About Me:

Saya adalah seorang manusia gila yang terlalu banyak uneg-uneg & obsesi yang belom tercapai. Sebagian orang menilai saya adalah orang yang sedang mencari jati diri. Pernyataan tersebut hampir betul dikarenakan sedikitnya waktu bagi saya untuk menemukan apa yang saya benar2 inginkan dalam hidup ini. Tak ada ruang untuk berekspresi, berkreasi, dan menjadi gila di dunia yang naif ini. Alhasil, terciptalah saya sebagai pribadi yang terkesan eksplosif, dableg & sering keluar dari jalur. Kebahagiaan & kesenangan yang saya rasakan pun terkadang tidak pernah bisa dibagikan dengan orang lain, padahal Chistopher McCandless berpesan di akhir hayatnya: "Happiness only real when it shared". Untuk itulah blog ini tercipta, ga masalah orang2 yang baca mo menanggipnya atau tidak, ga masalah jika para pembacanya menjadi antipati atau termotivasi karena topiknya, yang penting saya sudah berbagi supaya ada sedikit cahaya kebahagiaan dalam hidup saya ini.

Minggu, 19 April 2015

Scienceworks Planetarium

Perjalanan kali ini yang kam jambangi bernama Scienceworks Planetarium yang terletak di Williamstown yang juga berdekatan dengan pantai favorit Kristina, Williamstown Beach. Udah lama sebenernya saya ngajak Kristina ke sini tapi saya lupa apa alasan dia menolak ke sini. Padahal banyak sekali hal menarik dan event2 yang pastinya cocok buat Eog. Bulan ini adalah bulan terakhir untuk event “Elice in wonderland”. Jadi mulai bulan depan sampe dengan 4 Oktober akan bertemakan Dinosaurus.

Sekedar info, Scienceworks ini termasuk bagian dari Museum of Victoria. Scienceworks dibangun pada 27 Maret 1992 dengan maksud memberikan informasi dan pendidikan pada anak2 yang tinggal di di wilayah Victoria mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi. Tiket masuk untuk ke Sciencework ini sebesar $12/orang dewasa sementara untuk anak2 di bawah 16 tahun digratiskan. Sama halnya seperti yang sudah saya sampaikan ketika kami mengunjungi Melbourne Museum. Kalo kalian join membershipnya, tiket masuknnya gratis termasuk orang dewasa. Hanya saja biaya membership mencapai $80/keluarga/tahun. Berhubung kami jarang ke museum, alhasil $80 adalah biaya yang besar.

Ada 2 macam show lainnya yang bisa diikuti selain menikmati koleksi2 kecanggihan teknologi di Scienceworks ini yakni, Planetarium show dan Lightning Room Show. Masing2 harus menambah biaya tiket sebesar $6/orang dewasa dan $4.5/anak2. Dikarenakan show ini dalam bentuk nonton movie selama 45 menit, kami ga yakin Eog bisa duduk tenang jadi kami pikir nanti2 aja deh tunggu Eog udah ngerti dan mungkin berumur sekitar 5 tahun kami akan datang lagi buat nonton 2 show tersebut.

Koleksi2 Scienceworks ini cukup lengkap, terutama di bagian perkembangan komputer, baik dari perangkat kerasnya seperti CPU dan laptop sampai dengan model disket jaman dulu yang pernah saya pakai juga. Lalu ada juga model mobil listrik yang ramah lingkungan, tanpa bahan bakar, tanpa asap. Hanya saja ga bisa dipake buat ngebut dan berakselerasi di jalanan. Perkembangan telepon dari yang jadul sampe jadi telepon genggam, lalu juga ada model maket hidup tanpa menggunakan bahan bakar. Semuanya bergantung pada sinar matahari dan angin saja. Misalnya listrik, sumber utama energi, bisa didapat dari wind mill dan solar power.

Di awal saya bilang temanya kali ini sedang Elice in wonderland, jadi ada ruang dimana isinya berbau si Elice. Ada yang dibawakan dengan matematika, mengajak anak2 untuk berpikir dan juga mainan2 lainnya tentunya dengan petunjuk yang harus dibaca terlebih dahulu untuk bisa mengerti cara bermainnya. Ada satu gambar Queen of Hearts, sepertinya ini adalah tokoh jahat di Elice in wonderland, melihat dari mukanya yang sinis dan tatapan matanya yang kaya setan. Ya kalo salah maap deh, hehehe. Di foto Queen of Hearts ini kemanapun kalian bergerak, kanan ataupun kiri, mata di ratu akan terus mengikut kamu bergerak. Ga ada teknologi apapun yang dipakai di gambar ini. Tapi kalo mengerti sedikit tentang fisika, akan terjawab kenapa matanya serasa ngikutin kita bergerak. Ini dikarenakan pada posisi mata sedikit masuk kedalam, sehingga ketika kita bergerak ke samping, warna putih mata sedikit berkurang karena tertutup ketebalan tersebut sehingga warna hitam mata seolah2 melirik ke kita. Semoga penjelasannya bisa dimengerti, sangat sulit ternyata menjelaskan dalam kata2. Hahaha…

