. Nah, berhubung kejadiannya udah agak lama dan setelah saya konfirmasi ke Kristina ternyata dia juga udah lupa semua nama2 lauk yang dibikinin sama Suman. Jadi apa daya saya Cuma bisa nyeritain aja makanan tersebut terbuat dari apa.

Yang pertama, makanan pokok orang India, ROTI. Inilah hasil karya kerjasama mereka untuk mengenyangkan perut kami, hehehe... Kalo orang Bangka bilang sih ini kiping Cuma kalo kiping agak tebel dan biasanya saya taro susu kental manis di atasnya. Bedanya lagi, ini ga digoreng, tapi dipanggang. Adonannya Cuma terbuat dari tepung terigu yang dicampur sama air, udah gitu dibejek2/digiling biar agak gepeng. Abis itu panggang, deh...

Yang Kedua, sayuran tahu ini udah pasti kayanya masaknya pake kunyit, karena saya ga tau lagi apakah ada bumbu masak lain yang bisa menyebabkan warna masakan jadi kuning. Selain tahu, isinya ada kacang polongnya juga, bener2 berprotein tinggi. Rasanya, udah pasti rada2 mirip sama di Indo. Di warteg juga bisa kan ditemuin makanan kaya gini.

Yang ketiga, makanan ini terbuat dari kentang, lagi2 pake kacang polong ditambah sama  potongan2 cabe ijo and wortel. Mungkin ini mirip sama makanan Indo yang namanya kentang balado tapi bedanya diwarnanya yang ga berminyak, karena memang ga pake minyak.

Yang keempat, kagak tau namanya apa, dari bentukannya sih mirip2 sama yogourt, tapi rasanya kaya susu dan memang terbuat dari susu kata Jess Cuma dikentelin dengan cara diapain gitu. katanya sih kalo lamaan lagi aja masaknya sup ini nantinya bisa jadi keju. Ini semacam sup yang dikasi kacang and biji2an. Lagi2 kacang... Tapi kali ini bukan kacang polong, tapi kacang tanah.  

Yang kelima, salad. Saladnya orang India ga seperti saladnya orang2 barat yang banyak banget sayurannya udah gitu ditambah lagi kuah mayones yang biasanya ada 2 macam rasa. Kata Suman, waktu mamanya datang berkunjung ke Aussie, mamanya pernah mengomentari salad di sini, kok saladnya kaya makanan sapi ya? (hahaha... mungkin terlalu banyak sayur2nya kali, tante...!) Masalahnya saladnya India Cuma terdiri dari ketimun, tomat, sama wortel dan ga pake kuah2an lagi. Jadi kalo di Indo mah ini nyebutnya lalapan kali ya?

Yang keenam, makanan penutup yang namanya juga lupa. Ini terbuat dari nasi yang menurut saya ini enak dan katanya ini termasuk kelasnya puding. Hmm... susah kali ya ngebayangin puding terbuat dari nasi. Kalo di Indo nasi adalah makanan pokok, ini malah nasi dijadiin dessert. Sebenernya waktu itu masih mo nambah, tapi sayang udah keburu penuh perutnya. Abis makanannya aja sampe 5 macem yang itu aja waktu mo ngabisin harus nunggu dulu perutnya rada kempes baru bisa dimasukin lagi.

Kalo diperhatikan, semua makanan yang disebutin di atas sama sekali ga ada dagingnya. Yup, mereka vegetarian dan karena itulah asupan gizinya sangat tinggi dari biji2an. Tapi kebanyakan orang seringnya tersugesti kalo ga makan daging makanannya kurang bergizi atau belom lengkap. Padahal usus halus manusia panjangnya 15 meter, jadi akan melewati perjalanan yang cukup panjang dan lama untuk bisa terbuang ke usus besar. Akibat terlalu lama di usus inilah bisa2 jadi kanker. Sementara para Carnivora seperti harimau usus halusnya sangat pendek, jadi setelah makan daging, ampasnya bisa langsung terbuang dan ga ngendep di dalam tubuh terlalu lama.

Kapan ya saya bisa jadi vegetarian? 

Jumat, 06 Mei 2011

Singapura VS Australia

Semua temen2 maupun keluarga yang berkomentar tentang Aussie, mereka cenderung bilang kalo di sini semua nya serba teratur, jelas dan dapat diprediksi, terutama dalam hal kendaraan umum. Kata mereka dikarenakan orang2 di sini tau aturan dan ga nyeleneh kaya di Indo. Menggunakan alasan karena negara maju udah pasti orang2nya punya pikiran yang maju juga dan pastinya sikap dan perilaku sehari2nya lebih mau ngikutin aturan.

