About Me:

Saya adalah seorang manusia gila yang terlalu banyak uneg-uneg & obsesi yang belom tercapai. Sebagian orang menilai saya adalah orang yang sedang mencari jati diri. Pernyataan tersebut hampir betul dikarenakan sedikitnya waktu bagi saya untuk menemukan apa yang saya benar2 inginkan dalam hidup ini. Tak ada ruang untuk berekspresi, berkreasi, dan menjadi gila di dunia yang naif ini. Alhasil, terciptalah saya sebagai pribadi yang terkesan eksplosif, dableg & sering keluar dari jalur. Kebahagiaan & kesenangan yang saya rasakan pun terkadang tidak pernah bisa dibagikan dengan orang lain, padahal Chistopher McCandless berpesan di akhir hayatnya: "Happiness only real when it shared". Untuk itulah blog ini tercipta, ga masalah orang2 yang baca mo menanggipnya atau tidak, ga masalah jika para pembacanya menjadi antipati atau termotivasi karena topiknya, yang penting saya sudah berbagi supaya ada sedikit cahaya kebahagiaan dalam hidup saya ini.

Sabtu, 08 Desember 2012

Dibabtis dan Digundul

*Paroki: istilah yang digunakan untuk menyatakan suatu kawasan gereja.

Dibabtis Pastur John O'Relly
25 November kemaren kami membabtis Eog di gereja Paroki Sacred Heart, Saint Albans. Perasaan tegang sempet saya rasakan karena khawatir ada hal2 yang tidak berjalan mulus ketika prosesi dilaksanakan nanti. Untungnya semua berjalan baik walaupun sempet lilin babtis yang saya pegang padam tapi Mario, aktivis gereja, dengan sergap segera menghampiri saya yang sedang di depan altar menunggu moment penyiraman air babtis ke kepala Eog. Apinya didapat dari lilin besar yang ada di sebelah saya tapi waktu Mario mendekatkan lilin babtis Eog yang tingginya hanya 5cm mendadak tangan Mario luput dari genggaman lilinnya. Alhasil lilin babtisnya berenang2 di kolam lilin besar. Problemnya sekarang adalah gimana caranya ngambil lilin babtisnya yang tercelup lilin panas itu? Hohoho... Mario yang nahan panasnya diambil gitu aja dengan tangan kosong. Mantabs...

Bersama orangtua babtis
Sebenernya lokasi tempat tinggal kami bukan termasuk Paroki Sacred Heart melainkan Paroki Holy Eucharist yang masih berlokasi yang sama yaitu Saint Albans. Tapi karena pembabtisan bayi di Paroki Holy Eucharist setiap minggu pertama dimana Reza dan Meili sebagai orangtu babtisnya ga bisa hadir karena mereka udah booking tiket ke Great Barier Reef jadi kami mengalihkannya ke Paroki Sacred Hearth dimana pembabtisan bayi setiap minggu terakhir setiap bulan.

Prosesnya persis seperti yang kami duga, tak semudah seperti joint MLM atau ngelamar kerja. Suster Judith yang kebetulan mengurusin prosedur pembabtisan bayi, menginterview kami, menanyakan kami paroki mana, tinggal dimana, berapa kali ke gereja. Dan kami paparkan semuanya termasuk alasan kami ingin dibabtis di Paroki Scred Heart tersebut yakni karena orangtua babtisnya akan kembali ke Indo karena visa mereka habis dan kami ga bisa membabtis Eog pada bulan lalu di Paroki Holy Eucharist dikarenakan Eog belum diimunisasi.

Setelah Suster Judith berunding dengan pastur paroki, John O'Relly akhirnya Eog diperbolehkan untuk dibabtis di situ bahkan kami ga perlu mengikuti kelas yang harus dihadiri sebanyak 2x yang diperuntukan bagi mereka yang jarang ke gereja.

Calon babtis dari 3 ras yang berbeda
Singkat cerita pembabtisan berjalan lancar lah, Eog ga teriak-teriak atau menggeliat waktu air babtis disiram layaknya orang kesurupan yang roh jahatnya keluar. Tapi ada satu hal yang membuat saya dan Kristina cukup terkejut, bahwa ternyata peserta yang akan dibabtis hanya 3 orang termasuk Eog. Uniknya lagi 2 yang lain berasal dari ras yang berbeda. Jadi, ketika kami berdiri di depan altar sebagai orangtua bayi, terkesan kami seperti perwakilan dari 3 ras yang berbeda dalam satu pembabtisan kudus, negro, bule, asia. Sorry, saya harus bilang "WOW" untuk yang satu ini walaupun mungkin anda udah emped dengernya. Momennya indah banget...

Bersama Gabriel Filbert
Untuk pertama kalinya saya membabtis anak saya setelah sebelumnya saya sempat menjadi orangtua babtis waktu di Jakarta. Orangtua babtis dari anak temen kuliah sekaligus temen kantornya Kristina waktu di Machindo. Nama anaknya Gabriel Filbert. Ngomong2 Filbert kaya apa ya sekarang? Jadi kangen...

Abis acara "sirem2an kepala", kami makan bareng di Quang Tao, restoran Vietnam tapi menyajikan chinese food juga, masih di bilangan St. Albans, ga jauh dari gerejanya. Yang paling saya suka sih menu ceker ayamnya, walaupun sekarang saya baru tau ada restoran lain yang lebih enak lagi ceker ayamnya. Saya akan ceritakan di postingan yang lain mengenai reviewan resto tersebut. Dan ternyata waktu kami sampe restorannya, Meili dan Reza udah sering makan di situ cuma ga pernah tau nama restonya.