Lalu ada permainan seperti taman labirin pada sebuah karpet. Kita disuruh mencari jalan keluarnya dengan menapaki gambar kotak putih yang bergambar hati atau kriting di samping kotak putihnya. Tentunya di awal kita harus menentukan dulu, pilih gambar hati atau kriting, lalu hanya bisa jalan ke kotak putih yang di sebelahnya ada gambar yang sesuai pilihan kita. Masih banyak lagi permainan2 yang bisa diselesaikan oleh anak2 berusia 6 tahun ke atas, ya setidaknya sudah bisa baca tulis dan mengerti matematika, permainan2 nya akan lebih menarik bagi mereka. Tapi buat anak seumuran Eog, ya terpaksa kita yang ngajarin dan kasi tau cara mainnya. Itupun seringnya dia main semaunya dia, kalo ga menarik langsung ditinggalin.

Ada satu tempat yang cukup menarik juga bagi kami, termasuk Eog juga sebenernya karena dia pun terkecoh dengan ilusinya. Intinya tempat ini diam di tempat dan sama sekali ga berputar, hanya ada satu silinder yang mengitari ruangan tersebut, tapi ketika berada di tengah2 silinder tersebut sekeliling kita terasa seperti berputar semua, kita seperti seolah2 kehilangan gravitasi dan lepas kendali tubuh. Karenanya ruangan ini di disain seperti suasana di dalam pesawat luar angkasa. Di dominasi oleh warna putih namun ada garis2 seperti yang ada pada perangkat alat elektronik. Kalo bingung yang saya maksudkan silahkan liat gambar aja ya, hehehe…

Bergerak sedikit dari ruang pesawat luar angkasa, kami menemukan satu sudut untuk medisain mobil sendiri. Mereka yang berada di situ sibuk dengan disainnya dengan kelebihan dan kekurangan masing2 fitur. Mendisain mobil masa depan ternyata asik juga dan banyak mobil2 yang menarik. Bersebelahan dengan itu ada spot peluncuran roket mainan dengan kekuatan uap air. Butuh waktu untuk mengumpulkan uapnya kurang lebih ada 3 menit tiba2 “pop…” roketnya terbang ke atas. Awalnya saya kira suara “pop…!” tersebut gara2 saya pencet tombol untuk ilustrasi ladang yang ramah lingkungan karena kebetulan barangnya bersebelahan.

Bergerak tak jauh dari situ ada 1 koleksi jenis apel yang pertama kali tumbuh di Victoria dari tahun 1870an sampai dengan 1950an. Jenis aple pertama bernama Glaucester Pippin, berwarna hijau tua dan besar nya hanya sebesar buah kiwi.

Setelah puas mengelilingi lantai 1 kami beranjak naik ke lantai 2 yang isinya jauh berbeda tentunya. Di lantai 2 ini lebih bersahabat untuk anak2 terutama yang seumuran Eog. Ada banyak mainan yang bisa menunjang kreatifitas seperti café yang isinya makanan yang terbuat dari plastik jadi anak2 bisa berlagak seolah2 jadi pelayan atau pemilik usaha dari café tersebut. Dari piring, bawang, kentang, sayur, buah, juga roti, semuanya terbuat dari plastik. Jadi orang tuanya yang capek bisa duduk di meja makan sambil anaknya melayani/menyiapkan makanan untuk disajikan. Orang tua cukup berlagak makan, “nyam…nyam…nyam…” Begitu sih sebagian besar orang tua yang saya liat, sambil kasi komen positif untuk makanan yang terlah disajikan. Lalu ada mesin konstruksi untuk penggali tanah yang sudah didisain untuk anak2, barang yang digali tentu saja bukan tanah melainkan bola2 kecil. Eog seneng banget main ini secara tiap hari dari kecil buat nyuapin dia makan selalu pasang film kendaraan konstruksi, jadinya demen sama beginian.

