About Me:

Saya adalah seorang manusia gila yang terlalu banyak uneg-uneg & obsesi yang belom tercapai. Sebagian orang menilai saya adalah orang yang sedang mencari jati diri. Pernyataan tersebut hampir betul dikarenakan sedikitnya waktu bagi saya untuk menemukan apa yang saya benar2 inginkan dalam hidup ini. Tak ada ruang untuk berekspresi, berkreasi, dan menjadi gila di dunia yang naif ini. Alhasil, terciptalah saya sebagai pribadi yang terkesan eksplosif, dableg & sering keluar dari jalur. Kebahagiaan & kesenangan yang saya rasakan pun terkadang tidak pernah bisa dibagikan dengan orang lain, padahal Chistopher McCandless berpesan di akhir hayatnya: "Happiness only real when it shared". Untuk itulah blog ini tercipta, ga masalah orang2 yang baca mo menanggipnya atau tidak, ga masalah jika para pembacanya menjadi antipati atau termotivasi karena topiknya, yang penting saya sudah berbagi supaya ada sedikit cahaya kebahagiaan dalam hidup saya ini.

Minggu, 26 Januari 2014

Profil: Jeeps

Di profil kali ini saya mau menceritakan tentag seseorang yang saya wawancarai satu tahun yang lalu. Namanya Jeeps (bukan nama sebenarnya) dan saya mau menceritakan bagaimana dia bertahan hidup ketika dia belum tiba di Australia. Maaf saya tidak bisa memberikan nama asli karena Jeeps mengkhawatirkan permasalahan politik, imigrasi, dan keluarga serta anak2nya yang masih kecil yang belum tau cerita tentangnya.

Jeeps, seorang Sri Lanka yang lahir di tengah peperangan perebutan kekuasaan antara 2 suku yang menempati sebuah negara bernama Sri Lanka. Sebelum mulai bercerita tentang Jeeps saya merasa perlu mencritakan sejarah dari asal muasal peperangan tersebut dimulai supaya nantinya pas menceritakan tentang Jeeps lebih mudah dimengerti.

Sri Lanka adalah sebuah negara yang terletak di selatan India yang berbentuk sebuah pulau, mungkin luasnya sekitar 2x negara Singapura. Hanya terdapat 2 ras/suku yang menempati negara ini yakni Tamil dan Singalis. Tamil sebagai suku minoritas menempati daerah bagian utara. Dan Singalis yang mayoritas menempati bagian selatan.

Pada tahun 1948, Inggris selaku negara yang menjajah dan menguasai Sri Lanka ketika itu harus mengerahkan seluruh pasukannya dari seluruh dunia untuk kembali ke Inggris dan membantu mempertahankan negaranya sendiri yang dilanda Perang Dunia ke-2. Pemerintah kolonial Inggris berpesan kepada petinggi Sri Lanka agar sebaiknya Sri Lanka dibagi menjadi 2 negara saja karena di dalam negara ini terdapat 2 suku yang begitu kuat, kemungkinan dikemudian hari akan terjadi perebutan kekuasaan. Tapi mereka menolak tawaran tersebut dan sepakat dengan yakin bahwa mereka akan hidup rukun dan damai bersama sebagai satu kesatuan Sri Lanka.

Keyakinan tersebut ternyata hanya bertahan 8 tahun. Singalis yang merasa mayoritas dan mendominasi hampir setiap area Sri Lanka mulai berpikir untuk menyingkirkan Tamil yang dianggap bukan asli Sri Lanka. Karena ada banyak orang di luar Sri Lanka seperti di India, Nepal, dan negara2 sekitarnya yang merupakan keturunan ras Tamil sementara Singalis hanya ada di Sri Lanka. Singalis yang merasa suku pribumi Sri Lanka memulai agresinya dengan membantai banyak suku Tamil yang terlihat di depan mata, memperkosa setiap perempuan Tamil lalu membunuhnya. Usaha ini dilakukan untuk melenyapkan Tamil dari tanah Sri Lanka.

1967, Jeeps yang lahir di tengah keluarga petani yang memiliki ladang sendiri sebagai anak ke-3 atau anak laki2 pertama di keluarganya. Ia memiliki 7 saudara kandung tapi sayang kakak perempuannya yang no.2, yang hanya selisih 1 tahun lebih tua darinya harus mati bunuh diri akibat hal konyol, putus cinta, dengan meminum racun yang biasa digunakan ayahnya untuk membunuh hama tanaman.

1983, ketika Jeeps berumur 16 tahun ia memutuskan untuk bergabung dengan tentara Tamil untuk membela hak2 sukunya atas tanah Sri Lanka. Jeeps berangkat ke India Selatan dengan tujuan untuk mendapatkan pelatihan militer dari tentara India di kamp pengungsi yang disediakan oleh pemerintah India saat itu. Pemerintah India menyatakan sikap mereka akan membantu pihak Tamil untuk menciptakan perdamaian di Sri Lanka. (Tahun yang sama pula saya baru lahir, Jeeps malah udah perang2an, saya merasa sangat beruntung berada di posisi ini).

Selama 1,5 tahun Jeeps dilatih dengan keras dari rejim militer India dan setelah itu dia terlibat perang selama 5 tahun. Beberapa kali ia juga harus melakukan perjalanan bolak balik India - SL - India untuk menjemput para pengungsi dan para pemuda yang siap dilatih untuk berperang. Selain itu tujuan dari perjalanannya adalah mensuplai alat2 perang seperti senjata, peluru, bom, granat, dll, yang disuplai dari pemerintah india. Posisinya sebagai In-Charge pada waktu itu memberikan tanggung jawab yang cukup besar dimana usianya kira2 baru 23 tahun. Di usia yang sama saya malah lagi asik2nya menikmati situasi sebagai mahasiswa nasakom (nasib satu koma). Tidur larut malam, aktif di organisasi, mencari jati diri, nge-game sampe pagi, ngabisin duit ortu, dll. Sama2 berkutat di organisasi, hanya saja organisasi Jeeps adalah organisasi yang menyangkut hajat hidup orang banyak, harga diri dan hak2 kemanusiaan. Sementara organisasi saya hanyalah kelas cere yang berkutat seputar pengembangan kepribadian dan karakter. Itupun saya masih menggerutu dan sering tidak puas dengan dengan karakter teman yang berlawanan dengan saya. Setelah tau cerita Jeeps saya bener2 merasa sangat kecil, nothing, dan malu untuk menggerutu tentang hidup. Padahal bagi saya udah begitu berat tapi dibandingkan dengan Jeeps saya malah merasa menjadi orang yang cengeng dan pengecut terhadap masalah.

1987 masalah baru muncul, terjadi konflik antara sesama Tamil yang memperdebatkan siapa yang paling unggul diantara mereka hingga berujung terjadinya perang saudara. Kini sesama Tamil saling bunuh dan mereka pun diburu oleh Singalis. Jeeps shock dengan situasi itu dan bertekad dalam hatinya: "Saya harus keluar dari situasi suram ini. HARUS! Apapun kondisi dan situasinya akan saya hadapi demi kehidupan yang lebih baik." Lalu apakah kehidupan Jeeps berubah dalam waktu dekat? Tidak. Tidak dalam waktu dekat. Perjalanan dan masalah yang harus dia hadapi masih panjang dan berliku, tapi Jeeps begitu yakin sekali bahwa suatu saat nanti dia ga akan melihat perang atau mati di medan perang. Jeeps muda ketika itu sama sekali tidak menyadari ketika ia bertekad dan memimpikan kehidupan lebih baik ia sedang menuju arah itu.

Akibat masalah baru ini Jeeps memilih keluar dari Grup yang ia pimpin dan bersembunyi dari titik satu ke titik yang lain demi menghindari tentara Tamil dan India karena ketika itu Jeeps berada di base-kamp pelatihan militer Tamil di India. Makan apa yang bisa dimakan, sembunyi, mencari jalan di tengah hutan, bergerak di malam hari bersembunyi di siang hati menuju Sri Lanka. Dia berencana untuk bertemu dengan keluarganya yang tidak pernah dia temui sejak dia terlibat perang. Wow, waktu Jeeps ceritakan yang bagian ini saya agak terkejut. Artinya orang tuanya ga melihat perkembangan Jeeps. Artinya dari sejak umur belasan Jeeps udah lepas dari orang tuanya. Beda banget sama saya, malu banget nih.