Sebenernya pernyataan tersebut ga sepenuhnya bener terutama dalam hal “orang2nya”. Kalo ngeliat dari segi transportasi & fasilitas umum, memang betul di sini semua nya serba jelas & bisa diprediksi, misalnya aja jadwal kereta semuanya jelas jam berapa & memang keretanya pun datang sekitar jam yang telah dijadwalkan. Kalopun telat, akan ada pengumuman yang menginformasikan berapa menit lagi keretanya akan datang. Tapi kalo dari segi orang2nya yang tau aturan, saya kurang setuju. Lho kok bisa? Padahal fasilitas & transportasi umum itu sendiri kan dikendalikan sama orang2 di sini? Kalo dilihat secara garis besar memang ada hubungannya antara keberadaan & keteraturan transportasi & fasilitas umum tersebut dengan orang2 yang ada di sini. Tapi ada 1 pertanyaan retoris yang bisa menjawab perbedaan tersebut (haiyah, retoris tapi ada jawaban...), apakah semua orang Aussie teratur?

Intinya saya baru ngeh (terhenyak & sadar) setelah istri membandingkan keteraturan di sini dengan keteraturan di Singapura. Ya dan memang saya akui, ternyata Singapura lebih teratur & lebih bersih. Saya melihat dari tingkat kebersihan fasilitas umum yang sering saya pakai dan tingkat pengrusakan yang terjadi. Banyak sekali saya temukan di sini, misalnya saja di transportasi umum yang sering saya pakai seperti kereta. Sampah2 berserakan di sepanjang lantai gerbong kereta seperti botol minuman, kaleng, kotak, tissue. Atau kalau saya pas pake kereta di atas jam 5 sore akan banyak ditemukan koran2 bekas baca yang dibagi2kan secara gratis setiap hari (kecuali weekend) di depan pintu tiket stasiun City Loop. Pengrusakan yang sering saya lihat adalah seperti kaca jendela yang dicorat-coret dengan benda tumpul. Ataupun dinding gerbong yang dicoret2 dengan spidol. Ya, apa mo dikata, namanya juga anak muda, masih labil dan bergejolak jadi senengnya justru yang nyeleneh2. Makin ga mirip sama orang pada umumnya justru malah makin dilakukan. Tapi anehnya, kenapa di Singapura kok ga gitu ya?

Kalo dilihat dari tingkat kemungkinan kesejahteraan rakyatnya, memang di Aussie kemungkinan nya lebih besar untuk bisa sejahtera ketimbang di Singapura karena biaya hidup di Singapura lebih mahal dari di Aussie (Lih. Teori Ekonomi Makro). Pertanyaannya, kenapa hal tersebut bisa terjadi di negara yang katanya lebih maju dari Singapura?  

Jawabannya menurut saya adalah karena tingkat kesejahteraan di Aussie lebih tinggi dari Singapura. Hahaha... Membingungkan, kok orang sejahtera malah semakin ga teratur? Begini penjelasannya...

1.       Tingkat Pendidikan yang rendah
Di Aussie, ada cukup banyak anak2 muda yang tidak melanjutkan sekolah mereka ke jenjang yang lebih tinggi dikarenakan mereka pengen cepet2 kerja & bisa menghasilkan uang sendiri. Karena tingkat kesejahteraan yang tinggi di Aussie yakni sekalipun Cuma lulusan SMA gajinya tetep bisa hidup. Contoh: Sammantha (anak pertama Reine), dia pekerja rendahan atau istilahnya di sini White Coral tapi bisa jalan2 ke Thailand sama pacarnya yang sama2 Cuma lulusan SMA, bahkan masih ada duit buat bikin tato di kaki seharga THB100 sebagai oleh2 dari Thailand katanya. Gitu juga dengan mamanya (Reine) yang Cuma sopir Forklift di gudang tapi bisa keliling eropa selama 2 minggu & bisa menghidupi 3 orang anaknya. Karena pendidikan mereka yang rendah itulah mereka jadi cenderung bersikap seperti orang yang berpendidikan rendah pada umumnya seperti: memaki, merokok di dalam gerbong, corat-coret, dll

2.       Sistem Pemerintahan
Sistem kesejahteraan di Aussie ini sebenernya secara ga sadar udah bikin orang jadi males. Sistem tersebut yang kebetulan saya tau adalah setiap orang yang sudah berumur minimal 16 tahun dan belom punya penghasilan sendiri akan dikasi tunjangan sebesar $221 untuk 2 minggu. $221 itu cukup untuk makan makanan bergizi dengan standar asupan gizi sehari untuk 2 minggu ke depan dalam konteks orang tersebut tinggal bersama orang tuanya. Tapi kalo ternyata masih ada tanggungan lain yaitu biaya sewa rumah/kamar, pemerintah akan memberikan lagi tunjangan untuk sewa rumah/kamar tersebut. Sayangnya saya ga tau jumlahnya berapa tapi berdasarkan informasi yang saya dapat dari Rivah (anak ke-2 Reine yang juga salah satu penerima tunjangan tersebut) uang sewa rumah tersebut jumlahnya ga gede dan harus menunjukkan tagihan sewa rumah/kamarnya, katanya sih +/- $150 per 2 minggu.