Lalu ada juga area pembangunan dengan bata2 yang terbuat dari gabus. Anak2 bisa berlagak seolah2 sebagai pekerja konstruksi, menggunakan gerobak, memindah2kan bata dari bawah ke atas menggunakan katrol. Entah apa ceritanya yang lagi dibangun di sini tapi judulnya yang penting bikin anak2nya sibuk dengan memindah2kan bata (gabus) dari atas ke bawah lalu dibawa ke atas lagi. Kalo diperhatikan memang tak ada selesainya permainan ini karena ga ada tujuan yang sama dari masing2 anak. Tapi anehnya mereka asik semua tuh, lari2, angkut2, dorong2 gerobak, ga ada yang duduk manis nonton. Ga tau ya di Indo apakah sekarang sudah ada perubahan. Setiap pusat hiburan orang dewasa juga disediakan hiburan buat anak2. Ya tentunya yang menunjung kreatifitas.

Tepat di tengah2 area lantai 2 ini ada satu akuarium besar berisi Lego city, kita tidak bisa menyentuk legonya, hanya bisa menikmati pemandangan kota Melbourne yang terbuat dari Lego tersebut dari luar akuarium. Cukup menarik karena hampir semua tempat terkenal di Mebourne CBD terdapat di Lego akuarium ini. Masing2 tempat tertera di luar akuarium. Kita membuat permainan mengajak mereka menebak dimana letak tempat tersebut. Atau memberi penjelasan tempat apakah itu dan ada apa di situ. Dengan adanya informasi tersebut, anak2 jadi terbuka akan tempat yang lain yang mungkin menarik bagi mereka untuk dikunjungi. Kita sebagai orang tua kan tugasnya membimbing mereka untuk menemukan apa jati diri mereka. Membatu mereka dengan menyalurkan informasi yang pernah kita dapat kepada mereka supaya pikiran mereka terbuka. Kalo orang tua saya ga akan punya waktu untuk itu karena kendala keuangan yang mepet sehingga mereka sibuk cari nafkah supaya bisa bertahan hidup.

Ada spot lainnya yakni bagaimana proses daur ulang dilakukan. Di Australia, tong sampah dibagi menjadi 3 macam. Sampah yang beneran sampah dan ga bisa diproses lagi, sampah daur ulang, sampah hijau seperti dahan pohon. Ga banyak orang dewasa yang tau proses daur ulang pula, karenanya spot ini juga menarik sebenernya bagi orang tua. Ditampilkan di situ bagaimana mesin daur ulang plastik bekerja, ada pula mesin daur ulang kertas, juga botol2 gelas.

Karena udah kelaparan jam sudah menunjuk pukul 1.30pm tapi posisi kami terutama Eog lagi asik2nya main. Dengan naluri keibuan Kristina tentunya diputuskanlah untuk break dulu untuk makan siang. Tentu saja bukan naluri kebapakan saya karena saya aja ga tau waktu itu udah jam berapa. Saya pun lagi asik liat2, hehehehe… Berdasarkan pengalaman, kami selalu bawa saos sambel ABC buat makan kentang goreng ataupun untuk makanan2 OZ lainnya. Karena kami ga pernah cocok dengan makanan OZ yang hambar dan ga pernah punya saos sambel, adanya saos tomat yang jauh dari selera saya. Cafenya di sini ternyata jauh dari harapan Kristina. Jadi buat rekan2 yang sekiranya ga bisa makan makanan OZ atau dengan motif untuk lebih hemat, bisa bawa makan dari rumah. Tentunya dipanasin dulu di parents room tempat ganti popok anak. Karena di situ ada microwave buat manasin makanan bayi.

Selesai makan dikarenakan posisi café sudah menghadap luar gedung, kami beranjang ke luar untuk liat2. Ada 2 macam benda yang unik di luar ruangn ini. Letaknya berdekatan dengan arena bermainan anak pula jadi besar kemungkinan kita ga nyadar. Yang pertama, ada 2 mangkok besar berwarna biru yang saling berhadapan namun posisinya cukup jauh. Bentuknya seperti antena parabola. Sekali lagi ini adalah ilmu pengetahuan. Kita bisa saling berbicara dengan posisi yang cukup jauh tersebut. Suara kita akan difokuskan oleh parabola tersebut dan dilempar ke parabola di hadapannya. Benda kedua adalah jam matahari. Ini ga seperti jam matahari pada umumnya. Bentuknya seperti pesawat terbang dengan sayap di kanan kirinya dengan panjang yang sama. Namun ada angka2 di masing2 sayap untuk menandakan jam berapa pada saat bayangan jatung di garis tersebut.

Tepat di tengah2 antara 2 parabola yang saya ceritakan di atas, ada tulisan Pumping Station yang isinya mesin2 tua yang jaman dulu digunakan untuk membangun Victoria. Buat yang bawa stroller bisa masuk lewat bunker di sebelah kiri melalui pintu waktu kuning dan ada tulisan Coal Bunker. Mesin2 di sini bentuknya udah ngelebihin ukuran manusia semua. Padahal kalo nemuin produk terbarunya mungkin kecil mungil dan bisa dipindah2in. sama halnya seperti computer. Dulu waktu pertama kali diciptakan ukurannya sama sekali ga bersahabat. Sekarang, bahkan ada yang bisa masuk kantong.