Makan2 di Quang Tao setelah babtisan
Pulang ke rumah, Eog langsung digarap abis2an... Rambutnya maksudnya. Penggundulan rambut Eog yang menurut tradisi orang Indo harusnya 1 bulan setelah lahiran untuk buang sial katanya tapi ini baru dilakukan setelah 2 bulan. Dengan menggunakan cukuran kumis, penggundulan Eog sekaligus untuk mengerok kulit kepalanya yang terlihat setengah mengelupas dan mungkin saja selama ini Eog merasa gatal. Abis digundul, Eog seharian tidur, entah karena efek penggundulannya yang bikin adem atau memang capek karena seharian keluar rumah.

Momen penggarapan lahan pertama kali
Deogratias, kiranya diberkatilah engkau dalam setiap langkah yang kau ambil, sikap yang kau tunjukan, dan kasih yang kau sebarkan. Kiranya Tuhan memberikan kebijaksanaan, rasa takut padaNya sebagai dasar pengetahuan, dan melatih dirimu untuk menjadi manusia yang berkualitas. Artinya Engkau akan diberikan banyak masalah yang harus engkau lewati supaya mental, tubuh, dan rohmu menjadi kuat. Engkau tidak perlu menyelesaikan masalahmu karena itu bukan bagianmu. Engkau hanya perlu meyakinkan dirimu bahwa engkau mampu untuk melewatinya. Teruslah bermimpi, jangan berhenti, lalu kejar apa yang kau impikan itu supaya kiranya engkau tidak menyia-nyia hidup yang kau jalani hanya 1x dan tak ada kuasa yang mampu mengulangnya. Jadilah orang yang mampu mengendalikan dirimu sepenuhnya karena orang yang tidak mampu mengendalikan dirinya tidak mungkin mampu mengendalikan orang lain. Tubuhmu lemah tapi rohmu kuat. Karenanya latihlah rohmu juga selain tubuhmu supaya engkau kuat di dalam maupun di luar.

5 Mainan Baru

Berikuti ini adalah 'mainan2' yang saya miliki setelah saya tinggal kurang lebih 1 tahun di Melbourne. Tujuannya postingan kali ini adalah mau ngabarin keluarga yang di rumah supaya dapet gambaran seperti apa kehidupan saya di sini sekarang, tidak ada maksud untuk memamerkan apa yang saya miliki karena kami datang ke sini dengan tangan kosong dan yang kami miliki sekarang hanyalah alat sementara untuk menunjang hidup. Jadi buat para pembaca yang kurang bisa berpikir objektif mungkin sebaiknya lewatkan saja postingan kali ini karena dikhawatirkan akan berpikir negatif. 

Perlu saya paparkan kenapa saya harus ngabarin orang di rumah mengenai kehidupan saya di sini? Karena ada beberapa sisi kehidupan dari kami yang mereka tidak percaya bahwa kami memang sudah mencapainya. Bahkan ketika kami mau membeli barang di point terakhir di bawah, mereka meragukannya karena yang mereka tau saya belum bisa menggunakannya.

Beberapa dari list ‘mainan’ di bawah ini sebenernya sudah pernah saya paparkan di postingan sebelumnya di sini tapi baru kali ini terealisasi. Jadi saya merasa perlu untuk memaparkannya sekaligus bisa menjadi pelajaran buat para pembaca kalau mempunyai impian cobalah untuk mengabadikannya dengan cara menulisnya atau mencari gambar dan memajangnya di tempat2 yang sekiranya setiap saat bisa terlihat. Inilah yang disebut kekuatan afirmasi. Baiklah, mari kita mulai mengurutkan list nya berdasarkan dari pertama saya mendapatkannya.

1.      Kamera SLR
Sudah lama saya mengidam-idamkan sebuah kamera SLR yang bisa memfoto fokus dengan background blur atau sebaliknya atau modifikasi lainnya. Ketika kebetulan ada uang, istri langsung menyarankan ‘Beli aja kameranya, nanti nyesel lho...’ Pasalnya ketika instruksi dari istri untuk beli kamera yang selama ini saya inginkan, perasaan saya balik lagi seperti dulu, sayang2 uangnya. Dan berpikir ulang: “Apakah saya terlalu boros kalo sampe beli kamera aja sampe seharga $1,500?” Harga lebih mahal ketimbang motor Supra Fit yang yang saya beli dulu. Tapi pikiran itu langsung saya patahkan karena saya mau berubah, saya mau belajar menikmati hidup ini. Saya punya banyak keinginan dan selama itu halal saya yakin Tuhan pasti tidak akan menghalangi saya untuk mengejarnya.

2.      Iphone
Di Ausi ini bukan barang mewah. Hampir setiap orang punya iphone dan penjualannya sudah seperti jual kacang goreng dimana yang beli ga abis2 seolah2 itu iphone harganya beda tipis sama kacang. Make iphone di Ausi sama sekali ga ada gengsinya dikarenakan sudah pasaran dan seperti barang gampangan untuk dimiliki baik bagi mereka yang punya mobilitas tinggi atau mereka yang senang dengan kemajuan teknologi. Bahkan yang Cuma pake buat telpon or sms aja beli iphone juga. Kerja jadi tukang cuci piring aja saya berani jamin anda bisa beli Iphone. Waktu Kristina pulang Indo untuk menghadiri perkawinan adiknya, sodara2nya cukup terkesima dengan melihat iphone 4s miliknya. Saya beli iphone ini tujuan pertamanya adalah karena pengen tau seperti apa teknologi smartphone karena selama ini saya pakenya hp monophonic. Setelah tau, aduh, maaf saya bukan tipe orang yang bisa kecanduan teknologi, jadi saya ga punya planning untuk meng-upgrade menjadi Samsung Galaxy atau iphone 5. Maaf tidak ada foto untuk list kali ini karena saya lupa foto waktu baru beli. Kalo mo di foto sekarang malu soalnya iphone nya udah jelek, hehehehe... Ada info yang perlu diketahui perihal sistem pembelian Iphone di oz. Kita bisa beli secara cash sekitar $800 (tipe 4s) tapi akan lebih murah jika kita beli dengan sistem kredit. $49 per bulan selama 2 tahun dimana $49 itu sudah termasuk pulsa yang bisa kita pakai. Artinya kalau kita ga pernah pakai pulsa, kita tetep bayar $49/bulan dimana rekening kita akan terpotong secara otomatis tapi kalo kita pakai pulsanya $55 (misalnya) pada bulan itu maka rekening kita akan dipotong sebesar $55.