Kalo ga salah di Indo juga ada ya tunjangan seperti no.2, tapi jumlahnya kalo ga salah Rp 200.000 sebulan. Aduh, gimana idupnya? Jujur aja sih saya ga bisa idup Rp 200.000 sebulan tapi mungkin mereka para penerima tunjangan tersebut mau ga mau harus bertahan idup dengan uang segitu. Btw, itu aja kalo ga salah belom dipotong ini itu deh, kalo dipotong lagi, wah... kurus deh saya...

Mungkin penjelasan saya semua ini salah dan memang ga mendasar pada tulisan2 ilmiah tertentu tentang kehidupan sosial orang2 di aussie. Tapi itulah yang terlihat di mata saya bahwa memang di Singapura manusianya lebih teratur ketimbang Australia. Ga menuntut kemungkinan kalo di Singapura ada juga yang suka corat-coret, tapi jumlahnya saya rasa lebih sedikit ketimbang di sini, karena bisa diliat dari coret2an yang ada di jalan2 atau transportasi umum itu tadi.

Oiya, walaupun di sini manusianya termasuk banyak yang ga tau aturan, tapi mereka jauh lebih menghargai orang lain ketimbang di Indo. Contohnya aja semalem pas saya kerja di restoran, tiba2 ada 1 cewek bule dateng ke arah ruangan kerja kami dan kebetulan saya yang jaraknya paling deket sama dia jadi ya ngomongnya sama saya. Dia minta untuk di bersihin mejanya. Dalem hati ah, ternyata ga bule ga indo sama aja rewelnya. Soalnya saya sering nemuin orang2 Indo yang minta di lap-in mejanya karena Cuma ada bekas air yang udah kering. Tapi yang bikin menyejukan hati adalah cara dia meminta itu lho: (menurut terjemahan saya) “Saya minta maaf, saya tau kamu lagi sibuk, tapi bisa ga minta tolong bersihkan meja kami?” Ya tentunya saya lakukan dengan senang hati karena dia minta dengan baik banget dan saya merasa udah dihargai, padahal seharusnya dia marah, kan dia pelanggan. Nah, pas sampe di meja nya, toeng, toeng, toeng... Rasanya seperti tertampar berkali2, plak, plok... plak, plok... Mejanya bener2 berantakan. Memang ga ada piring atau gelas di atas meja, tapi nasi2 dan kuah sop masih ada di situ banyak banget... OMG jadi ga enak tadi sempet jelek2in dalem ati. Hehehe... 

Senin, 02 Mei 2011

Makan Malam Termahal & Termurah

Menunggu manakan utama datang
Jangan bayangkan topik kali ini tentang deretan list makanan2 termahal dan termurah, sama sekali bukan. Tapi makan malam termahal dan termurah ini justru cuma 1 tempat aja. Mumpung istri abis gajian.

Kejadiannya tepat kemaren tanggal 1 Mei 2011, saya dan istri makan malam di satu restoran yang ada di stasiun kereta api Melbourne Central lantai 3, nama restorannya adalah The Pancake Parlour. Jangan bayangin restorannya kaya warteg gitu ya, mentang2 tempetnya di stasiun kereta api. Eh, sebenernya kami ga ada moment apa2 nih makan malam di tempet mahal gini. Justru malah yang ada moment adalah sepupu saya dan istrinya yang merayakan 1 tahun universary mereka tepat 1 Mei 2011. Btw, mereka ngerayain pake dinner2 gitu ga ya? Hehehe, kalo ga, ya berarti kami yang mewakilinya... Xixixi, mereka yang Universary, kami yang dinner. 

Lovely wine yang sepet & pahit
Menurut standar kami yang udah dapet penghasilan di kota Melbourne ini aja, angka $29.50 adalah jumlah yang cukup besar untuk makan malam berdua dengan melihat porsi makanan yang kami dapet. Pertama2 kami dapet 1 gelas anggur putih. Bedeh, minumnya aja udah anggur, gaya bener!!! Ya, ga bisa ditolak lah, kan harga $29.50 itu udah 1 paket sama anggurnya. Padahal udah minta yang manis, tetep aja rasanya sepet2 pahit, ga enak. Hmm, emang dasar orang kampung, mo ngegaya nikmatin anggur. Oya, jadi inget, pas mo pulang waktu makanan kami udah abis (bentar ya, ceritanya langsung ke belakang dulu, nanti balik lagi kok), anggurnya masih sisa 3/4 gelas, sayang banget rasanya kalo ditinggalin. Saya komentar ke istri kalo rasanya ga enak. Eh, tau2 tangan istri ngambil anggurnya terus diminum kaya minum air kaya orang kehausan. Hahahaha... (pis, mel...)

Ga lama setelah pelayannya nganterin anggur, makanan intinya dianterin. Kami dapet 1 piring yang isinya:
  1. Salat sayuran, dimana salat ini kami pernah liat di supermarket 1 kantong besar isinya banyak banget bisa buat makan 5-7 orang, sementara kami dapetnya seiprit.
  2. Pancake dari kentang
  3. Kakap putih fillet, yang ditaro di atas pancake kentangnya.
  4. Tartare sauce yang berwarna putih. 