Sekian dulu ceritanya. Maaf aja ya kalo ga lengkap dikarenakan keterbatasan waktu yang saya punya, jadi saya sebisa mungkin secepatnya menyelesaikan postingan ini. Karena kalo terlalu lengkap takutnya malah ga yakin bisa ke posting karena pasti ga akan selesai2.







Jumat, 17 April 2015

Jalan Salib di Bacchus Marsh

Uhuy, jumat datang juga akhirnya. Cuma di hari jumat saya bisa agak relaks karena Kristina ga kerja jadi bisa ditempelin sama eog seharian, hahaha… Hari ini kebetulan mereka berenang bareng, jadi sepulang kerja saatnya saat bercurhat tentang perjalanan lainnya yang tak kalah menarik. Perjalanan ini sebenernya dilakukan sebelum ke Yuulong Lavender (postingan sebelumnya). Dikarenakan terhimpitnya waktu dan tak punya ruang gerak berekspresi dalam kata2, akhirnya baru sekarang lah terlampiaskan curhatan cerita perjalanannya.

Tujuan perjalanan ini sebenernya bukan untuk jalan2 melainan mengikuti prosesi doa Jalan Salib. Doa jalan salib adalah doa yang dilakukan oleh umat Katolik yang tujuannya mengenang sengsara Yesus waktu memanggul salib. Kebetulan tempat ini berada sedikit di atas bukit jadi pemandangannya lomayan menarik. Buat rekan2 yang bukan Katolik saya rasa sah2 saja datang ke tempat ini sekedar berpelesir ria sambil menikmati udara bersih dari atas bukit dengan pemandangan gunung2 dan jalan tol yang bener2 bebas hambatan. Maaf ga bermaksud menyindir jalan tol di Jakarta tapi secara logika di Jakarta memang jumlah penduduk dengan fasilitas penunjang memang tidak sebanding. Karenanya harus ada sikap tegas dari pemerintah, mau trasportasi umunya yang ditingkatkan atau fasilitas jalanannya yang diperbanyak.

Nama tempat ini adalah Our Lady Ta Pinu Shire (All Nation Marian Centre) yang letaknya di suburb Bacchus Marsh, Cuma 15 menit nyetir dari tempat saya. Sebagai tempat berdoa tentunya akan dipenuhi ornamen2 doa Katolik antara lain ada salib besar yang menjulang tinggi di pucuk bukit. Doa Jalan salib akan dimulai dari pos ini. Lalu ada banyak rumah2 kecil yang bisa dipakai untuk berdoa secara pribadi dan menyendiri di sini. Mungkin semacam meditasi bisa dilakukan di sini juga.

Medannya cukup tidak bersahabat bagi mereka yang punya anak kecil cekatan dan gesit. Dikhawatirkan si anak bisa lari2 dan jatuh ke jurang. Untuk jalan setapak yang bisa dilalui sih cukup bagus. Walaupun bukan aspal, hanya batu kerikil kecil2, cukup tidak membuat becek sepatu ketika basah dan hujan melanda. Jangan lupa untuk bawa jaket buat mereka yang ga kuat angin. Namanya juga posisi di atas bukit, angin bisa datang tiba2 wus, wus, tau2 anda masuk angin aja.

Tak bisa banyak kata lagi, sebaiknya nikmatin aja foto2nya ya. Semoga bisa sedikit menenangkan saraf yang tegang akibat asap bajaj dan bau bensin di jalanan. Atau mungkin mumet sama angka2 yang entah dari mana datangnya kenapa kagak balance ya? Wkwkwk… Sekedar pesan aja, diturutin bagus, ga diturutin juga gpp. “Kerjaan ga akan pernah ada habisnya. Jangan lembur, jangan nunda untuk pulang. Hidup harus seimbang.”






Yuulong Lavender

Minggu lalu kami sempat jalan2 mengeksplor kota Ballarat, masih dalam bagian wilayah Victoria. Tepatnya berada di bagian sebelah barat, cukup jauh dari Melbourne CBD. Tapi pemandangannya jauh berbeda dengan suasana kota. Ya, berhubung saya jenuh dengan suasana perkotaan seperti Jakarta, walau Melbourne CBD jauh lebih tertata dan bersih tetep aja udah emped sama gedung bertingkat dan suara klakson dan mesin.