3.      Sepeda
Bukan BMX, bukan pula Federal. Saya pun tak yakin apakah merek sepeda ‘Norco’ yang saya beli ini merupakan mereka terkenal. Tapi harganya buat saya termasuk tinggi, $450. Sekali lagi, awalnya saya udah ga mau beli dikarenakan over budget. Tapi dikarenakan kondisi yang mendesak dimana Vincent, teman pabrik yang biasa antar-jemput saya, tidak bisa lagi meneruskan kerepotannya dikarenakan dia pindah tempat tinggal ke City yang sudah barang tentu semakin jauh dari tempat kerja. Jadi dengan berat hati tapi seneng (karena bisa nyepeda ke pabrik) saya beli lah sepeda yang merek dagangnya ga jelas itu, sambil menunggu SIM dan Mobil yang pada waktu itu masih dalam perencanaan untuk membelinya.

4.      Mesin Potong Rumput
Manual $118
Mesin $411.79
Saya harus sebut ini mainan karena sejujurnya saya menyukai aktifitas memotong rumput. Entah kenapa, anda boleh bilang saya aneh, tapi ketika melihat hal yang berantakan dan menjadi rapi setelah dirapikan, rasanya menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri di situ. Nah, ternyata di Melbourne ini kalo tinggal di area rumah yang memiliki pekarangan/halaman rumput, kita punya kewajiban untuk memotongnya atau setidaknya menjaganya tetap pendek supaya tidak ada ular/hewan lain yang membahayakan. Tetangga bahkan punya hak untuk mengadukan rumah kita ke pemerintah kalau rumputnya tinggi2. Awalnya saya beli potong rumput yang manual, yang pisaunya akan memutar kalau alatnya didorong/digerakkan bersamaan dengan roda yang berputar. Selain untuk membakar kalori dan harganya murah, potong rumput manual ini ramah lingkungan (karena tidak menggunakan bahan bakar). Tapi sayang ga bisa bekerja dengan semestinya karena tiap kali memotong rumput yang terlalu tebal langsung bikin pisaunya berhenti dan nyangkut gara2 rumputnya. Selain itu karena rodanya dari plastik jadi ada kalanya waktu mendorong rodanya ga muter karena licin. Kalo rodanya ga muter otomatis pisaunya juga ga muter. Alhasil saya minta uang kembali dari “Big W” toko tempet saya membeli menggantinya dengan membeli mesin potong rumput yang lebih powerfull dan tidak ramah lingkungan tentunya karena menggunakan bensin dan oli samping. Apa boleh buat karena rumput di rumah udah mirip di hutan belantara yang tingginya sebetis orang dewasa.

5.      Mobil
Akhirnya kebeli juga mobil. Walaupun secondhand dan manual tapi Yaris 2006 ini termasuk masih bagus baik dari warna maupun mesinnya. Kilometernya pun baru 66.000 km dan berdasarkan pernyataan si sales katanya pemilik sebelumnya cewek makanya masih terlihat baik. “Apa maksod lo? Jadi lo mo bilang para pria adalah pengrusak?” Ternyata di Melbourne kalo beli mobil manual lebih murah ketimbang yang metic karena di sini sebagian besar orang lebih cenderung menggunakan yang metic, lebih ga capek dan cepet belajarnya. Sementara di indo kalo yang metic malah lebih murah kan? Yup hukum ekonomi, hukum permintaan dan penawaran. Semakin tinggi permintaan harga meningkat, semakin rendah permintaan harga menurun. 

Sabtu, 01 Desember 2012

Happy Anniversary ke-3

* Lab praktikum Kampus
* : Lokasi

28 November kemaren saya sekeluarga ditraktir sama Dewi, temen kuliah sekaligus share mate di Melbourne. Dewi yang dateng ke Melbourne dengan menggunakan Work and Holiday Visa setahun yang lalu tak terasa visanya udah mau abis aja. Sebenernya visanya Dewi habis tanggal 3 Desember, tapi berhubung dia diajak temennya nginep di rumahnya di City (mungkin dalam rangka perpisahan), jadi Dewi minggat lebih awal. 

Traktiran Dewi sekaligus memperingari Hari Pernikahan saya dan Kristina yang ke-tiga. Kami mulai kenal  tahun 2001 waktu Kristina memperkenalkan diri di depan kelas sebagai Asisten Dosen mata kuliah Pengantar Akuntansi 1. Kami mulai pacaran 19 Juni 2002, berarti kami kenal udah lebih dari 10 tahun yang lalu. Yang paling berat dalam membina hubungan menurut saya adalah memahami karakter pasangan sambil menekan ego. Tapi menurut Kristina kalo ga salah denger dulu dia pernah bilang yang paling berat buat dia adalah hubungan jarak jauh.