Gaya doank, anggurnya mah ga diminum
Kalo mo jujur sih, asli ini enak, pancake nya terasa ada rasa kentangnya dan pancake nya bisa dimakan dengan saos Maple yang ada di meja, gratis. Saos Maple nya sendiri rasanya manis sementara pancake yang kami pesan pancake kentang dan termasuknya makanan asin. Kata istri saya sih kayanya ga cocok kalo pake saos maple nya. Tapi ya berhubung lidah saya lidah orang Indo yang biasa kalo makan "berebut rasa" kalo kata orang Bangka atau nama lainnya campur aduk lah rasanya. Nasi goreng aja pake kecap manis, tapi abis itu dikasi garem juga, noh kan... Berebut rasa juga, tapi enak juga. Nah, sekarang salatnya? Ah, ga usah dibahas salat deh. Tau sendiri kan sayuran rasanya kaya apa.

Belom makanan utama nya abis, kami udah poto2, biasalah kaya ga pernah liat orang kampung makan enak? Foto dari makanannya sampe rumah makannya, biar bisa di share di blog. Mungkin ngeliat kami udah ga tenang di tempat, pelayannya dateng nanyain "Desert nya mo dianter sekarang atau nanti?" Ya jelas sekarang lah. Ini dia foto desert yang kami dapet, sekali lagi ini masih 1 paket. Mantabs, gan... Makanan utamanya pancake pake ikan, desertnya juga pancake tapi doble terus pake es krim 1 skup di atasnya. Delisiong abis...



Foto2 sambil nunggu desertnya dateng
Nah, makanan termahal yang pernah kami makan udah saya bahas. Sekarang waktunya membahas makanan termurah. Seperti yang udah dijelasin di awal kalo tempet makannya sama, dan makanannya pun sebenernya sama. Nah yang bikin murah adalah... (jreng, jreng, jreng... !!!) di hari yang sama sebelum makan malam, waktu berangkat dan pulang kerja dari Sorrento alat pembayaran MYKI di bisnya lagi rusak, jadi saya ga bayar bisnya (udah hemat $5.30). Waktu kerja saya nemu duit $6.70, jadi total $12. Kalo diitung2 dari harga makanannya sebesar $29.50 saya cuma keluar duit untuk makanan enak dan mewah di atas sebesar $17.50. Jadi menurut saya makanan di atas termasuknya murah. Tapi kalo disuruh bayar penuh, wah kayanya mikir 2x deh, sayang duitnya. Secara di sini mo ngumpulin duit nanti malah jadi kecanduan makan enak, hehehe... Tahan dulu aja deh, jadiin ini target hidup & planning masa depan (halah!)...

Minggu, 01 Mei 2011

City Loop

Dalam dunia pertransportasian umum di Melbourne ada istilah “City Loop”. City Loop adalah jalur kereta api yang mengitari pusat kota Melbourne atau nama lainnya Melbourne CBD (City Bussiness District) atau orang lokal sering nyebutnya Melbourne City.

Bentuk pusat kota Melbourne adalah 4 persegi panjang (kaya batu bata lah) & jalur City Loop mengitari sepanjang pinggiran kota tersebut. Karenanya dinamakan City Loop: City = Kota; Loop = Putaran. Jadi kurang lebih City Loop ini mirip2 lah sama kota Yogyakarta yang namanya Ring Road, ada Ring Road Utara, Selatan, Timur, Barat, jalan besar yang mengitari seluruh kota Yogyakarta.

City Loop bukanlah nama sebuah stasiun/pemberhentian. City Loop terdiri dari 5 stasiun yang mengitari pusat kota Melbourne. Nama2 stasiun tersebut adalah:
1.       Flinder Street
2.       Parliament
3.       Melbourne Central
4.       Flagstaff
5.       Southern Cross

Seluruh jalur kereta yang ada di sekitar Melbourne pasti melewati City Loop. Kecuali dalam hari2 khusus seperti hari raya tertentu yang diliburkan, kereta ga sampe mengitari City Loop, paling2 hanya melewati 2 atau 3 stasiun saja.  

Untuk mengitari City Loop 1 putaran dengan menggunakan kereta kurang lebih memakan waktu 15 menit dan itu udah termasuk pake berenti2 di 5 stasiun yang disebutkan di atas. 