Yang pasti, sepanjang perjalanan, kita akan disajikan pemandangan
ladang yang luas yang isinya dari domba yang diambil bulunya, sapi untuk susu dan dagingnya, sampai kuda untuk pacuan. Ada pula ladang yang isinya pembiakan rumput hias untuk lahan perkarangan rumah. Gunung2 yang terlihat kebiruan dari jauh, bukit dan lembah yang saling bersebelah sepanjang perjalanan menghiasi mata yang tak akan bisa tidur. Pastinya sulit ditemukan di daerah perkotaan. Track lurus dengan jejeran pohon yang tertata rapi di pinggir jalan sudah pasti akan kita dapatkan.

Perjalanan mengeksplor Ballarat kali ini ke taman bunga Lavender Yuulong Lavender Estate. Ladang yang dikelolah oleh keluarga sendiri karena seperti yang saya katakan di awal, di sini sepanjang jalan isiya adalah ladang, Yuulong Lavender berinisiatif menanam semua ladangnya dengan lavender dan menjadikannya tempat wisata. Tak ada biaya tiket masuk untuk menikmati bunga2 lavender. Sayangnya kami datang tidak di waktu yang tepat dikarenakan bunga lavendernya sebagian besar sudah selesai berbunga. Jadi tanaman lavender ini di foto yang terlihat seperti semak2 saja. Waktu yang tepat ke sini adalah ketika musim panas, kira2 bulan pertengahan Desember lah. Jadi penasaran saya seperti apa ya pemandangannya kalo semua tanaman lavender ini berbunga. Saya akan datang lagi Desember nanti.

Ada 1 café di taman lavender Yuulong ini yang sepertinya adalah pemilik dari ladang ini juga. Harusnya sih begitu, kalo nggak ya ga akan balik modal kalo mereka meng-hire karyawan buat ngelola café mereka ini. Karena hanya musim panas saja mereka sibuk, sisanya selama 9 bulan, sepi. Sepi bukan berarti sama sekali ga ada yang dateng, tetep ada pengunjung namun jumlahnya sangat sedikit dan mungkin hanya di hari sabtu-minggu saja.



Ada 1 burung kakatua yang bersangkar di tengah2 café tersebut. Burung kakatua yang bernama Deisy ini cukup pintar. Selain bisa menyebut namanya sendiri, Deisy juga bisa bertanya “what is that?” seandainya kita memegang makanan di depat dia. Atau mungkin benda lain yang menarik perhatiannya. Mungkin itu caranya dia untuk minta makanan dari tangan kita. Waktu itu soalnya saya lagi nyuapin Eog sambil liat Deisy. Eog yang keasikan ga sadar makannya pun banyak.

Setelah kita masuk ke area café nya, ada banyak bunga2 lainnya yang di tanam di halaman café. Café ini selain menjual makanan dan kopi, mereka juga menjual benih lavender hasil ladang mereka. Produk2 lainnya seperti sabun berbau lavender, parfum, dll. Bahkan ada es krim rasa lavender di menu desert mereka. Tapi dari rasanya ga jauh beda sama es krim vanilla. 

Di dinding2 café di pajang foto2 disertai tulisan. Saya lupa untuk mengamati foto2 ini karena rencananya setelah makan baru mau saya liat, eh tau nya lupa dan teralihkan dengan taman bermain di belakang café. Ada kandang burung kakatua dan nuri juga yang bisa kita masuki dan melihat burung2 tersebut lebih dekat. Jadi seolah2 kita berada di dalam rumah burung tapi ini versi kecilnya.


Kalau kalian tinggal di daerah timur Melbourne, ada baiknya melakukan trip ini sekaligus ke tempat2 lainnya di Ballarat. Karena kalo hanya mengunjungi 1 tempat saja, perjalanan dari timur ke Ballarat (barat) cukup melelahkan dan panjang. Jadi ini bisa dijadikan salah satu tempat untuk mengisi waktu liburan anak sekolah dengan menginap di salah satu hotel di Ballarat ini.

Akan saya ceritakan tempat kunjungan lainnya di sekitar Ballarat. Yang pasti jauh dari hiburan Mall. Orang Jakarta kan biasanya kalo nyari hiburan terdekat dan tercepat ya Mall. Beberapa dari mereka karena sudah melekatnya sama hiburan Mall biasanya pemandangan asri pegunungan kurang menarik bagi mereka. Sekian dulu ya…















Minggu, 05 April 2015

Rumah Ketiga

Ok, saya kembali lagi setelah hampir 6 bulan hybernate dan tak kunjung menemukan waktu yang tepat untuk bercurhat ria tentang pengalaman hidup di Australia. Intinya kalo dibandingkan waktu kerja di Jakarta dengan gaji waktu itu tahun 2010 kira2 3,5 - 4juta ( tergantung lembur brp lama) biaya hidup di Melbourne terhitung murah. Kalo di kota lain seperti Sidney, hmmm saya ga yakin bisa dibilang murah karena saya sempat berpelesir selama 3 hari sekalian kunjungan bikahan teman waktu itu. Biaya hidupnya cukup tinggi.