Total ada 56 pemuda yang keluar dari grup militer Tamil sejak perang saudara tersebut. Mereka tidak mau membunuh saudara mereka sendiri dan memilih keluar. 55 pemuda lainnya berpencar mengungsi keluar India. Ada yang ke Jerman, Prancis, Kanada, Inggris. Tapi satu pemuda yakni Jeeps begitu merindukan keluarganya, dia memilih jalur ke selatan menuju Sri Lanka. Karena selain merindukan keluarganya Jeeps mendengar kabar bahwa perang telah usai, Sri Lanka menjadi lebih tenang dari sebelumnya sejak pasukan militer India mendarat di Sri Lanka dan mendamaikan peperangan Tamil-Singalis.

Setibanya Jeeps di Sri Lanka, bukan senyum ceria yang didapat melainkan dia justru melihat dengan mata kepalanya sendiri para tentara India menembaki warga sipil dan tentara Sri Lanka. Tak ayal ternyata info yang ia dapat bahwa tentara India yang datang ke Sri Lanka bukan untuk mendamaikan melainkan untuk menghabisi dan menumpas Tamil. Jeeps sangat terkejut dan kebingungan. Di tengah kerinduannya dengan keluarga ia memilih bersembunyi dulu dan mendapatkan kabar berita alasan kehadiran tentara India di Sri Lanka. 

Rajive Gandhi (masih keturunan Mahatma Gandhi), Pendana Mentri India ketika itu, dibunuh oleh pasukan mata2 Tamil dengan melakukan aksi bom bunuh diri ketika akan mengalungkan rangkaian bunga ke leher sang Pendana Mentri. Aksi tersebut dilakukan oleh seorang wanita Tamil yang sedang hamil besar. Sungguh di luar dugaan bahwa wanita tersebut adalah mata2 dan begitu berani mengorbankan diri dan cabang bayinya. Penyebab aksi pembunuhan Rajive Gandhi tersebut adalah karena sang PM dikabarkan menandatangani surat perjanjian dengan militer Singalis untuk tidak lagi membantu dan mensuport Tamil dan berjanji akan memihak Singalis.

Karenanya berita tersebut benar2 bikin pihak Tamil kegerahan dan panas. Tanpa basa basi untuk menanyakan mengapa atau merundingkannya terlebih dahulu, Bang...!!! Strategi Kamikaze langsung dijalankan dan sukses membunuh sang PM.

Kini semuanya masuk akal bagi Jeeps yang menyaksikan para Tamil dibantai oleh militer India yang awalnya mereka dipihak yang sama. Jeeps memutuskan kembali ke India dengan visa turis dengan tujuan untuk mendapatkan passport India dan migrasi ke Prancis melalui Belgia, jalur darat. Saya sempet menanyakan, kenapa ga langsung aja dari India ke Prancis? Jeeps menjawab bahwa tadinya memang bisa seperti itu, tapi dikarenakan udah terlalu banyak imigran yang masuk ke Prancis akhirnya pemerintah Prancis mengubah peraturannya dengan tujuan supaya pertambahan imigran tidak meledak dalam waktu singkat karena mereka kewalahan menampung dan menanggung hidup para imigran Sri Lanka.

Beginilah rencana Jeeps setelah mendapatkan passport India dengan menyogok petugas imigrasi India, berangkat ke Prancis dengan rute transit di Italia, turun di Belgia lalu membuang semua data diri, passport, KTP, dan identitas India lainnya supaya benar2 meyakinkan seperti orang Tamil dan masuk Prancis melalui jalur darat. Sialnya ketika mendarat di Belgia, Jeeps langsung digiring ke jalur pemberangkatan pesawat dan dikirim balik ke India. Ternyata rencana Jeeps gagal ketika petugas imigrasi di Italia mencurigai Jeeps yang memegang passport India ketika itu ingin masuk ke Prancis dengan berpura2 menjadi Tamil. Segera saja data diri Jeeps dicopy dan dibawa serta oleh pilot yang memberangkatkan pesawat Jeeps dari Italia ke Belgia.

Sesampainya di India, Jeeps langsung ditahan dan dipenjara. Selama 6 bulan ia mendekam di penjara India sampai akhirnya pamannya yang di Paris mendengar kabar tentangnya dan membayar uang jaminan sebesar Rs 1,000 (Seribu Rupee) yang setara dengan AU$ 10,000 (Rp 100 juta) sekarang.

Selepas keluar dari penjara, Jeeps mendengar kabar akan ada sebuah pertemuan besar bernama Don Bosco Conference yang rutin diadakan tiap tahunnya di Australia. Ketika itu pertemuan tersebut akan diadakan di Monash University yang akan dihadiri sekitar 2.000 orang. Langsung saja Jeeps segera menyiapkan dokumen2 yang dibutuhkan untuk kembali menyogok petugas India membuatkan paspor India lagi, mengajukan visa turis, dan mendaftarkan diri menjafi bagian dari peserta. Ketidak-jeraannya kali ini membuahkan hasil. 1988 Jeeps berhasil masuk Melbourne bersama 8 peserta ilegal lainnya dengan status peserta Don Bosco Conference.

1 peserta ada yang sempat dicurigai oleh petugas. Namun setelah dicek kebenaran akan berlangsungnya pertemuan tersebut dan hotel tempat mereka akan tinggal akhirnya diijinkan masuk Melbourne. 

Di hari yang sama mereka langsung meluncur ke Kantor Kedubes Sri Lanka, menjelaskan situasi mereka yang sebenarnya dan tujuan kedatangan merek, yakni untuk meminta perlindungan di Australia. Dalam bahasa lainnya mereka mau menetap di Ausi. Kedubes Sri Lanka pun menghubungkan mereka dengan pengacara setempat untuk membantu mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan. Pengacara tersebut langsung menghubungkan mereka dengan Kantor Imigrasi Australia yang mempunyai otoritas mengeluarkan Visa.

Singkat cerita setelah pertemuan mereka dengan Kedubes Sri Lanka, pengacara setempat dan pihak imigrasi Australia, mereka mendapatkan paspor dan Visa Turis dengan data diri mereka yang sebenarnya. Selang 2,5 bulan kemudian visa Temporary Resident dikeluarkan bagi mereka dan Jeeps diwajibkan tidak boleh meninggalkan Australia selama 1 tahun jika dia ingin mendapatkan Permanent Resident Visa.

Sekarang Jeeps sudah warga negara Australia, dan dia mempunyai keterbebanan hati untuk membantu orang2 Sri Lanka yang kesusahan di negaranya maupun yang sudah merapat ke Australia. Sayang, peraturan Australia kini sudah diganti. Mereka tidak bisa menerima imigran gelap yang datang melalui jalur apapun. Australia mulai menyetop pertambahan penduduknya yang dianggap kurang berkualitas dan tidak mempunyai nilai tambah karena tenaga kerja Australia sudah terlalu banyak sementara para pengusaha dan pembuka lapangan pekerjaan pertambahannya tidak signifikan.

Sekedar info, buat temen2 dari Indo yang nekat mau masuk Ausi tanpa visa, akan digiring langsung ke pengungsian imigran di Papuanugini (Papua Timur).

Sabtu, 04 Januari 2014

Asal Mula Kalender Gregorian

Untuk mengawali postingan awal tahun 2014 ini saya meng-copy artikel dari website tetangga. Karena menurut saya ini cukup informatif dan saya mau membacanya lagi dikemudian hari untuk me-refresh pengetahuan umum saya atau ada kemungkinan ini menjadi topik bahasan diantara teman2 jadi cukup mudah mencarinya dengan mempostingnya di blog sendiri ketimbang di facebook atau jejaring sosial yang lain.
 
 
SEJARAH KALENDER GREGORIAN

Saat ini kita sudah memasuki bulan pertama tahun 2014 menurut kalender Masehi, yang tidak lain adalah kalender Gregorian. Kalender Gregorian merupakan salah satu prestasi gemilang Gereja dan bukti bahwa Gereja tidak menentang atau bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Nah, bagaimana sejarah kalender yang paling menjadi acuan di seluruh dunia ini?

PERMASALAHAN

Sejak zaman prasejarah manusia membuat perhitungan waktu dengan memanfaatkan pergerakan benda-benda langit, terutama matahari dan bulan. Masalahnya, waktu perputaran matahari dan bulan ini berbeda. Beragam bangsa dan kebudayaan telah mencoba menciptakan kalender yang memasukkan baik perhitungan matahari maupun perhitungan bulan ke dalam sistem kalender mereka, namun hal ini tentu menjadi sebuah tantangan besar.