* Taman Sari, Yogya, belakang pasar hewan Ngasem
Yup, memang kami sempet menjalani hubungan jarak jauh dikarenakan Kristina yang lulus lebih dulu karena dia lebih tua 2 tahun dari saya plus lulus cepat (cum laude). Ditambah lagi sayanya bego lulusnya lama, semakin memperparah keadaan dan memperpanjang lamanya hubungan jarak jauh tersebut. Kalo ga salah itung sih kira2 4 tahun kami jarak jauh dari total 8 tahun pacaran.

Kami dari budaya keluarga yang beda drastis menjadi penyebab utama setiap pertengkaran kami. Yang selalu saya ingat cuma satu penyebab setiap pertengkaran kami, yaitu Uang. Kalo udah urusannya sama duit, pasti kami berantem mulu. Kristina yang budayanya "uang bisa dicari tapi moment ga bisa diulang" bentrok drastis sama paham yang saya genggem selama ini, "menahan diri dan berhemat pangkal kaya" karena menurut saya dengan menjadi kaya kita pasti bahagia.

Intinya kami berdua sebenernya sama2 ingin menggapai apa yang kami inginkan dalam hidup, hanya saja cara kami berlawanan, padahal kami merupakan pasangan yang harusnya penuh toleransi dan memahami karakter masing2. Yang terjadi adalah selama pacaran kami berusaha untuk saling mempengaruhi satu sama lain supaya diikuti pahamnya. Saya pengen Kristina berhemat dan menahan diri untuk segala kesenangan seperti makan enak dan jalan2 supaya bisa lunasin utang, ngumpulin duit, beli rumah, dll. Sementara Kristina merasa dia udah stres di tempet kerja, satu2nya yang bisa menghibur dirinya dari stres adalah melakukan hal yang dia senangi yaitu makan enak dan jalan2.

*Di bawah Tugu Yogyakarta
Saya semakin stres karena gaji kami berdua walaupun ditotal bisa nyampe Rp 10 juta tapi ga cukup buat membiayai hidup di Jakarta yang kejam. Kenapa bisa ga cukup? Dikarenakan kami sama2 anak pertama, saya mewajibkan diri mengirimi bulanan untuk orangtua sebagai wujud respek dan balas budi, dan Kristina sebagian besar uang dan utangnya dipakai untuk membiayai kuliah adik2nya sekaligus biaya hidup mereka. 

10 tahun kami saling mengenal dan buat orang seperti saya yang egonya tinggi karena kurang mendapatkan pelajaran tentang bagaimana cara mengayomi dan menjadi tulang punggung keluarga, sehingga menyebabkan saya butuh waktu lama untuk mau mengalah dan menyadari bahwa beban Kristina lebih berat dari saya. Saya hanya punya satu adik dan itupun udah mandiri sebagai guru di BPK Penabur. Sementara Kristina punya 4 adik yang belum mandiri, 2 orang masih harus dibiayai kuliahnya, 2 lagi kerja dengan gaji yang senen/kemis dan ga pernah sisa di akhir bulan. 

*Di kawinan sepupu Kris di Pekalongan yg suaminya seoranfotografer
Singkat cerita saya mengalah dengan cara mencoba merendahkan hati dan ego untuk mengikuti apa yang istri rencanakan untuk masa depan adik2nya dan keluarga kami. Tentunya tak semudah membalikan telapak tangan. Walaupun udah memutuskan untuk mengikuti keinginan istri, ego ini sering kali muncul ditengah planning yang sedang mulus dikerjakan. Yah, berantem lagi, tapi ga sedasyat dulu. Kali ini dengan intonasi nada bicara yang ga sengak lah karena sadar dan tau betul bahwa tujuan dari semua ini adalah baik.

Semuanya butuh proses, dan yang paling ga enak adalah kalo prosesnya butuh waktu yang panjang. Kalo menilik lagi ke belakang, rasanya kok kagum dan heran kami bisa melewati itu semua. Rasanya bener2 berat waktu dibayangin lagi. Dan kalo ditawarin untuk mengulang kejadian 10 tahun yang lalu, hmmm... saya dengan tegas dan lantang menjawab: MENOLAK karena saya pasti jatuh dan aduh... ga kuat saya ngebayanginnya aja.

*Kris di Wisuda, awal penderitaannya, LDR
Lebih dari 10 tahun bareng dan 3 tahun dalam pernikahan, itu pun sampe sekarang saya masih proses. Proses untuk mengontrol ego dan menerima paham yang istri anut. Karena hati kecil sebenernya tau kalo paham istri lebih bener ketimbang paham yang saya anut cuman saya nya aja yang gengsi buat ngaku (udah di posting di blog mah sama aja udah mengakui, pet, gimna sih lu? Kadang2 balik jadi oon lagi).

Hidup cuma sebentar, mo sampe kapan ngumpulin duit? Kalopun udah kekumpul duitnya, pada waktu itu saya umur berapa? apakah masih bisa menikmati hasilnya? Hati kecil sebenernya tau kalo nikmatin hidup yang ada sekarang jauh lebih berharga ketimbang nyiksa dan nahan diri demi kenikmatan di masa yang akan datang yang belum pasti. Banyak yang bilang hidup ini seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Kalo pas uang udah kekumpul eh ternyata hidup pas lagi di bawah? Yah, mo gimana lagi terpaksa kan ga bisa memetik hasil yang selama ini dikumpulin dengan menyiksa diri. Dikarenakan didikan orangtua selama lebih dari 20 tahun jadi ga gampang buat saya untuk bisa nerima paham istri yang baru saya kenal 11 tahun. Jadi, yah, sebenernya ini hanya masalah waktu.