Selasa, 26 April 2011

Yang Beda di Australia (Part 2)

Perlahan-lahan tapi nambah juga. Lama2 banyak ditemukan perbedaan2 antara Australia dengan Indonesia. Selain dari segi bahasa dan perawakan manusia2nya, ternyata masih banyak hal2 yang beda banget dari segala bidang. Berikut ini yang berhasil saya telusuri (halah, sok wartawan aja...!):

1.       Jalan Toll
Waktu pertama kali dateng sama istri kami dari bandara ke Frankston melewati jalan toll yang panjang banget. Agak heran sih, kenapa ga ada loket pembayarannya seperti di Indo. Kami sempet mengira kalo fasilitas toll adalah termasuk fasilitas gratis yang diberikan pemerintah Oz kepada warganya tapi ternyata dugaan kami salah. Pertanyaan kami ini terjawab waktu saya harus ke Sorrento bersama Joe Morreto (atasan saya untuk kerjaan cleaner) dengan mobil yang dia cicil selama 4 tahun dengan angsuran $400 / bulan. Setiap beberapa saat ada bunyi “Beep” yang cukup keras (setidaknya lebih keras ketimbang bunyi GPS yang dia gunakan). Setelah beberapa kali bunyi saya baru menanyakan bunyi apa itu sebenernya? Ternyata bunyi itu berasal dari satu kotak putih kecil seukuran kotak korek api yang di taro di atas dashboard menghadap ke depan dan agak didongakkan ke atas. Joe ternyata harus mengisi deposit ke dalam kotak tersebut sebagai biaya toll nya. Dan setiap kali melewati jalan toll akan ada sensor infra merah yang tergantung di atas jalan. Pada saat mobil melewati sensor yang ada di atas tersebut pada saat itu juga deposit yang ada di dalam kotak itu berkurang. Jadi sistem ini cukup efektif untuk mengurangi kemacetan gara2 antrian di pintu toll, selain itu juga mengurangi biaya karyawan jaga loket.

2.       Cewek cakep, seksi dan PD
Di sini hampir semua cewek cakep & seksi. Buat para cowok kalo ga kuat iman mungkin tiap hari bisa onani 2-3 kali sehari atau mungkin lebih, hahaha, lebay... Walaupun cuaca dingin begini, tetep aja ada banyak dari mereka yang berpakaian dengan rok mini, belahan dada di angin2in. Dan kalo yang saya perhatikan sih, cewek2 di sini rata2 langsing dan sangat memperhatikan lekuk tubuh (walaupun tetep ada juga yang gemuk). Mungkin karena di sini menganut paham free sex, jadi kalo pacaran harus free sex. Mungkin karena itu mereka berlomba2 untuk langsing untuk supaya bisa punya pacar. Tapi ini dia yang beda banget sama di Indo, di sini mereka yang bertubuh gemuk pun tetep PD untuk berpakaian seksi & mereka ga canggung bahkan terlihat nyaman dengan pakaian mereka. Selain itu, (nah, ini dia nih...!) walaupun belahan dada bertaburan dimana2, paha atas dipajang ngejejer kaya di etalase toko bikini, saya sama sekali ga liat manusia berjenis kelamin pria yang NORAK, yang melototin dengan penuh gairah & keinginan menyentuh seperti di Indo. Yang kalo berpapasan/liat cewek bening dikit (padahal ga berbaju seksi) kepalanya nengok sampe mo patah. Menurut saya di sini cewek bener2 dihargai sebagaimana dirinya yang ingin terlihat seksi & cantik tapi tetep merasa nyaman & aman.

3.       Baju berwarna stabilo
Aduh, gimana ya nyebutnya. Stabilo ini sebenernya merek bukan nama warna. Tapi saya harap pembaca tau maksudnya. Intinya warnanya kaya alat tulis merek Stabilo. Di sini orang2 yang kerjanya di lapangan alias di alam terbuka (misal: kuli bangunan) atau di tempat2 yang rawan kecelakaan, misalnya di gudang, harus & wajib menggunakan pakaian berwarna stabilo ini supaya apabilang terjadi hal yang tidak diinginkan, tubuh mereka cepat ditemukan walaupun dalam keadaan gelap sekalipun. Awalnya saya mengira kalo mereka yang berpakaian stabilo ini bekerja pada 1 instansi yang sama. Tapi kok warnanya ada yang orange, kuning, ijo. Udah gitu model nya juga ga sama. Akhirnya saya tau setelah tanya Reine (pemilik rumah tempat kami tinggal pertama kali datang ke Oz) karena dia punya baju tersebut dan pekerjaan dia adalah sopir forklift (kendaraan dengan garpu di depannya yang berfungsi sebagai alat untuk menaikkan/menurunkan barang di gudang)

4.       Motor dan sepeda
Katanya jumlah motor di Jakarta udah mencapai 4x lebih banyak dari jumlah mobil dan jumlah pengendara sepeda 4x lebih sedikit dari jumlah mobilnya. Tapi di sini justru orang2 malah ga tertarik untuk berkendara dengan motor karena lebih tidak aman dalam berkendara dan lebih memilih menggunakan sepeda. Kalo saya banding2kan di Melbourne city  dengan Jakarta, pengendara motor di sini jumlah nya jauh lebih sedikit ketimbang pengendara sepeda di Jakarta. Bisa dibayangkan kan? Pengendara sepeda aja di Jakarta udah termasuknya sedikit (walaupun udah mulai merebak orang2 kerja naik sepeda, tapi saya ga yakin bisa bertahan lama, karena polusi Jakarta hanya akan menambah penyakit bagi pengguna sepeda bukan kesehatan) tapi di sini yang naik motor lebih dikit lagi.