KALENDER JULIAN

Kalender pertama yang berhasil memecahkan masalah di atas adalah kalender Julian, yang diperkenalkan oleh Julius Caesar pada tahun 45 SM. Kalender ini diciptakan untuk menggantikan kalender Romawi lama yang berdasarkan pada perhitungan bulan dan makin lama makin tidak akurat. Kaisar Julius, dengan dibantu oleh ahli astronomi bernama Sosigenes, membuat kalender matahari dengan panjang bulan yang sama. Tahun Julian pertama dimulai pada tanggal 1 Januari 46 SM, bertepatan dengan ulang tahun ke-708 dari kota Roma.

Panjang rata-rata satu tahun kalender Julian adalah 365,25 hari. Setiap 4 tahun sekali, disisipkan satu hari kabisat untuk menjaga keharmonisan antara tahun kalender dan tahun ekuator. Kaisar Julius menetapkan bahwa bulan Januari, Maret, Mei, Juli, September, dan November memiliki 31 hari, sementara bulan lainnya 30 hari, kecuali Februari, yang pada tahun-tahun biasa memiliki 29 hari dan pada tahun kabisat memiliki 30 hari.

Penerus Kaisar Julius, yaitu Kaisar Augustus, dalam usahanya menyandingkan diri dengan sang pendahulu yang hebat, menambahkan 1 hari pada bulan Agustus, sehingga bulan Juli dan Agustus sama-sama berjumlah 31 hari. Tambahan 1 hari ini diambil dari bulan Februari. Dan untuk menghindari bulan berjumlah 31 hari berturut-turut, bulan September dan November dijadikan 30 hari, dan Oktober dan Desember menjadi 31 hari.

KEKELIRUAN KALENDER JULIAN

Kalender Julian menjadi kalender acuan yang digunakan sepanjang sejarah Kekaisaran Romawi. Gereja Katolik juga kemudian mengadopsinya sebagai acuan untuk kalender liturgi selama kurang-lebih 15 abad. Hari Raya Paskah ditempatkan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama yang pertama setelah ekuinoks musim semi (vernal equinox). Ekuinoks adalah waktu di mana orbit dan posisi sumbu bumi sedemikian rupa sehingga matahari melintasi pertengahan khatulistiwa persis; ini menyebabkan satu hari di mana panjang siang dan malam menjadi sama bagi belahan bumi utara maupun selatan. Ini juga adalah waktu di mana sumbu bumi berada tegak lurus. Ada 2 kali ekuinoks dalam setahun, yaitu ekuinoks musim semi pada bulan Maret (sekitar tanggal 20) dan ekuinoks musim gugur pada bulan September (sekitar tanggal 22).

Tentunya, perhitungan ekuinoks ini sangat penting, karena jika salah, maka Hari Raya Paskah dirayakan pada hari yang salah, dan keliru jugalah penempatan hari-hari raya Gereja lainnya.

Seiring waktu, tampaklah bahwa kalender Julian ini ternyata belum akurat. Satu tahun kalender Julian ternyata lebih panjang 11 menit dan 14 detik daripada yang seharusnya. Sehingga, setiap 130 tahun, hari ekuinoks mundur 1 hari. Sebagai contoh, saat kalender Julian pertama kali diperkenalkan, ekuinoks jatuh pada tanggal 25 Maret. Pada tahun 325 M saat Konsili Nikea, ekuinoks sudah mundur ke tanggal 21 Maret. Pada tahun 1500-an, ekuinoks sudah mundur sebanyak 10 hari.

Perbedaan 10 hari ini sangat penting tidak hanya bagi perayaan Gereja, namun juga bagi navigasi dan pertanian, sebab para nelayan, pedagang, dan petani menggantungkan mata pencaharian mereka pada perubahan musim.

GEREJA MENGAMBIL TINDAKAN

Pada akhir abad 15, petinggi-petinggi Gereja menyetujui bahwa kesalahan merayakan Hari Raya Paskah merupakan sebuah skandal. Seorang astronom dan doktor dari Italia, Luigi Lilius, mengusulkan sebuah solusi di mana 10 hari dihilangkan dari kalender, untuk memperbaiki kesalahan kalender Julian. Lilius mengusulkan agar koreksi ini dilakukan secara bertahap. Adik Lilius mempresentasikan teori ini kepada Paus Gregorius XIII.

Paus Gregorius XIII bertekad untuk menyelesaikan masalah kalender secara definitif. Maka setelah mendengarkan teori dari adik Lilius, Paus menugaskan Christoph Clavius, seorang imam Jesuit yang juga ahli matematika dan astronomi, untuk mulai melakukan riset. Ide-ide dasar dari Lilius digunakan, namun Clavius menyatakan bahwa pengurangan 10 hari tersebut harus diimplementasikan sepenuhnya sesegera mungkin, bukan bertahap. Hasil penelitian Clavius dipresentasikan kepada Paus dan kemudian diresmikan dalam surat Inter Gravissimus, tertanggal 24 Februari 1582.

KALENDER GREGORIAN

Kalender Gregorian diimplementasikan pada tanggal 4 Oktober 1582 menurut kalender Julian. Karena 10 hari dihilangkan dari kalender tersebut, maka tanggal 4 Oktober 1582 langsung diikuti dengan tanggal 15 Oktober 1582 menurut kalender Gregorian.

Sri Paus sebenarnya tidak pernah mewajibkan bangsa dan kerajaan manapun untuk menggunakan kalender yang baru ini. Namun, akurasi dan manfaat kalender Gregorian segera dirasakan, sehingga bangsa-bangsa lain dengan cepat meresmikan penggunaan kalender ini.

KALENDER GREGORIAN DAN GEREJA-GEREJA YANG TERPECAH

Kalender Gregorian tidak diterima secepat yang diharapkan, karena pada saat itu sudah terjadi Reformasi Protestan (tahun 1517) yang memecah belah Gereja. Banyak negara pusat gerakan Reformasi seperti Jerman dan Prussia yang menerima kalender ini dengan penuh kecurigaan. Dunia Protestan baru secara luas menerimanya sekitar tahun 1700-an.

Gereja Anglikan di Inggris juga awalnya menolak kalender baru karena dianggap sebagai bentuk misi Gereja Katolik. Maka selama 150 tahun, bangsa Inggris tertinggal 10-11 hari dalam perhitungan waktunya. Akibatnya mereka merayakan Tahun Baru bukan pada tanggal 1 Januari, melainkan 25 Maret. Kalender Gregorian baru diimplementasikan di Inggris pada tanggal 2 September 1752, dan hari berikutnya dinyatakan sebagai tanggal 14 September 1782.

Rusia, yang mayoritas umat Gereja Ortodoks, baru menerima kalender Gregorian sebagai kalender negara pada tahun 1917 setelah Revolusi Rusia. Sedangkan Gereja Ortodoks sendiri sampai sekarang masih menggunakan kalender Julian untuk perhitungan hari rayanya.

Jumat, 06 Desember 2013

Mount Macedon

Buat pendatang seperti saya di Ausi pasti ga akan sempat tau ada tempat wisata alam yang menarik di daerah barat Melbourne City. Bahkan orang2 lokalnya sekalipun saya ga yakin mereka tau karena tempatnya gratis dan kurang promosi. Saya pecinta gunung dan udara dingin dan Mt Macedon menjawab keinginan saya. Hanya saja untuk menikmati pemandangan awan harus diwaktu terik  jadi ga ada dingin-dinginan deh.

Ada banyak desa yang masuk dalam area Gunung Macedon ini dan kami secara random memilih Hanging Rock yang terletak diantara 2 desa yakni Newham dan Hesket. Di sini kami menemukan ada batu2 besar yang tumpang tindih akibat dari letusan magma gunung berapi. Katanya sih kejadiannya udah 6 juta tahun yang lalu jadi batu2 ini bisa jadi adalah saksi mata kehidupan dinosaurus.

Berlanjut ke Memorial Cross, spot berbeda dari Hanging Rock. Kira2 cuma 15 menit naik mobil dari Hanging Rock. Di tengah perjalanan ada banyak sapi2 yang berkeliaran sambil makan rumput dan tentunya hamparan hijau rumput dan gunung menghiasi jendela kaca mobil. Stres pun langsung hilang apalagi waktu hirup udara bersihnya, wuih... seger banget. Kagak bisa didapet di Jakarta ini mah. Tapi buat beberapa orang memang lebih memilih Mall ketimbang wisata alam. Jadi buat mereka pecinta Mall saya yakin artikel ini sih ga menarik.