*Unt pertama kalinya kami ke DuFan
Mungkin ada yang berpendapat, suami kok ngikut istri? Apa kata dunia? Tren sekarang kan lagi ngikutin hal2 yang berbau Arab dan Syariat dimana wanita tidak boleh lebih tinggi dari pria (itu sih yang saya tangkep, kalo salah mohon dimaapin, hehehe). Bahkan kalo ditilik terus bisa berbuah sebuat opini 'Suami Takut Istri', karena biasanya suami yang ngikut istri karena istrinya lebih dominan. Yup, statement itu memang betul. Maksud saya statement yang terakhir yang menyatakan bahwa istri lebih dominan ketimbang suami karenanya suami bisa ngikut istri. Tapi bukan berarti suami takut istri. Dalam membina hubungan memang harus ada yang mengalah yang ga bisa diartikan kalah. Siapa yang harus mengalah? Ya, gunakanlah akal sehat, berdiskusilah dengan pasangan, temukan jalan tengahnya. Bagian inilah yang orang di luar sana tidak mengerti, mereka hanya melihat ekspresi dan reaksi dari aksi kita yang sedang bergumul dengan karakter, rencana masa depan, atau apapun itu demi kemajuan hidup bersama.

Saya tidak setuju dengan statement 'Suami Takut Istri' karena menurut saya tidak ada suami yang takut pada istrinya, yang ada adalah suami yang respek terhadap istrinya karena dengan segala kerendahan-hatinya dia rela terlihat minor dan belajar dari pasangannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Begitulah kata Wing Chun, Yip Man dalam film IP MAN ketika dihina oleh pendekar dari Utara yang menantangnya berkelahi. Yip Man dianggap pengecut dan hanya bersembunyi di balik ketiak istrinya. Ini yang saya maksud menekan ego, ketika orang lain menilai dengan kasat mata kita takut pada istri/pacar, rasa gengsi itu muncul. Tapi  di sisi lain akal sehat kita sadar kalo kita sedang berjuang untuk memiliki karakter yang lebih baik. Orang lain tidak mengerti rasa respek kita pada istri/pacar. Di sini dibutuhkan kedewasaan dalam berpikir dan bersikap.

*DuFan, saya pulang ke Jakarta dlm rangka libur natal
Sejujurnya, saya belum sampai pada titik itu. Saya sedang mengolah diri dan kepribadian saya menuju ke situ. Saya masih sombong dan tinggi ego kadang muncul di saat saya merasa didominasi. Ini ga gampang tapi saya yakin pasti bisa. Yang saya butuhkan hanyalah kerendahan-hati dan waktu.

Happy Anniversary, istriku. Saya beruntung mendapatkanmu tapi sebuah kesialan bagimu mendapatkanku.

*Kampus, malam pelepasan saat saya di wisuda. Kris dateng sm ortu dan adik saya

*Monas, jalan2 ngirit versi saya.
*Kaliurang, sy dlm rangka urus buku tanbungan dan Kris urus SKCK di Semarang unt pengajuan WHV

*Flinder St. Station, Melbourne. Visa kami diapprove

Jumat, 23 November 2012

Mengunjungi Eog

Berikut ini adalah para kerabat dan keluarga yang pernah datang berkunjung untuk menjenguk Eog, si boncel aktif yang super kuat dan ga bisa diem.

Sebagian besar dari mereka belum kenal kami sebelumnya, namun kami jadi dekat seperti saudara karena intensitas pertemuan dan perasaan kagum akan pengalaman hidup yang menginspirasi.

Baiklah, kita mulai dari kunjungan Eog ketika masih di rumah sakit, waktu baru aja brojol. Posisi pertama di pegang oleh Maria Goretti Meiliani atau kami biasa memanggilnya Meili. Calon ibu babtis Eog ini menyempatkan membeli bunga mawar putih dulu sepulang kerja beserta pot nya yang terbuat dari gelas kaca sebelum datang berkunjung satu hari setelah Eog lahir.

Kristina, Meili, Eog
Posisi kedua di pegang oleh Dewi. Cewek asal Magelang sekaligus teman kuliah saya dan Kristina waktu di Atma Jaya Yogya ini menyempatkan berkunjung ke rumah sakit keesokan paginya setelah kunjungan Meili sebelum dia berangkat kerja.

Kristina, Eog, Dewi
Karena dia tipe Plegmatis, jadi dia agak kesulitan dalam hal memilih kado. Bahkan ada beberapa kali dia mau membelikan kado buat temennya, buntut2nya sering banget dia malah nyesel setelah membeli karena baru sadar kalo barang yang dia beli ga bermutu katanya. Jadi dia memutuskan daripada salah beli lebih baik kasi duit aja. $85 yang dikasi Dewi sama Kristina dibeliin bouncer yang harganya $200an 

Bouncer hasil subsidi silang dari Dewi
Dan posisi ketiga ditempati oleh Daniel Tri Harezza atau biasa kami panggil Reza. Calon bapak babtis Eog ini datang bersama Meili sang calon ibu babtis di hari yang sama dengan kedatangan Dewi, tapi mereka dateng pas malamnya. Nama Deogratias sebagai nama babtis Eog adalah pemberian dari mereka.

Meili, Eog, Reza
Dan berikut ini kado dari mereka:
Tas ini tadinya isinya penuh, berhubung waktu kadonya dikasi saya lupa foto, jadinya saya ambil foto pas sempet aja. Alhasil keambil pas sebagian baju Eog lagi dicuci. Seperangkat alat perang buat bikin Eog enjoy, dibeliin semua sama Reza waktu pulang ke Indo. 