5.       Ngamen
Ga kaya di Indo, ngamen jadi topeng untuk ngemis kalo lagunya belom abis dan uang udah dikasi mereka langsung ngacir, ditambah lagi tukang ngamen di Indo justru yang nyamperin dari rumah ke rumah. Di sini sama2 namanya tukang ngamen, tapi mereka ngamen dengan tidak membanting harga diri mereka. Mereka ngamen di pinggir2 jalan, di pusat2 keramaian kota dengan menyediakan satu tempat untuk wadah uang dan mereka harus berusaha terlihat menarik supaya orang tertarik menonton atraksi mereka & mau ngasi uang. Kalo mereka ngamennya musik, biasanya ada lagu2 mereka yang udah direkam di DVD dan mereka jual juga di situ. Rata2 harga DVD nya $10 /  keping dan kalo mereka ngamennya suatu atraksi misalnya sulap, dancer, biasanya mereka melibatkan penonton yang ada di pinggir2 jalan itu. Gimana kalo ga ada yang nonton? Nah, pikirkan sendiri deh, saya juga ga tau, soalnya bukan tukan ngamen... ;p

6.       Aktifitas di transportasi umum
Biasanya kalo mereka bersama dengan orang2 yang mereka kenal di transportasi umum gitu mereka ngobrol, sama kaya di Indo. Obrolannya pun ga jauh2 lah, mirip2 sama kaya orang Indo, misalnya gosipin orang, curcol tentang kejadian yang dialamin tadi siang, atau diskusi tentang pelajaran. Tapi kalo pas cuma sendiri cuma ada 3 aktifitas yang mereka lakukan: baca, mainan HP, dengerin lagu. Baca: dari baca koran, novel, sampe buku pelajaran. Mainan HP: dari bales2an sms, main game, sampe telpon2an. Dengerin lagu: ya Cuma 1, pasang earphone, deg... udah... dia langsung masuk ke dunianya dan mengabaikan suara2 kanan/kirinya. Ini dia bedanya, saya jadi teringat papa saya waktu pertama kali menggunakan kereta untuk sarana pergi/pulang kerja Tangerang-Jakarta-Tangerang. Baru 6 bulan aja, udah kenal semua orang yang biasa naik kereta itu. Enci inilah yang biasa ke Kampung Bandan sekalian jualan apem. Engko inilah yang pergi gelap pulang gelap tetep aja gajinya nombok. Mas2 yang itulah yang kalo jualan minuman nyebutnya teh otol, eprit, anta, ola2, & mijon. Beda banget sama di Indo, orang Indo rasa ingin tau tentang orang lainnya lebih tinggi ketimbang orang di sini makanya mereka sering bertegur sama, menyapa walaupun Cuma sekedar tanya “udah makan belom?” “mo saya beliin?” padahal makan sehari2 aja di warteg yang sama dengan lauk yang sama terus demi menghemat. Dan orang Indo menyebutnya itu toleransi antar penduduk setempat. Masing2 ada kelebihan & kekurangannya sendiri2. Buat orang tua kaya papa saya, aktifitas di kereta tangerang sepertinya menjawab kebutuhan dia akan aktifitas sosial orang2 jaman dahulu. Karena aktifitas sosial masa kini sudah beralih ke friendster, facebook, twiter, dll. Sayang dia udah ga kerja, jadinya ga ada tujuan lagi untuk menggunakan kereta tersebut.

7.       Mandiri dan berbakti
Anak umur 4 tahun di sini udah ditinggalin sama orang tua nya pergi jalan2 . Itu yang dilakukan Reine terhadap anaknya yang paling kecil, Henry. Gila, bisa apa sih anak umur 4 tahun? Di Indo mah anak umur 4 tahun kalo ditinggal ortunya paling2 udah tinggal nama aja, masuk koran sore, ditemukan mayat tanpa organ dalam. Alhasil ya kita2 ini pada gantian ngurusin Henry waktu itu, termasuk kakaknya Samantha & pacarnya Cree. Segi positifnya adalah kalo udah terbiasa dididik seperti itu si anak akan menjadi mandiri dan ga dompleng sama orang tua nya terus. Tapi segi negatifnya adalah si anak juga berpikir ketika orang tua mereka sudah jompo mereka pun harus mandiri. Alhasil di sini orang2 jompo tuh pada jalan sendiri, ga ada anak muda yang menemani. Padahal ada kakek2 yang sampe mo ngeluarin duit aja tangannya sampe udah bergetar sangkin tuanya, tapi dia sendirian dan ga ada yang nemenin. 