Memorial Cross ini tempatnya ga ada yang istimewa, hanya saja pernah terjadi kebakaran hutan di sini dan menewaskan seorang pengunjung. Di Memorial Cross ini terdapat tugu salib besar yang menghadap ke lembah. Tugu salib ini didirikan oleh William Cameron tahun 1935 untuk mengenang anaknya yang meninggal di perang dunia pertama.

Ada yang menarik di tempat ini yang hanya memiliki satu jalan menuju salib besar. Waktu baru masuk dari gerbangnya, tempat ini hanya pohon2an tak terawat dan semak2nya pun cukup tinggi menghiasi pinggiran jalan setapak yang kami lewati. Seperti di hutan, terasa gersang dan panas. Tapi ketika masuk terus mendekati salib besarnya, ada banyak bunga berwana warni dan tanamanannya pun nampak terawat, terasa sejuk dan tenang.

Perjalanan kali ini sampe di sini dulu. Besok2 rencananya kami mau ke desa yang lain masih di seputar Gunung Macedon ini. Katanya sih ada spot kalo kita me-netral-kan mobil kita, ga lama setelah itu mobil kita bisa jalan sendiri dan nanjak ke atas. Bukan magic bukan sihir, ini udah barang tentu kerjaannya magnet bumi. Kan ada gunung berapi di sekitar situ. Ditambah lagi katanya sih posisinya pas diantara lempeng bumi. Jujur, ga ngerti saya soal ginian...







 

Sabtu, 23 November 2013

Pekerjaan Ketujuh

Tak lain dan tak bukan, alasan saya untuk mendapatkan pekerjaan ketimbang ngendon di rumah adalah uang. Waktu Eog anak saya sudah berumur 6 bulan dan kami merencanakan mertua saya untuk didatangkan ke Melbourne untuk ngurusin Eog, sejak itu saya mulai berpikir pengurusan Eog akan semakin mudah dan saya sendiri akan semakin banyak waktu luang. Selain berencana menghabiskan nya untuk hobi saya pun mulai ngelamar kerjaan casual part time sebagai waiter.

Kalo ada yang inget dengan postingan saya, dulu kami sempet punya kenalan di Melbourne ini selama setahun, namanya Reza. Kebetulan dia dulu waiter di Chilipadi cabang Watergarden. Tiap saban hari dia selalu punya cerita yang menarik dari tempat kerjanya. Dari sistem restorannya yang tertata cukup apik ditambah sang manager yang menurut Reza adalah tipe ideal dan sangat profesional. Nah di restoran yang sama inilah saya bekerja sekarang, Chilipadi Watergarden, Malaysian restaurant.

Kemampuan sang manager ketika dealing dengan customer yang komplen sangat memicu saya untuk mau tau dan belajar dari orangnya langsung. Ha3... ini dia kekuatan edifikasi, pengalaman dulu waktu jalanin MLM, kalo kita sering promosiin sesuatu terus2an, lama2 orang pasti tertarik (setidaknya jadi pengen ngebuktiin apa bener omongan nya tersebut).

Singkat cerita saya kasi CV saya langsung ke restonya dengan menyambanginya dan hanya perlu nunggu 1 minggu ditelpon untuk interview. Intinya saya diterima kerja dan ini adalah untuk kali pertamanya saya kerja jadi waiter. Biasanya kalo kerja di resto saya selalu jadi tukang cuci piring padahal apply nya waiter.

Setelah beberapa hari kerja saya baru sadar ternyata yang interveiw saya adalah pengganti sang manager yang diceritai Reza. Yang artinya si Manager udah ga bekerja di situ lagi. Aduh, sayang banget ga sempet belajar deh. Tapi mari dilihat dulu sang pengganti ini, apa yang bisa saya pelajari dari dia.

Singkat cerita kesimpulan saya tentang si pengganti manager (PM) ini adalah negatif. Dia hanyalah seorang yang beruntung di tengah banyaknya staff yang disponsorin oleh Chilipadi dan menjadi leader untuk semua waiter/waitress. Hanya butuh waktu 6 bulan bagi dia untuk dijadikan atasan semua waiter/waitress Chilipadi Watergarden. PM sangat kurang pengalaman menurut saya. Yang membedakan saya dengan dia adalah dia tau semua menu Chilipadi baik makanan maupun minuman. Tapi dari segi profesionalisme dan leadership saya merasa lebih unggul dari dia (sombong, uh!)

Saya menyadari perbedaan kami setelah 1 bulan kerja karenanya performance saya langsung merosot setelah itu dan PM semakin mempresure saya setelah dia tau saya menyukai pekerjaan waiter ini walaupun ini hanya pekerjaan sampingan. Dia tau saya mengerjakan setiap tugas yang dikasi dari dia dengan serius dan cepat. Dia pun sadar bahkan pernah bilang sendiri bahwa cara saya kerja keliatan berbeda, ga seperti mereka2 yang tujuannya cuma duit. Tapi pas saya minta naik gaji dia ga bisa mengabulkannya karena menurut dia saya belum sempurna, artinya masih ada cacat walaupun intensitasnya sangat kecil. Ini adalah syarat yang konyol menurut saya karena ga ada manusia yang sempurna.

Menurut pengalaman saya sehebat2nya, sejago2nya orang kerja, bahkan walaupun dia udah bertahun2 ngerjain kerjaan yang sama, saya yakin dia pasti ngelakuin kesalahan juga. Ga usah si PM ini, bahkan head chef nya aja pernah salah bikin makanan. Yang diorder sama yang dibikin beda. Apalagi si PM ini yang masih anak bawang. Udah gitu dia nuntut saya untuk sempurna tapi gajinya sama seperti staff yang baru masuk, kan konyol banget, nget, nget...

PM juga melakukan bullying menurut saya karena dia selalu memaksa saya bekerja tanpa menanyakan kesanggupan saya. PM juga melarang saya untuk ngemil atau makan apapun di jam kerja tapi PM dan istrinya (waitress juga) melakukan kebalikan yang dia suruh ke saya. PM, istrinya, dan beberapa staff lain yang bisa berbahasa Hindi, seringkali berkomunikasi dengan bahasa Hindi tanpa memperdulikan orang di sekitar mereka. PM yang lulusan Hospitality di Melbourne harusnya mengerti bahwa ini sikap yang tidak profesional. Saya sempat komplain tentang keharusan untuk berbahasa inggris selama jam kerja tapi hanya di 'iya' kan tanpa ada perubahan sedikit pun.

Intinya, di sini saya belajar untuk rendah hati walaupun atasan saya lebih 'kecil' dari saya. Saya pun belajar untuk menghargai perbedaan disaat saya mendengar nama saya disebut ketika mereka ngobrol pake bahasa Hindi. Jujur aja, sangat sulit untuk melakukannya tapi saya yakin ketika saya ada di posisi puncak saya harus memiliki karakter itu. Karenanya saya harus bertahan karena saya yakin betul suatu hari nanti saya akan memimpin ratusan orang dengan karakter dan pengalaman yang saya miliki. Kalo saya belum memiliki karakter pemimpin yang baik, berjiwa besar, pantang menyerah alias belum layak menginjakkan kaki di posisi puncak itu, bagaimana mungkin ada sekelompok orang yang mau saya pimpin. Alam semesta (baca:Tuhan) pun ga akan kasi kesemoatan itu karena DIA tau saya ga akan bisa menaggung bebannya.

Jadi saya cuma percaya bahwa apapun yang terjadi dalam hidup saya baik itu masalah keluarga, keuangan, maupun kerjaan, semuanya baik adanya untuk men-training saya menjadi manusia berkualitas. Karena itu sudah terjadi dalam hidup saya, melihat pencapaian2 hidup yang sudah saya gapai sampai di titik ini.

Sangat sulit untuk menjadi 'besar', tapi bukan berarti tidak mungkin...