Jadi ceritanya beberapa hari sebelum Eog lahir, Reza terpaksa harus pulang Indo karena mamanya sakit dan dia diminta pulang sama abangnya. Pas mau balik ke Ausie lagi, kami titip beberapa baju buat Eog, celana, perlak, selendang buat gendong, gurita, popok kain, kutang, dll. Eh, pas dikasi barangnya Reza nya malah ga mau diganti, katanya jadi kado buat Eog aja. Wah, wah... Kalo diitung2 kayanya Reza abis Rp1,5jutaan nih buat beliin ini semua.

Demikian 3 posisi teratas yang menjambangi Eog langsung di rumah sakit. Posisi-posisi berikutnya adalah posisi kunjungan ketika Eog sudah sampe di rumah. 

Dicky dan Charleen
Posisi keempat diduduki oleh Dicky dan Charleen. Dicky ini temen persekutuan mahasiswa saya, Kristina, dan Dewi waktu kami masih aktif sebagai mahasiswa tulen di Atma Jaya Yogyakarta. Merupakan kejutan buat kami waktu kami dateng ke Melbourne ternyata Dicky juga di Melbourne. Nah, gadis cantik yang duduk di sebelah Dicky ini adalah Charleen, pacar Dicky dari China. Saya kurang tau gimana ceritanya mereka bisa saling kenal. Kalo ga salah nangkep Charleen sempet bilang kalo dia bisa bahasa Jepang juga. Keren banget ya... 

Kado dari Dicky dan Charleen
Dan foto berikut ini adalah kado pemberian dari mereka. ada 2 stel baju yang sekarang nyaris tak muat lagi di badan Eog karena pertumbuhannya yang kelewat drastis cepat dan satu selimut dengan kepala monyet di bagian sudutnya yang selalu berbunyi kerincingan tiap kali kepala monyetnya bergerak.

Pengunjung berikutnya yang menempati posisi kelima adalah Jess dan Suman. Orang India dari kampung ini terbilang baik dibanding India2 pada umumnya. Mereka termasuk India yang tau diri, bersahabat, dan ga belagu seperti India2. Mungkin karena mereka dari kampung kali ya. Di Indo juga gitu kan? Mereka yang dari kampung pasti lebih ga belagu ketimbang mereka yang udah kenal sama kejamnya kota Jakarta.

Jess dan Suman yanga pernah senyum di foto
Ini adalah kali pertama Jess dan Suman mengunjungi kami setelah sekian lama kami yang selalu mengunjungi mereka di Frankston. Bisa dimaklumin sih mereka ga pernah ngunjungin karena setiap hari mereka kerja dari pagi sampe malem, tidak ada hari libur, sementara perjalanan dari FrankstonGinifer - Frankston bisa memakan waktu 4-5 jam. Karenanya mereka bela2in dateng berkunjung demi melihat Eog yang dianggap sebuah momen bersejarah.

Kado dari Jess dan Suman
Kunjungan mereka malam itu diakhiri dengan makan malam bersama, seperti halnya mereka selalu menjamu kami setiap kali kami berkunjung ke rumah mereka. Dan tentu saja menunya tidak mengandung daging dan telur karena mereka vegetarian. Dan menu vegetarian yang kami sajikan ke mereka adalah makanan khas Indonesia, yaitu gado-gado.

Eog bareng Jam
Posisi keenam ditempati oleh Jam Corina Rillorta Sotelo, biasa kami panggil cukup Jam. Perempuan asal Philipina yang udah jadi warga negara Australia ini adalah teman kerja Kristina di panti jompo. Jam yang sedang kuliah nursing ini ternyata punya hobi nyanyi dan dancing RandB. Punya band juga yanberanggotakan 3 orang (termasuk dirinya), kakak perempuannya dan adiknya. Video2 dari lagu dan dancing mereka pun udah lomayan banyak yang di upload di youtube. Oya, Jam ada kasi angpao $20 lho. Lomayan bisa buat beli popok, hihihi...


BarenTante Iing dan Vincent
Yang berikutnya adalah posisi ketujuh, Tante Iing dan Vincent sang keponakan. Mereka berasal dari Surabaya. Tante Iing dateng ke Ausie karena sponsor dari saudaranya. Sementara Vincent sekarang statusnya Permanent Residence yang didapat dari kuliah S2 Accounting. Kami kenal mereka di salah satu persekutuan di gereja katolik paroki Sacred Heart, St. Albans. Sebelumnya sebenernya tante Iinudah pernah dateng beberapa kali dan membawakan ayam arak buatan dia sendiri buat Kristina, kasi baju buat Eog, dan mainan. Tapi baru kali ini kena jepretan foto karena baru kedatangan kali ini Eog dikeluarin dari kamar. Sebelumnya, tiap kali tante Iing dateng, Eog pasti lagi tidur.

Dari Vincent dan Tante Iing
Ember mandi buat Eog dibeliin sama Vincent. Dengan ukuran yang lebih besar dari yang sebelumnya kami punya. Terus tante Iing juga ada beliin gambar Yesus buat pajangan di dinding. Katanya, keluarga katolik masa' ga ada foto Yesus nya? Hehehe... Alasannya klise sih. Tapi lebih baik daripada dinding rumah kaya di rumah sakit, putih semua. 


Yang berikutnya di posisi kedelapan ada Roman dan Patricia. Awalnya saya kenal Patricia dulu, dikenalin sama Percy Corejo temen persekutuan di paroki St. Augustine. Percy merasa kasian sama saya yang tiap kali pulang persekutuan terlalu malam dan besok pagi nya masih harus kerja, jadi dia kenalin saya ke Patricia untuk ikut persekutuan dia di paroki Secret Heart yang jaraknya lebih deket dari rumah. Nah, dari situ saya kenal tante Iing dan Vincent juga yang kebetulan sama2 dari Indo. Patricia asalnya dari Singapore, orangnya seneng banget ngomong. Mungkin kalo saya anaknya pasti udah ngerasa "Ih bawel amat sih?" Tapi karena kami teman, mungkin ada batasan2 yang harus dia kontrol, mungkin lho. 

Karena kebawelan Patricia ini, saya jadi tau hampir semua cerita tentang dia. Terutama tentang mukjizat2 yang dia alamin. Keren banget deh kalo denger cerita dia. Banyak hal yang tadinya ga mungkin terjadi, eh cuma gara2 doa doank. Iya cuma "doa", langsung keadaan berubah 180 derajat. 

Anyway, Roman, suaminya yang ada di sebelahnya itu, adalah suami keduanya. Suami pertama nya meninggal beberapa tahun yang lalu. Roman berasal dari Polandia yang bekerja sebagai guru bahasa Polandia. Tapi saya lupa dia ngajarnya dimana, hehehe...

Suster Judith
Yang berikutnya diposisi kesembilan ada Suster Judith, suster yang ngurusin administratif dan tata cara pembabtisan Eog hari Minggu nanti. Kami sempet ngobrol2 sebentar yang ternyata suster Judith ini cukup unik orangnya. Dia sama sekali ga punya hasrat untuk jalan2. Apalagi setelah mendengar keponakannya yang pernah jalan2 ke Thailand bulan Mei lalu keracunan makanan di sana. Sampe sekarang keponakannya tersebut masih sering muntah dan sakit akibat keracunan makanan tersebut. Hal itu menambahkan list alasan bagi dia untuk menghindari yang namanya travelling.

Yang kesepuluh, Emaknya Eog sendiri. Tapi berhubung Emaknya baru datengnya besok pagi jadi fotonya belum di upload. Tapi si Emak dimasukin list dulu biar kagak lupa. Soal foto nanti akan saya update lagi. 

Terimakasih ya semua, atas kunjungan, doa dan kado2nya. Semuanya memberikan kebahagiaan tersendiri bagi kami. Cheers...

Selasa, 20 November 2012

Pendapatan Bersih Guilda


Berhubung semua kerjaan udah saya kelarin dan ga ada yang bisa saya kerjakan lagi selain mengkhayal dan membangun impian, saya penasaran dengan pendapatan Dean pemilik pabrik plastiK Guilda tempat saya bekerja sekarang. Pabrik ini termasuknya perusahaan berskala kecil karena melihat dari ukuran tempat, jumlah karyawannya yang hanya 7 orang, dan jumlah produksi yang masih di bawah 2 ton per hari.

Berikut ini penjelasannya, diharapkan untuk melihat pada gambar yang terlampir untuk mengetahui bagaimana perhitungannya dan dari mana angkatnya.


Saya mencoba menghitung berapakah pendapatannya per minggu. Saya mengambil contoh bulan lalu (Oktober 2012) dan saya mendapatkan angka kira2 42 ton plastic udah saya kirim pada bulan tersebut yang artinya kalau dikalikan dengan biaya pokoknya yang sebesar $5.56/kg saya mendapatkan angka $235,443.76 yang merupakan angka Harga Pokok dari produk yang terjual.

Rata2 harga pasar sebesar $9.73 saya dapat dari perkiraan yakni 75% lebih tinggi dari biaya pokok. Dan Pajak sebesar 50% juga merupakan perkiraan terbesar untuk pengurangan laba pabrik ini.

Sejujur-jujurnya, saya bener2 terkejut dengan sisa angka yang saya dapatkan setelah dipotong biaya2 yang ada. $14,829.94 merupakan perkiraan pendapatan bersih per minggu yang diperoleh dari pabrik kecil ini setelah dipotong biaya2 yang dibulatkan ke atas alias digede-gedein. Angka $14,829.94 saya dapatkan setelah dibagi dengan 50 untuk mendapatkan pendapatan mingguannya. Dalam 1 tahun sebenernya ada 52 minggu, tapi karena perusahaan ini libur 2 minggu tiap tahunnya pada saat menjelang natal sampai tahun baru, sehingga saya ambil hanya 50 minggu.

Memang perhitungan ini hanya perkiraan kasar dan belum tentu bener. Tapi saya menghitungnya dengan memperbesar segala biaya, terutama biaya akan pajak sebesar 50%. Setidaknya kalopun salah saya yakin angkanya pasti lebih besar dari yang saya dapatkan.

Melihat hitung2an ini dan hasil akhir nya bikin saya semakin penasaran dan antusias untuk bisa punya usaha sendiri dan segera passive income…

FIGHT FOR FREEDOM...!!!

Sabtu, 17 November 2012

Semesta Mendukung

Pengalaman dulu baca sebuah buku yang berjudul "The Secret" bikin merinding dan agak ga bisa dipercaya. Masa segala hal yang terjadi ataupun yang akan terjadi semuanya berawal dari pikiran. Intinya buku tersebut menyatakan bahwa pikiran kita itu seperti magnet yang akan menyerap kekuatan yang ada di alam semesta ini sehingga memampukan kita untuk mewujudkan apa yang kita pikirkan.

Intinya adalah tentang impian, bagaimana dan sejauh apa kita yakin impian kita dapat terwujud. Begitu pula dengan timing nya. Karenanya segala impian atau rencana hidup itu katanya harus jelas dan spesifik sehingga alam semesta ini mampu mendukung langkah dan arah yang harus kita capai.

Jujur aja, saya setengah percaya dengan teori nya Rhonda Byrne sang penulis, padahal saya jalanin bisnis MLM waktu itu dimana kekuatan impian adalah mesin penggerak dari bisnis tersebut. Walau setengah percaya dan sudah mendapatkan tuntunan yang jelas oleh upline (in charge di bisnis MLM) saya tetep coba jalanin dan lakukan teori tersebut, terutama mengenai mempunyai tujuan/impian yang jelas.

Akhirnya suatu hari saya memutuskan untuk membuat suatu resolusi yang ingin saya capai yakni memiliki penghasilan Rp 20.000.000 per bulan. Pada waktu menjalankan bisnis MLM, sebenernya kami para pemula di targetkan untuk mencapai tingkatan yang dianggap aman dan selalu menjadi sorotan bagi kami yang masih pemula dan yanbelum mengerti bisnis ini. Sebut saja tingkatan tersebut "Bintang 8" dengan potensi penghasilan Rp 40.000.000. Itu seperti mimpi buat saya mendapatkan penghasilan Rp 40 jt per bulan. Karenanya saya membuat resolusi setengahnya (Rp 20 jt per bulan) dengan menuliskan di sebuah kertas "Rp 20.000.000 per bulan", memfotonya, dan memasangnya di wall HP Nokia 3660. Rp 20 juta per bulan sangat sulit masuk ke akal sehat seoranmahasiswa miskin tapi setidaknya saya berusaha meyakinkan diri saya. Dengan menaruhnya di wall hp, setiap kali buka hp otomatis melihat tulisan tersebut. 

Kurang lebih 1 tahun saya mantengin tulisan tersebut seiring kalo mau buka hpApa yang terjadi setelah itu? Nothing. Bahkan 5 tahun berlalu pun penghasilan Rp 10 juta per bulan aja masih kaya mimpi. Tapi di otak ini masih terus nyantel tulisan itu "Rp 20.000.000 per bulan" dan terus berusaha mendapatkannya. Salah satunya saya mencoba ngelamar kerjaan di sebuah perusahaan minyak no. 1 dunia, tapi ga keterima.

Tapi apa yang terjadi di tahun-tahun berikutnya? Amat sangat ga bisa dipercaya. Semesta seolah-olah mendukung apa yang selama ini ada dalam alam bawah sadar saya. Saya resign dari kerjaan dan berangkat ke Australia. Penghasilan pertama di Ausie sebesar Rp 15 jutaan per bulan dan sudah mengalami peningkatan 4-5 kali hingga saat ini udah mencapai Rp 29 jutaan.

Belakangan saya baru melek dan sadar bahwa ternyata resolusi yang saya buat dulu itu ternyata kurang spesifik. Saya tidak menyebutkan kapan Rp 20 juta per bulan itu bisa diperoleh. Karenanya mungkin, ini pikiran saya... Mungkin Semesta bingung mo ngabulinnya kapan.


Jadi, berdasarkan pengalaman saya yang dulu itu saya membuat resolusi baru yang lebih SPESIFIK dan lebih GA MASUK AKAL. SPESIFIK, dengan menyebutkan bahwa saya mau income tersebut berasal dari passive income sehingga saya bisa melakukan apa yang saya impikan dan tidak terikat waktu. Saya juga menyebutkan kapan income  tersebut paling lambat harus tercapai sehingga semesta mengerti, paham, dan jelas akan target saya dan membukakan jalan ke arah tercapainya resolusi tersebut. GA MASUK AKAL, karena active income saya  sekarang adalah $143 sementara saya mengharapkan $500 dari passive income. Tapi berdasarkan pengalaman yang dulu Rp 20 juta per bulan aja sudah di luar akal sehat tapi itu bisa terwujud. Sejujurnya saya agak menyesal karena saya menganggap Rp 40 juta per bulan amat sangat tidak mungkin saya capai. Seandainya pada waktu itu saya membuat resolusi "Rp 40 juta per bulan" saya yakin sekali penghasilan saya saat ini adalah Rp 40.000.000 per bulan.

Karenanya berdasarkan pengalaman saya tersebut saya tidak mau pikiran saya terbelenggu oleh kemustahilan. Gara2 otak saya terlalu banyak berpikir logika dan mengabaikan kekuatan yang maha dasyat yang justru tidak mampu dijelaskan secara logika. Sehingga resolusi kali ini akan sangat membuat saya bergairah dan bersemangat menjalani hari2. Saya membayangkan kalau resolusi tersebut terwujud, WOW... Maaf, saya harus bilang "WOW", karena... OMG, bulu kuduk saya merinding. Semakin tidak masuk akal, semakin membuat bibir saya melengkung ke atas, karena saya begitu yakin bahwa kekuatan pikiran dan afirmasi akan membantu ketidak-masuk-akalan tersebut menjadi terwujud. 

Thanks to God who has created me in his own image (Kejadian 1: 26-27). Yang artinya sebenernya Tuhan menciptakan kita cukup powerfull yang menyerupaiNya hanya saja kita tidak percaya bahwa kita memiliki kekuatan tersebut. Bahkan Yesus mencoba meyakinkan kita sekali lagi bahwa seandainya saja kita punya iman sebesar biji sesawi, kita mampu memindahkan gunung (Matius 17: 20). Biji sesawi itu kecil banget, man, jadi kalo kita punya keyakinan sekecil apapun, maka apa yang ada dalam pikiran kita pasti bisa terwujud. Karenanya ada kata bijak yang bilang "Kata-katamu adalah doamu" karena melalui berkata-kata otak kita juga merespon hal yang sama, bahkan menggambarkannya lebih dulu apa yang ingin kita katakan. Jadi kalo kita serinberkata2 yang buruk biasanya hal buruk sering menimpa kita. Karenanya biasakanlah berbicara hal2 yang baik, salah satunya adalah memuji orang lain. Karena otak kita akan bekerja seperti magnet dan menyerap hal2 yang baik di dunia ini.

Selamat berjuang untuk diriku dan teman2 juga tentunya...