Sabtu, 23 April 2011

My Jobs at Australia

Beberapa teman agak shock waktu saya bilang di Aussie kerja nya jadi tukang cuci piring (kitchenhand). Jadi kitchenhand di restoran Indonesia adalah pekerjaan ke-3 saya setelah yang pertama kerja di kebun anggur dengan gaji $11.5 / jam, rasanya sengsara banget kerja di sana. Kena terik matahari, ga bisa minum. Kalo haus Cuma bisa minum anggurnya doank. Eh, lebih tepatnya bukan minum, tapi makan anggur, hahaha...  

Alhasil kerja nya Cuma sehari aja, kerja Cuma 7jam badan udah langsung encok semua, kulit baret2, dan sepatu nyaris rusak. Apalagi kalo mereka yang orang nya beser (sering kebelit kencing/boker) wah, kayanya kerjaan ini ga cocok deh. Karena ga tahan akhirnya kami memutuskan untuk hengkang dan ga mau dilanjutkan lagi. Gaji saya selama 7jam kerja ($80.5) dipotong share house $65 / minggu (walaupun Cuma 1 hari saya tidur di situ), dipotong $10 biaya antar jemput dari share house (di Springvale) ke kebun anggur (di Lylidale). Alhasil yang tersisa Cuma $11 - $5.5 x 2, kan istri pun ikut kerja. Karena $11 adalah duit, bukan batu, jadi kami bersikukuh untuk tetep minta dibayar. Setelah kami kirimkan no rekening bank kami untuk ditransfer $11 tersebut, sampe sekarang juga belom dibayar2. Ya udahlah... setelah dapet kerjaan yang ke-2, $11 rasanya jadi ga worthed untuk diperjuangkan (ck ileh, sombong banget, padahal itu sama aja +/- Rp 90,000. Dengan Rp 90,000 kan bisa buat minum2 di Starbuck sambil makan cake & internetan gratis... ;p). 

Ya abis mo gimana lagi, masa mo dipaksain harus ke Springvale? Iya, kalo ketemu sama si bos cewek orang Vietnam itu, kalo ga? Sia2 ke sana. Kan dia ga tinggal di share house yang kami tinggalin itu & kami ga tau dia tinggal dimana. Di sms aja ga pernah bales, di telpon bingung sama logat ngomongnya dia. Ya udah lah, setidaknya kami dapet pengalaman seru, dan kami juga ga ngerasa ngenes2 amat. Malah merasa ini sebuah pertualangan yang ga semua orang seberuntung kami bisa merasakannya. Hidup adalah sebuah pertualangan... Untuk info lebih lengkap tentang kerja di perkebunan bisa di baca di link ini:


Kerjaan yang kedua, adalah jadi Office Boy. Atau kalo di sini disebutnya Cleaner. Saya kerja Cuma di hari Sabtu dan Minggu. Sabtu 2 jam, Minggu 5 jam dengan bayaran $17 / jam. Saya kerjanya bersihin toilet dan ngepel sebuah Pub/diskotik di satu kota bernama Sorrento. Agak jauh ke arah selatan dari kota Melbourne, tapi ga masalah buat saya, karena ada banyak pemandangan bagus sepanjang perjalanan. Padang rumput menghampar luas, ada yang berdanau juga, ada pula kuda2 liar, sapi, wah, udah kaya di novel kesukaan istri saya deh pokoknya. Total ongkos dan waktu perjalanan pergi-pulang dalam sehari masing2 adalah $8.5 dan 6jam. Sampe sekarang kerjaan ini masih saya jalanin karena Cuma sabtu-minggu aja. Ya daripada sabtu-minggu nganggur, mending kerja aja sambil jalan2 keliling Aussie, hehehe... Bos saya yang bernama Joe Morreto adalah orang Italia yang hengkang ke Aussie waktu dia kecil bersama orang tuanya. Dia nikah sama orang Aussie dan sekarang udah punya 2 anak kira2 yang paling gede (cewek) umurnya 17 tahun lah. Joe ini bukan yang ngurusin Pub/diskotik nya lho. Dia adalah Pemilik usaha sendiri Cleaning Service, namanya JVAA. Jadi JVAA ada kontrak kerja sama dengan Continental Hotel untuk urusan kebersihan di bagian Pub/diskotiknya.