Selasa, 24 September 2013

Melbourne Aquarium

Kali ini saya mau nge-review jalan2 ke suatu tempat yang udah lama mau dijambangin tapi selalu ga jadi  karena tiketnya yang mahal (menurut standar saya yang pelit ngirit). Dan kali ini berhubung Eog ulang tahun ke-1 sepertinya jadi ada momen khusus untuk untuk ngerayainnya dan kami memutuskan untuk ke situ. Nama tempatnya adalah Melbourne Sea Life Aquarium, atau orang2 Melbourne biasa menyebutnya cukup Melbourne Aquarium. Letaknya ada di ujung jalan antara Flinder Street dan King Street. 

Dari namanya udah barang tentu tempet ini seputar-putar ikan, laut dan lainnya. Kalo di Jakarta kita punya Sea World tapi saya belom pernah ke sana sama sekali jadi ga tau mana yang lebih bagus. Dan kalo dibandingkan dengan Melbourne Zoo, tempat ini termasuknya mahal karena selain harganya yang lebih tinggi dari Melbourne Zoo, tempatnya pun lebih kecil. Dulu waktu pertama kali ke Melbourne Zoo, saya dan Kristina ga sempet ngeliat semua binatangnya tau2 udah sore dan mau tutup. Tapi Melbourne Aquarium ini, kami sampe muterin 2x aja masih ada sisa 1 jam lagi menjelang tempetnya tutup.

Harga tiket masuknya sebesar $38 per orang dewasa. Untuk anak2 saya ga tau berapa tapi mereka yang dibawah 4 tahun terhitung gratis. Selain melihat2 ikan, bintang laut dan sejenisnya, ada beberapa acara yang bisa kita ikuti seperti presentasi dari petugasnya yang sangat informatif tentang hewan2 laut pada masing2 spot.

Misalnya saja di tempat bintang laut sebagai spot pertama yang dapat kita jambangi ketika pertama kali masuk. Kita diajarkan cara yang benar untuk meraba bintang laut, yakni jangan diangkat melewati batas air karena bintang laut tak bisa hidup sekejap saja tanpa air. Atau di tempet lainnya di aquarium paling besar dimana terdapat ikan hiu nya di sana. Pada jam tertentu ada petugas yang bertugas menjelaskan seperti apa tindak tandauk ikan predator ini.

Di spot2 berikutnya setelah bintang laut, ada banyak ikan2 yang saya belom pernah liat. Tentunya yang bikin menarik dari ikan air laut adalah warna warni dari ikan tersebut dan bentuknya yang lucu2. Ada banyak sekali ikan2 unik selain dari ikan badut yang terkenal sebagai “Nemo”. Ini dia yang dinamakan kekuatan brand marketing ketika semua orang memanggilnya bukan lagi Clown Fish tapi Nemo. Sama seperti Odol, Indomie, Chiki yang harusnya namanya pasta gigi, mi instan, dan camilan.

Di spot aquarium yang terdapat ikan hiunya ada satu pajangan sebuah kaca transparan dengan ketebalan kurang lebih 1½ jengkal tangan saya. Kaca tersebut mau menjelaskan bahwa setebal itulah kaca aquarium yang ada di sekitar kami waktu itu. Dengan ketebalan tersebut mempengaruhi daya visual kita dimana ukuran ikan atau hewan2 lainnya yang berada di aquarium tersebut lebih kecil 1/3 kali dibanding ukuran aslinya. Jadi bisa kebayang deh waktu itu ngeliat ikan hiu yang gedenya segede orang. Atau ikan pari yang lebarnya seawang-awang.

Dari semua ikan2 ini kalo ditanya nama ikannya apa aja? Sejujurnya saya melewati bagian itu karena percuma saja mengingatnya karena nanti pasti lupa juga. saya tipe orang visual dimana lebih mudah mengingat bentuk, warna, dan situasi daripada harus mengingat nama yang bagi saya harus menguras kalori 3x lipat untuk memompa nutrisi ke otak supaya ingat yang akhirnya pasti lupa juga. Kalo nonton film aja saya lebih inget jalan ceritanya ketimbang judul film, nama peran, atau nama artisnya.

Ada beberapa ikan yang cukup unik menurut saya. Saya lupa nama ikannya tapi ikan ini pernah saya liat waktu saya jalan2 ke Pontianak beberapa bulan lalu. Ikan ini bisa jalan ke darat dengan menggunakan siripnya sebagai kaki untuk mendaki ke darat. Uniknya mereka bisa bernafas dan berdiam cukup lama di darat padahal mereka ini hewan laut. Ada juga ikan yang memiliki wajah seperti orang. Ya, menurut saya sih seperti orang ya karena saya ngerasanya kaya pernah liat orang yang mukanya kaya gitu, hehehe...

Udah pernah liat belom ikan yang berenangnya berdiri tegak lurus? Saya aja baru sadar kalo ikan ini ternyata unik. Di liat sekilas waktu itu mah biasa aja, tapi pas liat2 fotonya lagi, lho, kok ini ikan apaan? Baru tau saya kalo ada ikan yang berengnya tegak lurus, mencuat-cuat ke atas.

Di akhir kunjungan hewan terakhir yang kami lihat adalah Pinguin. Lucunya saya baru tahu kalo Pinguin itu ternyata bertelor waktu saya liat ada yang lagi ngeremin telornya. Dan saya baru sadar kalo Pinguin itu kan termasuknya spesies burung bukan ikan. Lucunya lagi saya baru tau juga nih, ternyata yang ngeremin telornya itu adalah pinguin jantan sementara yang betina bertugas bertelor dan mencari makan.

Dari semua kunjungan tempat favorit saya adalah spot kuda laut. Hewan unik ini memang ga ada abisnya deh. Ternyata bentuknya ga Cuma yang normal2 itu aja yang sering ada di tipi dan film2 kartun. Ternyata kuda laut ada yang versinya mirip batang pohon dan rumput laut. Uniknya hewan ini adalah si jantan lah yang mengandung dan melahirkan anak2nya dalam jumlah puluhan dalam sekali melahirkan.

Sekian cerita jalan2 kali ini. Dari penilaian saya tempet ini cukup bagus dan informatif buat anak2 dan orang tua seperti saya yang kurang informasi perihal hewan.





Selasa, 20 Agustus 2013

SIM Australia

Pic from here
Buat orang Indo seperti saya yang biasa tinggal di Indo dengan mudahnya untuk urusan SIM bisa didapat dengan cepat, ga sampe Rp 1 juta SIM udah keluar dan polisi ga ambil pusing kita bisa nyetir apa nggak yang penting uang udah masuk ke kantong mereka. Lain negara lain pula aturan yang diterapkan di lapangan. Sebenernya peraturan Indo dan Ausi ga jauh beda lah, rambu lalu lintas nya pun sama, hanya saja pemerintah nya aja yang ga mau ngikutin aturan sehingga menciptakan rakyat seperti saya ini yang giliran ketemu aturan malah jadi frustasi waktu mengajukan SIM Ausi. Sistem dan budayanya memaksa manusia2 yang tinggal di benua ini untuk tunduk pada peraturan dan sogok menyogok bukanlah sebuah kebiasaan di sini. Karena bukan kebiasaan otomatis yang melakukan pun sedikit, jadi kalo ketawan ada petugas yang menerima sogokan, dijamin, kerjaannya ga aman lagi, seumur hidup pun akan susah cari kerja karena namanya udah tercoreng.

Untuk bisa nyetir mobil di Ausi, kita harus mempunyai SIM yang layak. Ada beberapa tahap yang harus dilewati bagi mereka yang belum punya SIM Ausi. Tahap pertama adalah Learner (Pemula), dimana si calon pengemudi diharuskan lulus tes dengan menjawab pertanyaan2 yang diajukan di komputer Victoria Road (Instansi yang mengatur segala hal yang berkaitan dengan lalu lintas di negara bagian Victoria), kalo di Indo mungkin namanya Ditlantas, tapi Ditlantas ga ngurus pembuatan SIM. Lalu polisi di sini kerjanya ngapain? Di sini polisi urusannya berkaitan dengan kriminal dan pelanggar aturan, misal razia SIM dan kadar alkohol pengemudi, atau bikin SKCK tanpa dipungut bayaran.

Ngomongin bikin SKCK, dulu saya sempet lagi ngantri mo bikin SKCK. 2 Orang di depan saya yang sedang dilayani meyakinkan saya kalo dia orang Indo karena dari aksen bahasa Inggrisnya dan passpor nya yang berwarna hijau bergambar garuda. Bikin SKCK harus bawa passport karena polisi akan cek nama kita di sistem pemerintahan nya apakah orang ini berkaitan dengan kriminal atau nggak, contohnya visanya udah kadaluarsa, alias ilegal. Setelah dilayani dan membereskan berkas2nya, pria tersebut terlibat komunikasi dengan sang polisi:
Pria        : Berapa semuanya?
Polisi      : Berapa? Maksudnya?
Pria        : Ini semua, stempel, dsb...
Polisi      : Ga perlu, gratis.
Pria        : Gratis??? (keheranan)

Hahahaha, ga usah si mas itu, saya aja waktu pertama kali heran di sini banyak nemu hal2 yang gratis yang kalo di Indo malah di suruh bayar. Contoh aja masuk Royal Botanical Garden yang suasananya kira2 kaya Kebun Raya Bogor tapi versi 2-3x lebih bagus, gratis.

Ok, balik lagi ke cerita tentang SIM. Jadi sejak Oktober 2012 saya sudah berhasil mendapatkan SIM L untuk pemula hanya dalam sekali tes dengan membayar $50 (kalo ga salah). Nilai saya waktu itu 84% dimana syarat minimum kelulusan adalah 75%. Tiap hari saya latihan dari link yang udah disediakan oleh VicRoad di sini: http://webapps.vicroads.vic.gov.au/vrne/vrlpq.nsf/start?OpenForm dimana pertanyaan yang keluar di waktu ujian 95% persis. Jadi lebih efektif belajar dengan menjawab pertanyaan dari pada belajar dari buku manual yang dijual oleh VicRoad atau bisa download dari internet. Inti dari tes ini adalah kita para kontestan SIM L diajak untuk belajar rambu2 dan peraturan lalu lintas Australia. 98% peraturannya sama kaya di Indo, hanya saja karena orang Indo ga biasa mentaati rambu2 jadi seringnya ga tau maksud/arti dari rambu yang bersangkutan.

Menurut peraturannya dengan SIM L tersebut kita diharapkan belajar praktek menyetir mobil sambil memanfaatkan pengetahuan tentang rambu2 dan peraturan2 lalu lintas yang sudah kita ketahui setidaknya 3 bulan. Dengan SIM L tersebut kita dilarang menyetir mobil sendirian. Harus ada yang mendampingi kita pada saat pemegang SIM L berada di belakang kemudi. Siapakah yang layak mendampingi pengemudi SIM L? Mereka yang memiliki SIM Full (akan saya jelaskan SIM Full di belakang).

Setelah mendapatkan SIM L saya memutuskan untuk membeli mobil sekalian untuk latihan sendiri, belanja, bawa Eog, anak saya, ke Klinik untuk imunisasi, serta urusan2 lainnya. Lho, tadi bilangnya kalo yang memegang SIM L harus didampingi oleh pemegang SIM Full sementara saya yang mendampingi adalah istri kadang malah sendirian. Istri saya ga bisa nyetir yang artinya SIM pun tak ada. Kalo ketemu polisi udah barang tentulah saya akan ditilang denger2 sekitar $200 dan saya ga bisa bikin SIM P selama setahun kedepan. 28 tahun tinggal di Indo sulit sekali menghilangkan budaya melanggar peraturan. Rasanya kalo ga melanggar aturan itu kok ga mirip orang orang Indo, kurang “Nasionalis” rasanya, hehehe (ngeles aja lu ter!).

3 Bulan berlalu dengan belajar nyetir sendiri meyakinkan saya untuk mendaftarkan diri untuk tes SIM P. P yang merupakan singkatan dari Probationary yang artinya kurang lebih “masa percobaan”, memiliki 2 macam warna P Hijau dan P Merah. P Hijau diperuntukan bagi mereka yang berumur lebih dari 25 tahun sementara P Merah diperuntukan bagi mereka yang berumur 25 tahun atau lebih muda. Mereka pemegang P Merah harus melewati 120 jam menyetir tanpa melakukan pelanggaran setelah itu barulah mereka bisa mendapatkan P Hijau yang harus dipegang selama 3 tahun tanpa melakukan pelanggaran. Jika melakukan pelanggaran dan terkena tilang, maka “masa percobaan” nya akan semakin lama. Kenapa P Merah harus melewati 120 jam menyetir terlebih dahulu? Ini ada kaitannya dengan budaya. Di Australia budaya minum alkohol dan mabuk sudah menjadi hal biasa. Walaupun budaya, tapi pemerintah tetap mengutamakan keselamatan sehingga mereka yang memiliki kadar alkohol dilarang untuk dibelakang kemudi. Kecenderungan mereka yang melanggar aturan alkohol adalah mereka yang berumur 25 tahun ke bawah, karenanya 120 jam tersebut harus dilewati terlebih dahulu untuk mendapatkan P Hijau. Selama memegang SIM P, baik P Hijau maupun P Merah, si pengemudi wajib menempelkan stiker/plat pada mobil nya bertuliskan “P” pada plat berwarna hijau (untuk P Hijau) atau merah (untuk P Merah).

Setelah 3 tahun memegang P Hijau, barulah SIM Full (Full Lisence) bisa didapatkan. SIM Full inilah yang saya maksudkan sebelumnya yakni pengemudi yang diperbolehkan untuk mendampingi mereka yang baru belajar menyetir. Lalu apakah dengan SIM Full ini anda serta merta bebas dari pengawasan? Tentu saja tidak. Pemegang SIM Full bisa mendapatkan penalti dengan penarikan SIM apabila melakukan pelanggaran yang dinilai terlalu berat, salah satunya adalah mengemudi setelah menenggak minuman keras. Ancaman tidak boleh menyetir (karena SIM telah dicabut) adalah ancaman yang sangat memberatkan karena Australia bukanlah negara yang padat penduduk sehingga banyak daerah2 yang berpenghuni atau tempat bekerja yang belum terjamah oleh transportasi umum.

Bisa dibayangkan jika Indonesia menjiplak sistem ini dalam hal untuk mendapatkan SIM, dijamin penataan lalu lintas lebih teratur, pengemudi pun jauh lebih tertib. Karena sulitnya untuk mendapatkan SIM Full ditambah lagi waktu yang cukup panjang (3 tahun) untuk membuat para pemegang SIM P memiliki kebiasaan mentaati peraturan. Bisa dibayangkan efek jangka panjangnya, terutama bagi kota besar seperti Jakarta, sistem ini akan amat sangat berperan besar menjadikan Jakarta kota yang tertib. Tapi apakah semudah itu diterapkan? Hmmm, tentu saja tidak. Sistem ini harus didukung oleh pihak2 yang mau bekerjasama untuk bersikap jujur dan jauh dari korupsi terutama instansi kepolisian sebagai badan yang menerbitkan SIM.

Dan satu hal lagi, warga Australia tidak mempunya KTP, mereka menggukan SIM sebagai kartu identitas mereka. Alamat yang tertera di SIM harus benar karena jika tidak SIM tersebut akan dicabut. Jadi kalo Indonesia menduplikasi sistem ini,  2 aspek langsung terselesaikan. Data kependudukan dan tata tertib lalu lintas. Ada baiknya sistem ini diterapkan di kota kecil terlebih dahulu, setelah itu barulah kota2 di sekitarnya menduplikasi. Lambat laun, pastilah Indonesia memiliki penduduk yang bermoral dan beretika, terutama ketika menyetir.


Harapan tinggal harapan, jika kita hanya bisa berharap dan tidak melakukan tindakan...

Sabtu, 08 Juni 2013

Yang Beda di Pontianak

Ada beberapa hak unik di Pontianak ini selain suhu udaranya yang lebih panas (karena dilewati garis Khatulistiwa) juga memiliki kebiasaan2 yang menurut saya berbeda dengan kebiasaan penduduk di kota besar seperti Jakarta. Berikut ini hal2 unik tersebut, silahkan disimak:

1. Minum Air Hujan
Para penduduk di Pontianak memiliki kebiasaan meminum air hujan dengan membuat semacam talang sepanjang tepi atap rumah sehingga air yang jatuh mengalir dari atap langsung jatuh ke talang tersebut dan mengarah ke satu lubang yang dipasang pipa untuk mengaliri air hujan tersebut ke bawah dan ditampung di drum. Jika hujan turun setelah beberapa hari ga hujan, mereka ga akan menampung air tersebut karena selain membawa kotoran dari atap, rasanya pun ga enak. Jadi mereka akan membuang air hujan di hari pertama. Hujan hari kedua mulai dicicipi. Bila rasanya masih ga enak akan dibiarkan terbuang lagi. Begitu seterusnya sampai mendapatkan rasanya sesuai untuk layak diminum.

2. Kafe Apung
Mungkin kita pernah denger ada yang namanya pasar apung di Banjarmasin atau sekitarnya, pertemuan panjual dan pembeli di sungai untuk melakukan transaksi dari atas perahu. Lain halnya dengan Pontianak. Penduduk kota ini cukup kreatif menerapkan aspek kehidupan ke dalam bisnis restoran. Kini ada yang namanya kafe apung. Dengan bermodalkan sebuah perahu, seorang penjaja minuman/makanan sudah bisa berbisnis kafe kecil2an. Jangan bayangkan kafe berkelas seperti Starbuck atau Coffee Bean. Kafe apung ini mirip2 seperti warung kaki lima yang menjajakan roti bakar, mi instan, kopi, teh, susu, dan minuman2 lainnya. Kalo di Yogya warung seperti ini disebut warung Burjo (bubur kacang ijo). Tapi di Jakarta saya ga tau apa ada nama khusus untuk warung kaki lima jenis ini.

3. Tukang Parkir 
Pernah mencoba parkir motor di pinggir jalan Jakarta atau sekitarnya? Atau pernahkah anda mencoba parkir Valet seperti di mall2 ketika anda membawa mobil? Saya merasakan perbedaan yang jauh dalam hal pelayanan parkir di Pontianak ini. Anda para pengendara motor jika ingin memarkir motor anda di tepi jalan Pontianak, anda bisa sesuka hati menaruh motor anda dimana pun asal jangan dikunci stang. Tukang parkir yang melihat anda akan segera membereskan motornya. Mereka yang akan merapikan dan meletakkan motor anda pada tempatnya. Ketika anda sudah selesai dan mau pulang tinggal tunjuk motor anda atau kalo anda ga tau tempetnya anda tinggal sebut plat nomornya, ga lama motor anda sudah di depan anda tanpa harus bersusah payang mengeluarkannya sendiri yang mungkin beresiko menyenggol motor lain. Mereka para tukang parkir ini diupahi Rp 1.000 per sekali parkir tapi mereka bener2 bekerja. Ga kaya di Jakarta/sekitarnya, tukang parkir kerjanya cuma duduk2 atau tunjuk2 posisi kosong ke orang yang mau parkir. Yang masukin, ngatur posisi dan ngeluarin motornya ya tetep kita. Jadi apa kerjanya tukang parkir Jakarta itu? Menurut saya pribadi sih ga ada kerjaannya, ga ada fungsinya. Mereka hanya para pemalas yang ingin uang tapi tapi ga mau berusaha.

4. Jalan Gajah Mada
Nama jalan Gajah Mada ini sangat dikenal oleh masyarakat Pontianak karena jalan ini termasuk jalan besar dan ramai sekali dihuni oleh toko2, hotel, bakery, kafe sampe gereja. Sangkin terkenalnya jalan Gajah Mada ini seolah2 seperti jalan Malioboro yang dimiliki oleh Yogyakarta. Jalan Gajah Mada ini dikenal dengan wisata kulinernya yang dijajakan oleh para pedagang kaki lima yang membuka lapak mereka setelah menunggu ruko2 di sepanjang jalan tersebut tutup. Jakarta punya jalan yang mirip sekali dengan Jalan Gajah Mada ini, namanya Jalan Mangga Besar dimana situasinya mirip sekali. Sepanjang malam mulai sore hingga pagi hari (pk. 01.00) orang2 ramai mencari makan di jalan ini. Budaya nongkrong sambil gosip di pinggir jalan bukan lagi milik ibu2 rumah tangga lagi melainkan para laki2, dari bapak2 sampe anak2 muda kini mulai menyukai aktivitas ibu2 tersebut.

Kuliner di Pontianak

Kota yang dihuni oleh mayoritas suku Dayak ini memiliki beberapa hal yang unik perihal kaitannya dengan kuliner. Berikut ini hal unik tersebut:

Nasi goreng Iin
1. Rumah Makan Iin
Rumah makan yang interiornya terlihat biasa saja tapi yang makan ga pernah berhenti ini bikin saya penasaran untuk mencicipi seperti apa rasa masakannya. Beralamat di jalan Johar 65, Pontianak menghargai sepiring nasi gorengnya seharga Rp 9.000. Tak pelak membuat saya semakin heran setelah mendengar cerita dari adik saya yang udah sering mondar mandir Pontianak, ternyata rumah makan ini hanya menyajikan satu menu masakan saja, yaitu nasi goreng. Seperti apa rasanya? Hmm, tak perlu menunggu 3 menit satu porsi nasi goreng tiba2 sudah diantar ke meja saya. Gila, cepet banget. Digoreng atau disembayangin tuh nasi saya. Tak ada yang istimewa dari rasa maupun penyajian. Nasi goreng dengan taburan irisan ayam goreng di atasnya dan sedikit potongan ketimun di pinggirnya tidak bisa membuat saya membelalakkan mata dan mengatakan ini enak. Nasi goreng tek tek yang dijajakan dengan gerobak di Jakarta masih jauh lebih enak ketimbang nasi goreng Iin ini. Adik saya bilang jangan2 Iin ini pake "pemanis" makanya larisnya menggila. Bahkan Siska, adik ipar saya sempat menakut-nakuti dengan wajah serius kalo yang jual tuh bikinnya pake celana dalam. Wah dalam hati saya sempat ngeri mendengar pernyataan itu. Tapi ga lama saya mikir lagi kalo yang bikin nasi goreng sepanjang hari ga pake celana dalam, pasti dia udah masuk rumah sakit karena Hernia (read: burut, biji testisnya besar sebelah). Jadi udah barang tentulah dia pakai celana dalam. Yang membuat nasi goreng Iin ini terasa enak hanyalah sambalnya. Buat mereka pecinta pedas siap2 saja dipuaskan oleh sambal Iin. Baru taruh sedikit saja rasa pedasnya sudah menggelegar, mantap dah. Score 60/100 (60 dari 100)


Tau Swan
2. Tau Swan
Saya menemukan makanan ini ketika berjalan2 di jalan Gajah Mada yang dikenal sebagai jalan kuliner di Pontianak yang dijajakan oleh pedagang kaki lima. Tau Swan yang termasuk kelas Entreè (makanan pembuka) ini terbuat dari kacang kedelai, tepung beras, dan gula. Tepung beras dilarutkan dalam air bersamaan dengan gula dan kacang kedelai yang sudah direbus, lalu aduk hingga mengental seperti sup. Penyajiannya pun cukup sederhana. Hanya dengan menabur kerupuk tepung beras di atas semangkuk sup Tau Swan panas. Semangkok sup dihargai sebesar Rp 6.000. Kalau melihat dari komposisinya menurut saya Tau Swan ini bisa disebut dengan Sup Kacang Kedelai. Mungkin bagi mereka pecinta sup akan mengatakan Tau Swan ini enak. Tapi karena saya ga sup menjadi tidak objektif dalam penilaian. Jadi saya ga bisa kasi nilai.

Kokue goreng
3. Kokue Goreng
Sulit untuk menggambarkan seperti apa Kokue ini. Mungkin lebih mirip dengan Kwetiau goreng karena terdapat tepung seperti Kwetiau. Sekedar info buat yang belom tau, Kwetiau terbuat dari tepung beras bukan tepung terigu. Hanya saja kalau pada Kokue tepung berasnya lebih tebal 2-3x dan panjangnya hanya kira2 3-5 cm. Sementara Kwetiau dibuat panjang2 seperti mi. Selain tepung, kandungan lainnya dalam satu porsi adalah kucai dan talas. Semua disajikan jadi satu piring kecil dengan digoreng bersama2 terlebih dahulu. Soal rasa saya kurang puas karena ga gurih sama sekali. Mungkin karena saya mencicipi yang kelas pinggiran kali ya. Mungkin kalo yang di restoran rasanya lebih enak dan gurih. Harga satu porsinya Rp 9.000. Score 60/100, karena menurut saya dengan kecilnya porsi dan rasa terlalu mahal untuk dihargai Rp 9.000.

Kwecap plus kulit babi
4. Kwecap
Makanan satu ini ga bisa dibilang halal karena mengandung babi yakni kulitnya. Sekali lagi menu Pontianak berikut ini memakai tepung beras. Lagi2 tepung beras. Sepertinya tepung beras menjadi bahan favorit dalam kreasi masakan Pontianak. Untuk Kwecap, tepung berasnya dibikin tipis2 dan dibentuk berukuran segi empat seperti kulit pangsit. Kalo kulit pangsit dari tepung terigu kalo Kwecap dari tepung beras. Penyajiannya pun sederhana juga, Kwecap nya disiram dengan kuah kaldu sementara kulit babi yang saya ceritakan di sebelumnya hanyalah kreasi tambahan dari penjualnya. Mungkin kalo mo diganti kulit sapi, jeroan, atau ayam, masih masuk akal kok. Tapi kembali lagi ke budaya Pontianaknya apakah kulit babi itu memang bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan Kwecap? Saya tidak tau. Score 70/100, karena walaupun saya kurang suka menu sup tapi rasa kuahnya berkaldu, cukup gurih. Semoga aja gurihnya memang berasal dari kaldu asli bukan dari kaldu rasa sasetan yang dijual di pasar.

Apam
5. Apam
Nah lho, apa lagi nih? Jujur aja saya belom mencicipi seperti apa rasanya. Karena perut udah menggembung, sixpack pun ber-revolusi menjadi zeropack, ga bisa nampung lagi. Sementara di sisi lain saya ga punya waktu lagi untuk mencicipi semuanya karena jadwal yang padat di Pontianak ini. Alhasil hanya ambil gambar lalu liat2 seperti apa bentuknya. Apam ini mirip sekali dengan martabak. Cara buatnya, loyangnya, garnisnya. Ada kacang/coklat, keju/coklat, pokoknya mirip2 sama martabak. Saya sempat berlogika, jangan Apam ini mirip kue Apem karena namanya yang hampir mirip. Mungkin kalo di Pontianak kue apem ini ada isinya seperti kacang, coklat, keju. Tapi itu hanya khayalan logika saya dan saya pun ga berani bilang kalo rasanya mirip martabak. Karena saya ga beli jadi saya ga tau berapa harganya. Jadi saya ga bisa kasi nilai juga.

Umbut kelapa
5. Umbut Kelapa/Sagu
Menu sayuran ini harus dimakan bersama dengan nasi atau lontong. Kuahnya mirip dengan lontong sayur yang terbuat terdiri dari santan. Umbut Kelapa terbuat dari batang pohon kelapa yang paling puncak yang masih muda atau bisa juga dibuat dari puncak pohon sagu yang masih muda. Karenanya ada Umbut Kelapa, ada Umbut Sagu. Mengenai rasa dari umbut kelapa/sagu ini mirip dengan sayur rebung atau bambu muda yang bisa ditemukan di Jakarta dan sekitarnya. Dagingnya empuk walaupun pemotongan daging batang pohonnya tebal2 dan rasanya pun enak. Buat mereka yang punya sakit jantung, kolesterol, atau darah tinggi, saya rasa sebaiknya ga makan menu ini karena kandungan santannya dikhawatirkan mengganggu kesehatan. Score 75/100.

Daun ubi tumbuk
6. Daun Ubi Tumbuk
Mendengar namanya kita mungkin langsung bisa tau kalo ini adalah menu sayuran. Daun ubi yang dipakai adalah daun singkong yang dibuat dengan cara ditumbuk sampai tak berbentuk daun lagi. Kemudian ditumis dengan minyak goreng, bawang merah dan putih, selesai. Simpel ya, cepat pula pembuatannya. Kandungan zat besinya cukup tinggi pada menu ini. Mengenai rasanya saya menyukainya mirip seperti tumis sayur hanya saja terdapat rasa sedikit pahit karena sayurnya ditumbuk sehingga getah dari daun keluar. Kalo di masakan Padang yang kita temukan daun singkong hany direbus saja lalu dimakan dengan sambal. Atau di rumah makan lainnya, ada menu daun singkok yang dimasak dengan santan sehingga berkuah. Daun Ubi Tumbuk ini termasuknya menu khas Dayak. Sama sekali ga berkuah dan penyajiannya kering. Karena itu pada waktu menumisnya jangan memakai minyak goreng terlalu banyak. Jika minyak gorengnya diganti dengan minyak babi, lalu ditambah ikan teri/asin di dalamnya, wah bakalan mantep banget deh rasanya. Begitu kata mama Siska yang bikin Daun Ubi Tumbuk yang kami makan sekarang. Score 75/100

Mi Tiau kuah sapi Antasari

Mi Tiau goreng sapi Antasari
7. Mie Tiau Sapi Antasari
Mie Tiau adalah nama sebutan untuk Kwetiau di Pontianak. Ada banyak sekali pebisnis makanan di Pontianak ini yang menjajakan Mie Tiau karena melihat peminatnya yang begitu besar. Sangkin banyaknya penjaja mi lebar yang terbuat dari tepung beras ini saya minta direkomendasikan oleh penduduk lokal mana penjual mie tiau yang paling enak. Akhirnya saya dapatkan Mie Tiau Sapi Antasari yang terletak di Jalan Antasari. Restoran ini cukup unik mendesain ruangannya yakni dengan memajang piring2 yang telah ditanda-tangani oleh orang2 ternama dari artis luar negeri, artis dalam negeri, pejabat dari bupati sampai anggota DPR. Selain tanda-tangan mereka pun meninggalkan pesan2 yang mempromosikan Mi Tiau Antasari ini. Untuk Mie Tiau gorengnya dihargai Rp 25.000 per piring, mie tiau rebusnya Rp 20.000 per mangkok, es teh Rp 5.000 segelas. Kalo soal rasa memang lebih enak ketimbang nasi goreng Iin. Tapi untuk standar lidah saya rasanya masih kurang mantep. Apalagi setelah tau harganya pas bayar, buset, mahal banget. Score 55/100.

Kue Bingke
8. Kue Bingke
Makanan ini sejenis kue yang terbuat dari telur dan susu sehingga mereka yang jantung dan kokesterol benar2 lidahnya ga boleh kesentuh sama kue ini. Masalah kenikmatan, wah, bener2 enak kue ini. Saya berani bilang enak karena saya pecinta makanan yang bikin blenger. Contoh aja kue tar, black forest, nastar keju, bakpia isi babi. Jadi kalo anda ga suka makanan yang saya sebut barusan, bisa jadi anda hanya bisa makan beberapa potong aja kur bingke ini. Seiring perkembangan persaingan bisnis, kue bingke ini pun mengalami perkembangan pilihan rasa. Kini udah ada rasa spesial, coklat, keju, susu, labu, kentang. Untuk rasa spesial bedanya adalah komposisi telurnya lebih banyak ketimbang yang normal. Begitu juga yang rasa Susu, komposisi susunya lebih banyak ketimbang yang normal. Score 75/100

Pengkang
9. Pengkang
Sejenis ketan yang bisa diisi macam2 seperti bangkuang, ebi, ayam, sapi, abon. Lalu dibungkus dengan daun dan proses pematangannya dengan cara dibakar. Orang Jakarta lebih mengenal nama makanan ini dengan nama Lemper. Hanya saja bentukannya berbeda. Di Pontianak, Pengkang dibuat membentuk segitiga denan ketebalan kira2 4-5cm lalu dijepit dengan bambu dan dibakar. Seperti namanya dalam bahasa Tiociu (rata2 orang Tionghua di Pontianak berbahasa Tiociu), Pengkang artinya bakar. Dari situlah penamaan menu ini. Score 60/100

Cai Kue
10. Cai Kue
Kalau di Indonesiakan artinya Kue Sayur. Sayur2an yang dibungkus rapi dengan kulit yang terbuat dari tepung beras (lagi2 tepung beras) dan dibentuk seperti bikin pastel lalu dikukus. Dengan taburan bawang putih yang sudah digoreng di atas masing2 Cai Kue, bikin tambah sedap rasanya. Sayur2an nya sendiri bisa macam2, ada isi kucai, tales, bangkuang. Waktu itu saya makan Cai Kue ini di Gleam Cafe yang memanfaatkan bangunan rumah kunonya menjadi cafe sederhana. Kalo orang Bangka punya menu yang serupa seperti Cai Kue ini hanya saja isinya yang berbeda. Orang bangka manggilnya Choi Pan atau Sam Kok Pan dimana isinya ada pepaya muda yang dioseng2 dengan udang kering. Lalu bentuknya pun segitiga. Score 75/100.