Selain itu saya kurang suka suasana nya yang cenderung mendekati Jakarta yang ruwet, ramai penduduk dan macet. Bedanya cuma di kualitas udaranya yang sedikit lebih segar. Saya ga berani bilang udaranya bersih karena dimana2 saya mencium bau asap, karena memang Sidney yang udah remenya kaya gitu masih aja dalam pembangunan dimana2. Ya genungnya, jalanan, jembatan. Kalo dibandingan Melbourne, rasanya tingkat kegiatan konstruksi di Sidney jauh lebih pesat.

Biaya hidup di Melbourne jauh lebih murah ketimbang Sidney, baik dari harga bahan pangan sampe ke biaya transportasi. Mungkin kalo saya tinggal di Sidney belum tentu saya bisa beli rumah sekarang. Ya, kami udah tinggal di rumah baru sejak 29 Desember 2014. Ga perlu nyewa/ngontrak lagi dan ga perlu khawatir properti orang dirusak sama Deo. Secara anak kecil maunya coba2. Apalagi bocah cowok, kagak bisa dibilangin. Makanya ada buku judulnya "Why men never listen and women cannot read map." Kayanya emang bener, cowok lebih seneng nyemplung ke jurang dulu, ngerasain sakitnya, terus dengan bangga ketika bangkit lagi curhat di situ ada jurang, walaupun udah banyak orang bilang di situ ada jurang.

Kekhawatiran saya terbukti di hari pertama pindahan, tembok rumah langsung dicorat coret sama Deo pake spidol marker. Bagus bukan rumah kontrakan, kalo nggak kan nambah kerjaan saya lagi buat cat ulang rumah orang sebelum ditinggalin.

Rumah kami bisa dibilang pelosok karena jauh dari pusat kota Melbourne CBD. Jaraknya kira2 42km , 1 jam lamanya kalo naik mobil. Bisa dibayangkan ya jauhnya kaya apa. 1 jam itu ga pake macet lho.  Kurang lebih 42km itu sama kaya dari rumah ortu yg di Tangerang ke Mall Citraland yg di Grogol. 

Ada lahan kosong yang cukup luas sebenernya untuk berkebun sendiri dan hidup dari hasil panen sendiri. Tapi bisa dipastikan waktu akan tersita habis hanya untuk ngurusin kebun. Alhasil kami hanya membuat 3x3 meter saja untuk kebun sayur seperti tomat dan bok choi, lalu ada cabe, daun bawang, stoberi, anggur, apel, lemon, limo, labu dan lidah buaya. Yang sudah beberapa kalo dipanen adalah bok choi dan stoberi, sisanya masih menunggu untuk dituai.

Lalu apa yang sudah saya kerjakan di sisa tanah kosongnya? Hahaha, belom tersentuh sama sekali karena tak adanya waktu untuk mengelolahnya. 

Minggu, 28 September 2014

Pesan Dari Pengunjung

Saya mempunya impian suatu saat nanti ketika anak2 saya sudah mulai beranjak besar saya menginginkan suasana keluarga di rumah seperti keluarga dalam serial drama komedi Korea Unstoppable High Kick dimana teman2 sekolah anak2 selalu saja ada yang datang ke rumah untuk main ataupun nginep. Atau tetangga yang nebeng nginep karena suatu atau lain hal, temen/sodara/keluarga yang datang berkunjung beberapa hari. Intinya, rumahnya selalu rame diisi oleh orang2 non keluarga inti dan sangkin seringnya mereka nginep di rumah kadang mereka terasa seperti keluarga juga. Biar dimarah2in tetep aja nagih untuk ketemu dan bercengkerama lagi.

Sejak Eog lahir terhitung ada beberapa kali orang nginep di rumah kami. Yang pertama Dewi, temen kuliah kami dulu yang ikut WHV (work and holiday visa). Dewi ini tipe orang yang ga bisa menyendiri dan lebih nyaman dengan orang yang udah dikenal ketimbang tinggal bareng orang asing. Selama tinggal bareng Dewi saya cukup dibikin kesel karena ketidak-pekaannya terhadap situasi misalnya kebersihan. Dewi ini tipe plegmatis, cuek dan kurang peka. Namun dari kekurangannya itu, manusia satu ini selalu beruntung. Salah satunya adalah perihal mencari kerja, cuma butuh 3 hari nganggur waktu nyari kerja di Melbourne. Ga usah jauh2, dia bisa dapet WHV aja udah keberuntungan menurut saya, melihat orangnya yang lamban dan kemayu, ditambah aksen jawanya yang medok dan kental, Wah hampir ga percaya deh kalo score IELTS orang ini dapet 4.5. Mepet sih tapi lulus. Mungkin dikarenakan kecuekannya terhadap masalah dan dirinya hanya fokus pada apa yang dia ingin capai, jadinya Dewi ini selalu terlihat beruntung. Rata2 orang selalu fokus pada masalah yang sedang dihadapi, tapi ada di luar sana orang2 seperti Dewi ini yang justru mengacuhkan masalah dan lebih menaruh pertahiannya pada rencana2 masa depannya. 

Lalu yang kedua adalah Reza dan Meili, orangtua babtis Eog. Menjelang Work and Holiday Visa mereka yang kadaluarsa dalam kurun waktu 1 minggu, mereka memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan sewa kamar dengan indung semang mereka dan memilih tinggal bareng kami. Selain menghemat uang sewa, kami jadi punya waktu lebih banyak berinteraksi menjelang perpisahan. Di usia mereka yang relatif masih muda, saya cukup kaget dengan pola pikir mereka yang tidak seperti kaula muda Indonesia pada umumnya. Kebetulan mereka Katolik juga seperti kami dan banyak sekali ungkapan2 kekesalan mereka akan sikap orang2 Katolik yang cenderung jadi batu sandungan bukan batu loncatan.

Kira2 6 bulan kemudian sekitar bulan Agustus, Andi adik Kristina datang dengan WHV juga. Dia tinggal bareng kami selama 1 tahun penuh. Andi cukup mengirit dengan tinggal bareng kami. Hanya perlu membayar $50 sebulan untuk bantu uang listrik dan setiap hari dia selalu bawa makanan dari restoran tempat dia bekerja, kadang bawa 2-3 pak makanan setiap harinya. Jadi bisa menghemat uang makan kami sekeluarga juga.

3 bulan menjelang WHV Andi kadaluarsa kami kedatangan Handi dan Tres, beserta 2 anak mereka Clares (5) dan Felicia yang 1 bulan lebih muda dari Eog. Mereka datang dengan visa pelajar dengan perencanaan Tres yang kuliah Master Accounting setelah lulus hendak mengajukan Permanent Resident seperti kami. Dikarenakan masih buta tentang Melbourne ditambah sulitnya mencari tempat tinggal jadi mereka tinggal bareng kami selama 2 minggu penuh sambil mengajukan permohonan sewa rumah. 

Perlu diketahui bahwa mencari kontrakan rumah di Melbourne ga semudah mencari kos. Mahalnya harga rumah membuat keluarga2 kecil baru menikah atau baru punya anak kesulitan menumpulkan uang DP sebesar 10% dari harga rumah yang diwajibkan pemerintah. Alhasil mereka memulainya dengan ngontrak. 

Handi sekeluarga tidur di kamar Maminya Kristina yang ketika itu kebetulan sedang pulang ke Indo karena visa nya sudah habis. dan akan kembali lagi 2 minggu mendatang untuk bantu kami ngurusin Eog waktu kami kerja. Dalam kurun waktu 2 minggu itu Handi dipaksa kejar tayang, bergadang sampai larut cari kontrakan di website2 dan siangnya inspeksi rumah yang dia ajukan melalui website dan mereka berhasil mendapatkan kontrakan di hari terakhir mereka.

Selama 2 minggu itu Eog sering bercengkerama dengan Clares dan Felicia. Eog keliatan seneng banget walaupun sering dijailin dan dikerjain sama Clares. Saya pun ikut senang karena Eog ga kesepian dan bisa mensharingkan suasana Melbourne ke Handi dan Tres.

Kira2 2 minggu selepas kepindahan Handi sekeluarga, datanglah satu orang lagi yang menginap di tempat kami. Makhluk petualang satu ini adalah Ria, temen masa sekolah sekaligus nulis blog Kristina. Kehadiran Ria amat sangat dinanti oleh Kristina. Saya bisa merasakan keantusiasan dia menyambut hari2 kedatangan Ria. Saya kurang tau keantusiasan Ria namun saya cukup shock ketika menjemput cewek satu ini dari bandara. Barang bawaannya hanya 1 tas ransel kecil ukuran anak SD dengan tingkat kepadatan di atas rata2 alias bentuknya tak seringan beratnya. Semua keperluannya ada di situ selama pertualangan dia 3 minggu di Ausi. Antik, nyentrik, dan belum pernah saya temui traveler yang bawa tas sekecil itu untuk 3 minggu. Bahkan saya saja paling2 1 tas ransel (ukuran orang dewasa) penuh. 

Berhubung Ria ini temen deketnya Kristina jadi saya coba2 sedikit pede menganggap saya juga deket sama dia, bertanya dan sharing tentang filosofi hidup dia. Saya tertarik dan ingin tau bagaimana dia menyelesaikan setiap perkara di tempat kerja, lingkungan masyarakat/keluarga. Latar belakang keluarga pun sedikit mirip dan ada banyak hal yang bisa saya petik. 

Intinya dari perbincangan dengan Ria saya menyimpulkan bahwa untuk bisa bertahan hidup di Indo dengan suasana hati yang damai dan penuh sukacita kita harus bisa cuek. Cuek supaya kita bisa jadi diri kita sendiri. Cuek terhadap komentar2 tak sedap yang sering dilontarkan orang2 Indo kebanyakan misalnya: 
"Ih, gemukan ya?" (McD kebanyakan sih)
"Kok iteman sekarang?" (Mirip bayangannya)
"Kapan kawin?" (Kucing tetangga aja udah 3x)
"Masih jomblo?" (Kiwil aja istrinya 2)

Atau baru2 ini Kristina br cerita ada temennya yang abis lahiran anak kedua terus ikut acara keluarga. Di situ dia ampir mau nangis dengerin komentar sodara2nya tentang badannya yang besar. 
"Si Itu aja yang anaknya 3, badannya masih langsing. Kamu kok gemuk banget?"
"Anaknya langsing, cakep. Mamanya kok gemuk dan jelek sih?"

Kita harus belajar cuek. Cuek bukan berarti kita brutal dan menjadi nyuekin orang2. Tapi cuek maksudnya cuek terhadap komentar2 tak sedap itu. Ria sempet bilang untuk menjadi cuek itu ga gampang, butuh pengorbanan perasaan dan latihan terus menerus. Mari kita belajar dari Michael Jordan, Tiger Wood, David Beckham, Mohammad Ali dan atlit2 lainnya yang menjadi tenar bukan karena talenta melainkan dengan melatih diri dengan ekstra keras untuk menjadi manusia yang berkualitas.

Sebagai penutup, saya mau menceritakan sedikit tentang perjuangan seorang atlit sepakbola. Di halaman Facebook, saya join Fan Page video clip sepak bola. Ketika itu 6 Agustus tepat hari ulang tahun Robin Van Persie, pemain dari Manchester United, Inggris. Clip berdurasi 1:50 itu menceritakan apa impian Van Persie remaja yang ketika itu sudah aktif di club junior Belanda, Feynoord. Dia hanya pemain cadangan yang kurang diperhitungkan tapi dia mempunyai impian besar yaitu bisa menjadi Penyerang utama dan bermain untuk klub besar seperti Arsenal atau Barcelona. Seperti ngayal dan muluk. Namun sekarang tak ada para penggila bola yang tak kenal namanya. Impiannya tersebut sudah tercapai hanya saja butuh perjuangan ekstra keras dan itu tidak mudah. Dia harus memiliki tendangan yang sempurna sehingga setiap tendangan menghasilkan gol. Sehingga ketika pelatihnya memainkan dia, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia melatih dirinya menendang 20-30 bola sebelum dan sesudah latihan setiap harinya. Artinya dia berlatih lebih awal dan lebih lama ketimbang pemain lainnya.

http://www.youtube.com/watch?v=mfkqByBnmn8

Ingat: 1% Bakat, 99% kerja keras. Anda bisa menjadi apa yang anda inginkan.

Minggu, 07 September 2014

Dumpling Plus

Ada tempet makan enak yang baru aja kami coba. Namanya Dumpling Plus yang berlokasi di dalam Mall High Point, Melbourne. Dari namanya aja sudah bisa dikira2 ini resto jualan apa, ya kan? Aneka dumpling dengan isi yang beragam mulai dari satu macam daging seperti ayam, babi, udang, campuran, hingga sayuran.

Selain jualan dumpling restoran ini juga jualan seperti risoles, pastel, kue bola dengan lapisan wijen di luarnya. Kurang lebih apa yang dijual di sini, ada juga yang jual di Indo hanya saja cita rasanya berbeda. Karena lidah saya lidah Indo otomatis hanya masakan  Indo yang paling memenuhi kepuasan lidah saya.

Dengan harga $5 dapat 4 buah, semua menu di sini adalah buatan sendiri. Kita bisa melihat secara langsung dari luar kaca bagaimana mereka membuatnya. Kebersihan sudah pasti menjadi prioritas dan tujuan utama dari sistem tampilan kaca ini.

Kalau mau makan di tempat ini usahakan datang sebelum jam 11am karena setelah jam itu dijamin anda akan mengantri panjang dan harus dibawa pulang karena tak ada lagi meja yang tersedia.