Kerjaan ke-3 adalah seperti yang udah dijelasin sedikit di awal, saya jadi kitchenhand di restoran Indo bernama Es Teler 77. Awalnya saya ngira pemiliknya mungkin orang Indo apalagi pas interview ketemu, lho mukanya persis kaya Tukul Arwana, Cuma dia lebih pendek. Wah, orang indo nih... Namanya Koko, dia ngejalanin 2 restoran Es Teler 77 di Melbourne City ini. Yang pertama di 319 Swanston Street, satunya lagi di Cardigan Street, deket Lygon Park. Dan setelah beberapa hari kerja ternyata baru ketawan kalo dia punya restoran yang sama juga di Malaysia. Gila nih orang, kaya banget deh kayanya. Dan ternyata tebakan saya salah, dia bukan orang Indo, tapi orang Burma. Hahaha... Kalo ga salah inget ada 1 temen tanya, Burma itu dimana? Negaranya dia baru pertama kali denger. Dulu Burma namanya adalah Myanmar. Nah, ini pasti tau donk. Intinya negara ini bagian dari Asia Tenggara dan setau saya Indonesia masih lebih maju ketimbang Burma, tapi lucunya di sini justru malah orang indo jadi bawahannya orang Burma, wkwkwk... Saya kerja dengan bayaran $10 / jam. Paling rendah saya pernah dapet dalam seminggu $280 waktu pertama kali kerja. Tapi sekarang selalu di atas $300 seminggu. Ya semoga aja ke depannya ga pernah di bawah $300 lagi, hehehe... Setelah ngobrol2 sama beberapa orang tentang tarif gaji di Aussie, sebenernya $10 / jam itu terlalu rendah untuk pekerjaan di restoran, karena katanya standarnya minimal adalah $13 / jam. Ya, saya sih di kasi $10 / jam udah bersyukur banget. Dengan $10 / jam aja udah bisa makan daging, susu, telor. Belom lagi jajan2 yang lain karena di sini banyak makanan yang aneh2 dan beda dari di Indo. Hehehe... mungkin waktu di Indo udah biasa susah jadinya dikasi enak dikit udah seneng. Kalo di Indo beli makanan jepang rasa2nya kok mahal banget, tapi di sini harga nya malah sama kaya beli makanan indo. Waktu kerja di indo selalu makan siang di warteg yang sama dengan harga yang sama (Rp 5,000) selama 2 tahun dengan profesi kerja kantoran tapi di sini hampir semua makanan yang aneh2 dan mengundang selera harganya mirip2 dan aduh, beruntung banget sih, terjangkau sama gaji jadi tukang cuci piring dan OB.

Oya, balik ke rencana awal tujuan dari artikel ini adalah saya mau menginformasikan mengenai kerjaan yang saya dan istri lakukan di sini. Jadi jangan shock dengan profesi kami karena ada begitu banyak yang lebih jeglek lagi dari kami. Misalnya saja rata2 dari mereka adalah mahasiswa. Logikanya kalo sampe orangtua mereka bisa membiayai kuliah mereka sampai ke Australia, berarti mereka setidaknya masuk keluarga di atas rata2. Ada yang kuliah Teknik Sipil, Akuntansi, Bio Pangan, Kedokteran, bahkan ada yang sudah berprofesi sebagai Dokter sebelumnya.

Saya iseng selalu tanya setiap kali ada orang baru yang masuk, kuliah dimana? Jurusan apa? Apa kerjaan orang tuanya? Nah yang paling mengagetkan adalah ketika saya menanyakan kerjaan orang tua mereka. 95% orang tua mereka adalah pengusaha. Dari sekian banyak orang baru yang saya tanyai pekerjaan orang tua mereka, yang berprofesi sebagai karyawan baru 3 orang. Itupun posisinya mengejutkan. Ada yang General Manager di sebuah perusahaan asuransi ternama di Indo, yang kedua adalah Direktur Utama perusahaan asuransi ternama juga (beda perusahaan dengan yang pertama), yang ketiga bapaknya adalah pejabat negara (PNS) yang sering ditugaskan ke luar negeri. 

Udah beberapa kali setiap kali temen bertanya "Kerja apa di Ausie?" Setiap kali itu juga mereka bertanya lagi: “Masa sih?”, atau pertanyaan2 lainnya yang mengekspresikan ketidak-percayaan mereka, dari kerja kantoran sekarang jadi pelayan restoran. Kalau seandainya mereka menyaksikan sendiri di sini bahwa ada begitu banyak orang kaya yang mau bekerja jadi pelayan, mungkin mereka ga se-shock itu. Ada satu anak yang membuat saya benar2 shock waktu saya tanya berapa biaya kuliah kedokterannya di Melbourne University (Melbourne University dikenal sebagai universitas terbaik se-Asia Pasific). Jawabannya membuat saya ga bisa mikir itu duit didapet dari mana? Biaya kuliahnya per semester $20,000 (DUA PULUH RIBU DOLAR) membuat saya semakin yakin bahwa jadi karyawan ga akan pernah bisa bikin saya mempunyai kehidupan yang berkualitas. Bapaknya adalah pengusaha karet mentah yang luas kebun karetnya sampai berhektar-hektar.

Sekian sharing pengalaman kali ini. Kiranya memberikan manfaat dan  motivasi dalam menjalani hidup ini. Jika penasaran bagaimana saya bisa di Ausi, silahkan baca postingan ini:
http://god-must-be-crazy.blogspot.com.au/2015/05/bagaimana-saya-bisa-di-australia.html

Untuk info tentang Work and Holiday Visa di Australia bisa baca postingan saya yang satu ini mengenai syarat2 utamanya:

Atau jika anda sudah mendapatkan visa tersebut, anda bisa baca postingan saya berikut ini untuk panduan anda mencari kerja yang efektif dan efisien: