About Me:

Saya adalah seorang manusia gila yang terlalu banyak uneg-uneg & obsesi yang belom tercapai. Sebagian orang menilai saya adalah orang yang sedang mencari jati diri. Pernyataan tersebut hampir betul dikarenakan sedikitnya waktu bagi saya untuk menemukan apa yang saya benar2 inginkan dalam hidup ini. Tak ada ruang untuk berekspresi, berkreasi, dan menjadi gila di dunia yang naif ini. Alhasil, terciptalah saya sebagai pribadi yang terkesan eksplosif, dableg & sering keluar dari jalur. Kebahagiaan & kesenangan yang saya rasakan pun terkadang tidak pernah bisa dibagikan dengan orang lain, padahal Chistopher McCandless berpesan di akhir hayatnya: "Happiness only real when it shared". Untuk itulah blog ini tercipta, ga masalah orang2 yang baca mo menanggipnya atau tidak, ga masalah jika para pembacanya menjadi antipati atau termotivasi karena topiknya, yang penting saya sudah berbagi supaya ada sedikit cahaya kebahagiaan dalam hidup saya ini.

Jumat, 17 April 2015

Yuulong Lavender

Minggu lalu kami sempat jalan2 mengeksplor kota Ballarat, masih dalam bagian wilayah Victoria. Tepatnya berada di bagian sebelah barat, cukup jauh dari Melbourne CBD. Tapi pemandangannya jauh berbeda dengan suasana kota. Ya, berhubung saya jenuh dengan suasana perkotaan seperti Jakarta, walau Melbourne CBD jauh lebih tertata dan bersih tetep aja udah emped sama gedung bertingkat dan suara klakson dan mesin.

Yang pasti, sepanjang perjalanan, kita akan disajikan pemandangan
ladang yang luas yang isinya dari domba yang diambil bulunya, sapi untuk susu dan dagingnya, sampai kuda untuk pacuan. Ada pula ladang yang isinya pembiakan rumput hias untuk lahan perkarangan rumah. Gunung2 yang terlihat kebiruan dari jauh, bukit dan lembah yang saling bersebelah sepanjang perjalanan menghiasi mata yang tak akan bisa tidur. Pastinya sulit ditemukan di daerah perkotaan. Track lurus dengan jejeran pohon yang tertata rapi di pinggir jalan sudah pasti akan kita dapatkan.

Perjalanan mengeksplor Ballarat kali ini ke taman bunga Lavender Yuulong Lavender Estate. Ladang yang dikelolah oleh keluarga sendiri karena seperti yang saya katakan di awal, di sini sepanjang jalan isiya adalah ladang, Yuulong Lavender berinisiatif menanam semua ladangnya dengan lavender dan menjadikannya tempat wisata. Tak ada biaya tiket masuk untuk menikmati bunga2 lavender. Sayangnya kami datang tidak di waktu yang tepat dikarenakan bunga lavendernya sebagian besar sudah selesai berbunga. Jadi tanaman lavender ini di foto yang terlihat seperti semak2 saja. Waktu yang tepat ke sini adalah ketika musim panas, kira2 bulan pertengahan Desember lah. Jadi penasaran saya seperti apa ya pemandangannya kalo semua tanaman lavender ini berbunga. Saya akan datang lagi Desember nanti.

Ada 1 café di taman lavender Yuulong ini yang sepertinya adalah pemilik dari ladang ini juga. Harusnya sih begitu, kalo nggak ya ga akan balik modal kalo mereka meng-hire karyawan buat ngelola café mereka ini. Karena hanya musim panas saja mereka sibuk, sisanya selama 9 bulan, sepi. Sepi bukan berarti sama sekali ga ada yang dateng, tetep ada pengunjung namun jumlahnya sangat sedikit dan mungkin hanya di hari sabtu-minggu saja.



Ada 1 burung kakatua yang bersangkar di tengah2 café tersebut. Burung kakatua yang bernama Deisy ini cukup pintar. Selain bisa menyebut namanya sendiri, Deisy juga bisa bertanya “what is that?” seandainya kita memegang makanan di depat dia. Atau mungkin benda lain yang menarik perhatiannya. Mungkin itu caranya dia untuk minta makanan dari tangan kita. Waktu itu soalnya saya lagi nyuapin Eog sambil liat Deisy. Eog yang keasikan ga sadar makannya pun banyak.

Setelah kita masuk ke area café nya, ada banyak bunga2 lainnya yang di tanam di halaman café. Café ini selain menjual makanan dan kopi, mereka juga menjual benih lavender hasil ladang mereka. Produk2 lainnya seperti sabun berbau lavender, parfum, dll. Bahkan ada es krim rasa lavender di menu desert mereka. Tapi dari rasanya ga jauh beda sama es krim vanilla. 

Di dinding2 café di pajang foto2 disertai tulisan. Saya lupa untuk mengamati foto2 ini karena rencananya setelah makan baru mau saya liat, eh tau nya lupa dan teralihkan dengan taman bermain di belakang café. Ada kandang burung kakatua dan nuri juga yang bisa kita masuki dan melihat burung2 tersebut lebih dekat. Jadi seolah2 kita berada di dalam rumah burung tapi ini versi kecilnya.


Kalau kalian tinggal di daerah timur Melbourne, ada baiknya melakukan trip ini sekaligus ke tempat2 lainnya di Ballarat. Karena kalo hanya mengunjungi 1 tempat saja, perjalanan dari timur ke Ballarat (barat) cukup melelahkan dan panjang. Jadi ini bisa dijadikan salah satu tempat untuk mengisi waktu liburan anak sekolah dengan menginap di salah satu hotel di Ballarat ini.

Akan saya ceritakan tempat kunjungan lainnya di sekitar Ballarat. Yang pasti jauh dari hiburan Mall. Orang Jakarta kan biasanya kalo nyari hiburan terdekat dan tercepat ya Mall. Beberapa dari mereka karena sudah melekatnya sama hiburan Mall biasanya pemandangan asri pegunungan kurang menarik bagi mereka. Sekian dulu ya…















Minggu, 05 April 2015

Rumah Ketiga

Ok, saya kembali lagi setelah hampir 6 bulan hybernate dan tak kunjung menemukan waktu yang tepat untuk bercurhat ria tentang pengalaman hidup di Australia. Intinya kalo dibandingkan waktu kerja di Jakarta dengan gaji waktu itu tahun 2010 kira2 3,5 - 4juta ( tergantung lembur brp lama) biaya hidup di Melbourne terhitung murah. Kalo di kota lain seperti Sidney, hmmm saya ga yakin bisa dibilang murah karena saya sempat berpelesir selama 3 hari sekalian kunjungan bikahan teman waktu itu. Biaya hidupnya cukup tinggi.

Selain itu saya kurang suka suasana nya yang cenderung mendekati Jakarta yang ruwet, ramai penduduk dan macet. Bedanya cuma di kualitas udaranya yang sedikit lebih segar. Saya ga berani bilang udaranya bersih karena dimana2 saya mencium bau asap, karena memang Sidney yang udah remenya kaya gitu masih aja dalam pembangunan dimana2. Ya genungnya, jalanan, jembatan. Kalo dibandingan Melbourne, rasanya tingkat kegiatan konstruksi di Sidney jauh lebih pesat.

Biaya hidup di Melbourne jauh lebih murah ketimbang Sidney, baik dari harga bahan pangan sampe ke biaya transportasi. Mungkin kalo saya tinggal di Sidney belum tentu saya bisa beli rumah sekarang. Ya, kami udah tinggal di rumah baru sejak 29 Desember 2014. Ga perlu nyewa/ngontrak lagi dan ga perlu khawatir properti orang dirusak sama Deo. Secara anak kecil maunya coba2. Apalagi bocah cowok, kagak bisa dibilangin. Makanya ada buku judulnya "Why men never listen and women cannot read map." Kayanya emang bener, cowok lebih seneng nyemplung ke jurang dulu, ngerasain sakitnya, terus dengan bangga ketika bangkit lagi curhat di situ ada jurang, walaupun udah banyak orang bilang di situ ada jurang.

Kekhawatiran saya terbukti di hari pertama pindahan, tembok rumah langsung dicorat coret sama Deo pake spidol marker. Bagus bukan rumah kontrakan, kalo nggak kan nambah kerjaan saya lagi buat cat ulang rumah orang sebelum ditinggalin.

Rumah kami bisa dibilang pelosok karena jauh dari pusat kota Melbourne CBD. Jaraknya kira2 42km , 1 jam lamanya kalo naik mobil. Bisa dibayangkan ya jauhnya kaya apa. 1 jam itu ga pake macet lho.  Kurang lebih 42km itu sama kaya dari rumah ortu yg di Tangerang ke Mall Citraland yg di Grogol. 

Ada lahan kosong yang cukup luas sebenernya untuk berkebun sendiri dan hidup dari hasil panen sendiri. Tapi bisa dipastikan waktu akan tersita habis hanya untuk ngurusin kebun. Alhasil kami hanya membuat 3x3 meter saja untuk kebun sayur seperti tomat dan bok choi, lalu ada cabe, daun bawang, stoberi, anggur, apel, lemon, limo, labu dan lidah buaya. Yang sudah beberapa kalo dipanen adalah bok choi dan stoberi, sisanya masih menunggu untuk dituai.

Lalu apa yang sudah saya kerjakan di sisa tanah kosongnya? Hahaha, belom tersentuh sama sekali karena tak adanya waktu untuk mengelolahnya. 

Minggu, 28 September 2014

Pesan Dari Pengunjung

Saya mempunya impian suatu saat nanti ketika anak2 saya sudah mulai beranjak besar saya menginginkan suasana keluarga di rumah seperti keluarga dalam serial drama komedi Korea Unstoppable High Kick dimana teman2 sekolah anak2 selalu saja ada yang datang ke rumah untuk main ataupun nginep. Atau tetangga yang nebeng nginep karena suatu atau lain hal, temen/sodara/keluarga yang datang berkunjung beberapa hari. Intinya, rumahnya selalu rame diisi oleh orang2 non keluarga inti dan sangkin seringnya mereka nginep di rumah kadang mereka terasa seperti keluarga juga. Biar dimarah2in tetep aja nagih untuk ketemu dan bercengkerama lagi.

Sejak Eog lahir terhitung ada beberapa kali orang nginep di rumah kami. Yang pertama Dewi, temen kuliah kami dulu yang ikut WHV (work and holiday visa). Dewi ini tipe orang yang ga bisa menyendiri dan lebih nyaman dengan orang yang udah dikenal ketimbang tinggal bareng orang asing. Selama tinggal bareng Dewi saya cukup dibikin kesel karena ketidak-pekaannya terhadap situasi misalnya kebersihan. Dewi ini tipe plegmatis, cuek dan kurang peka. Namun dari kekurangannya itu, manusia satu ini selalu beruntung. Salah satunya adalah perihal mencari kerja, cuma butuh 3 hari nganggur waktu nyari kerja di Melbourne. Ga usah jauh2, dia bisa dapet WHV aja udah keberuntungan menurut saya, melihat orangnya yang lamban dan kemayu, ditambah aksen jawanya yang medok dan kental, Wah hampir ga percaya deh kalo score IELTS orang ini dapet 4.5. Mepet sih tapi lulus. Mungkin dikarenakan kecuekannya terhadap masalah dan dirinya hanya fokus pada apa yang dia ingin capai, jadinya Dewi ini selalu terlihat beruntung. Rata2 orang selalu fokus pada masalah yang sedang dihadapi, tapi ada di luar sana orang2 seperti Dewi ini yang justru mengacuhkan masalah dan lebih menaruh pertahiannya pada rencana2 masa depannya. 

Lalu yang kedua adalah Reza dan Meili, orangtua babtis Eog. Menjelang Work and Holiday Visa mereka yang kadaluarsa dalam kurun waktu 1 minggu, mereka memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan sewa kamar dengan indung semang mereka dan memilih tinggal bareng kami. Selain menghemat uang sewa, kami jadi punya waktu lebih banyak berinteraksi menjelang perpisahan. Di usia mereka yang relatif masih muda, saya cukup kaget dengan pola pikir mereka yang tidak seperti kaula muda Indonesia pada umumnya. Kebetulan mereka Katolik juga seperti kami dan banyak sekali ungkapan2 kekesalan mereka akan sikap orang2 Katolik yang cenderung jadi batu sandungan bukan batu loncatan.

Kira2 6 bulan kemudian sekitar bulan Agustus, Andi adik Kristina datang dengan WHV juga. Dia tinggal bareng kami selama 1 tahun penuh. Andi cukup mengirit dengan tinggal bareng kami. Hanya perlu membayar $50 sebulan untuk bantu uang listrik dan setiap hari dia selalu bawa makanan dari restoran tempat dia bekerja, kadang bawa 2-3 pak makanan setiap harinya. Jadi bisa menghemat uang makan kami sekeluarga juga.

3 bulan menjelang WHV Andi kadaluarsa kami kedatangan Handi dan Tres, beserta 2 anak mereka Clares (5) dan Felicia yang 1 bulan lebih muda dari Eog. Mereka datang dengan visa pelajar dengan perencanaan Tres yang kuliah Master Accounting setelah lulus hendak mengajukan Permanent Resident seperti kami. Dikarenakan masih buta tentang Melbourne ditambah sulitnya mencari tempat tinggal jadi mereka tinggal bareng kami selama 2 minggu penuh sambil mengajukan permohonan sewa rumah. 

Perlu diketahui bahwa mencari kontrakan rumah di Melbourne ga semudah mencari kos. Mahalnya harga rumah membuat keluarga2 kecil baru menikah atau baru punya anak kesulitan menumpulkan uang DP sebesar 10% dari harga rumah yang diwajibkan pemerintah. Alhasil mereka memulainya dengan ngontrak. 

Handi sekeluarga tidur di kamar Maminya Kristina yang ketika itu kebetulan sedang pulang ke Indo karena visa nya sudah habis. dan akan kembali lagi 2 minggu mendatang untuk bantu kami ngurusin Eog waktu kami kerja. Dalam kurun waktu 2 minggu itu Handi dipaksa kejar tayang, bergadang sampai larut cari kontrakan di website2 dan siangnya inspeksi rumah yang dia ajukan melalui website dan mereka berhasil mendapatkan kontrakan di hari terakhir mereka.

Selama 2 minggu itu Eog sering bercengkerama dengan Clares dan Felicia. Eog keliatan seneng banget walaupun sering dijailin dan dikerjain sama Clares. Saya pun ikut senang karena Eog ga kesepian dan bisa mensharingkan suasana Melbourne ke Handi dan Tres.

Kira2 2 minggu selepas kepindahan Handi sekeluarga, datanglah satu orang lagi yang menginap di tempat kami. Makhluk petualang satu ini adalah Ria, temen masa sekolah sekaligus nulis blog Kristina. Kehadiran Ria amat sangat dinanti oleh Kristina. Saya bisa merasakan keantusiasan dia menyambut hari2 kedatangan Ria. Saya kurang tau keantusiasan Ria namun saya cukup shock ketika menjemput cewek satu ini dari bandara. Barang bawaannya hanya 1 tas ransel kecil ukuran anak SD dengan tingkat kepadatan di atas rata2 alias bentuknya tak seringan beratnya. Semua keperluannya ada di situ selama pertualangan dia 3 minggu di Ausi. Antik, nyentrik, dan belum pernah saya temui traveler yang bawa tas sekecil itu untuk 3 minggu. Bahkan saya saja paling2 1 tas ransel (ukuran orang dewasa) penuh. 

Berhubung Ria ini temen deketnya Kristina jadi saya coba2 sedikit pede menganggap saya juga deket sama dia, bertanya dan sharing tentang filosofi hidup dia. Saya tertarik dan ingin tau bagaimana dia menyelesaikan setiap perkara di tempat kerja, lingkungan masyarakat/keluarga. Latar belakang keluarga pun sedikit mirip dan ada banyak hal yang bisa saya petik. 

Intinya dari perbincangan dengan Ria saya menyimpulkan bahwa untuk bisa bertahan hidup di Indo dengan suasana hati yang damai dan penuh sukacita kita harus bisa cuek. Cuek supaya kita bisa jadi diri kita sendiri. Cuek terhadap komentar2 tak sedap yang sering dilontarkan orang2 Indo kebanyakan misalnya: 
"Ih, gemukan ya?" (McD kebanyakan sih)
"Kok iteman sekarang?" (Mirip bayangannya)
"Kapan kawin?" (Kucing tetangga aja udah 3x)
"Masih jomblo?" (Kiwil aja istrinya 2)

Atau baru2 ini Kristina br cerita ada temennya yang abis lahiran anak kedua terus ikut acara keluarga. Di situ dia ampir mau nangis dengerin komentar sodara2nya tentang badannya yang besar. 
"Si Itu aja yang anaknya 3, badannya masih langsing. Kamu kok gemuk banget?"
"Anaknya langsing, cakep. Mamanya kok gemuk dan jelek sih?"

Kita harus belajar cuek. Cuek bukan berarti kita brutal dan menjadi nyuekin orang2. Tapi cuek maksudnya cuek terhadap komentar2 tak sedap itu. Ria sempet bilang untuk menjadi cuek itu ga gampang, butuh pengorbanan perasaan dan latihan terus menerus. Mari kita belajar dari Michael Jordan, Tiger Wood, David Beckham, Mohammad Ali dan atlit2 lainnya yang menjadi tenar bukan karena talenta melainkan dengan melatih diri dengan ekstra keras untuk menjadi manusia yang berkualitas.

Sebagai penutup, saya mau menceritakan sedikit tentang perjuangan seorang atlit sepakbola. Di halaman Facebook, saya join Fan Page video clip sepak bola. Ketika itu 6 Agustus tepat hari ulang tahun Robin Van Persie, pemain dari Manchester United, Inggris. Clip berdurasi 1:50 itu menceritakan apa impian Van Persie remaja yang ketika itu sudah aktif di club junior Belanda, Feynoord. Dia hanya pemain cadangan yang kurang diperhitungkan tapi dia mempunyai impian besar yaitu bisa menjadi Penyerang utama dan bermain untuk klub besar seperti Arsenal atau Barcelona. Seperti ngayal dan muluk. Namun sekarang tak ada para penggila bola yang tak kenal namanya. Impiannya tersebut sudah tercapai hanya saja butuh perjuangan ekstra keras dan itu tidak mudah. Dia harus memiliki tendangan yang sempurna sehingga setiap tendangan menghasilkan gol. Sehingga ketika pelatihnya memainkan dia, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dia melatih dirinya menendang 20-30 bola sebelum dan sesudah latihan setiap harinya. Artinya dia berlatih lebih awal dan lebih lama ketimbang pemain lainnya.

http://www.youtube.com/watch?v=mfkqByBnmn8

Ingat: 1% Bakat, 99% kerja keras. Anda bisa menjadi apa yang anda inginkan.

Minggu, 07 September 2014

Dumpling Plus

Ada tempet makan enak yang baru aja kami coba. Namanya Dumpling Plus yang berlokasi di dalam Mall High Point, Melbourne. Dari namanya aja sudah bisa dikira2 ini resto jualan apa, ya kan? Aneka dumpling dengan isi yang beragam mulai dari satu macam daging seperti ayam, babi, udang, campuran, hingga sayuran.

Selain jualan dumpling restoran ini juga jualan seperti risoles, pastel, kue bola dengan lapisan wijen di luarnya. Kurang lebih apa yang dijual di sini, ada juga yang jual di Indo hanya saja cita rasanya berbeda. Karena lidah saya lidah Indo otomatis hanya masakan  Indo yang paling memenuhi kepuasan lidah saya.

Dengan harga $5 dapat 4 buah, semua menu di sini adalah buatan sendiri. Kita bisa melihat secara langsung dari luar kaca bagaimana mereka membuatnya. Kebersihan sudah pasti menjadi prioritas dan tujuan utama dari sistem tampilan kaca ini.

Kalau mau makan di tempat ini usahakan datang sebelum jam 11am karena setelah jam itu dijamin anda akan mengantri panjang dan harus dibawa pulang karena tak ada lagi meja yang tersedia.

Minggu, 31 Agustus 2014

Lake Mountain

Waduk Penampungan Air
Ini cerita pada tanggal 5 Juli 2014 yang lalu dimana kami sekeluarga jalan2 bareng temen kerja Kristina orang India. Namanya Inderpal yang kebetulan punya anak yang seumuran dengan Eog namanya Arsh (cewe). Anak2 kami cukup akrab sejak Kristina dan Inderpal saling kenal. Sekedar info, Inderpal adalah perempuan. Saya merasa perlu menginfokan ini dikarenakan nama India tidak familiar di telinga orang Indo jadi sulit membayangkan gendernya.

Suburb Marysville
Ini adalah perjalanan pertama kalinya bagi saya bersama keluarga lainnya. Saya yang dari luar sering basa basi sama orang (begitulah kata Kristina, tukang basa basi, kadang bacin…) bukan berarti saya pecinta kehidupan bersosialisasi. Saya tipe orang yang kurang suka membina hubungan pertemanan untuk jangka panjang. Selain membutuhkan ongkos saya pun harus mengorbankan waktu saya misalnya waktu untuk chatting. Kalo dalam hal jalan2 saya sebenernya lebih memilih sendiri atau sama keluarga sendiri. Karena terkadang ketidak-cocokan selera sering jadi hambatan kepuasan jalan2 tersebut. Tapi kalo sama keluarga sendiri, biarpun ga cocok kan sah2 aja kalo ngeluh dan nuntut “gw mau ke sana, kalo lu ga suka tempetnya jalan dulu aja, entar gw nyusul”.

Ga usah jauh2, saya dan Kristina aja punya selera jalan2 yang berbeda. Dari hasil perbincangan saya dengan Ria, teman nulis blognya Kristina, beberapa minggu yang lalu Ria sempet dateng mengunjung kami dan tinggal bareng sekitar 2 minggu, kesimpulannya gaya jalan2 saya sedikit mirip dengan Ria, namun tak seekstrim Ria sih. Ekstrimnya seperti apa? Hmmm, ditunggu saja cerita beliau tentang Melbourne dan Sydney dan simpulkan sendiri, hehehe… Berikut ini link blog mereka, sapa tau tertarik untuk dicari tau sugiartobudiman.blogspot.com

Perjalanan kami kali ini adalah ke Lake Mountain, gunung bersalju kedua yang pernah kami kunjungi di Melbourne. Yang pertama kalinya dulu adalah Mount Buller, sayangnya saya ga sempet bercerita tentang Mount Buller ini di blog. Karena kisahnya udah 2 tahun yang lalu, dijamin udah basi, bahkan Indomi aja kagak ada yang masa kadaluarsanya sampe 2 taon jadi cukup sekedar info aja.

Lake Mountain tempatnya cukup menarik untuk bermain papan seluncuran namun dari luasnya tempat bermain, Mount Buller 4x lebih luas dan tempat bermainnya pun
bermacam2. Ini pertama kalinya kami ke Lake Mountain dan di perjalanan kami ga dateng berbarengan karena sebelumnya kami harus menghadiri PEMILU di Kedubes RI terlebih dahulu dan Inderpal pun harus kerja sampai jam 11am. Alhasil ketika kami sampai di Lake Mountain, 15 menit kemudian mereka menemukan mobil kami dan parkir tepat di sebelah kami. Ketika itu kami masih di dalam mobil sibuk dengan baju dingin kami yang belum dikenakan, karenanya kami masih ada di mobil. Cuaca yang pada waktu itu sedikit gerimis menambah suhu udara tambah terasa dingin.

Well, tak seburuk yang saya bayangkan. Datengnya ga bareng tapi kami main bareng. Awalnya saya kira bakalan main sendiri2 karena kecil kemungkinan bisa ketemu, tapi ternyata melihat tempatnya yang ga luas, walaupun dateng terpisah, pasti buntut2nya bakalan ketemu karena tempet bermainnya Cuma di area sekitar restorannya itu. Dan perlu diketahui bahwa kita dilarang membawa papan seluncur sendiri. Katanya sih demi keselamatan karena papan seluncur yang disewakan di sana sesuai standar. Apabila bawa papan seluncur sendiri dikhawatirkan kita tidak mengetahui standar keselamatannya seperti apa dan bisa membahayakan pengunjung yang lain dan diri sendiri. Kalo kata saya sih ini mah akal2an pihak management biar pada nyewa papan seluncurnya.

Di awal saya sempat katakana bahwa Ria, temen blog Kristina datang main ke rumah dan kami mengajaknya ke Lake Mountain juga tetapi di lain waktu (2 Agustus 2014). Perjalanan kami kali ini amat sangat beruntung. Untuk pertama kalinya saya melihat salju turun dari langit karena cuaca pada saat itu amat sangat bersalju dan jalanan memang terasa sedikit licin karena sebagian es di tengah jalan belum mencair. Bisa berakibat buruk jika melaju terlalu cepat karena walaupun udah ngerem, mobil akan tetap meluncur akibat es yang melekat pada ban. Kami sempat menyewa rantai $30 per pasang yang rencanakan akan dipasang di ban, akan tetapi rantai tak terpakai sama sekali karena es tak setebal yang kami duga.

Sebelum kami sampai di Lake Mountain, kami menyempatkan diri melipir ke sebuah spot bagus dengan pemandangan aduhai. Pepohonan dimana2 yang mengelilingi danau yang merupakan waduk tampungan cadangan air ketika musim kemarau. Cuaca ketika itu memang sedang dingin jadi ketika melihat pemandangan ini serasa ingat waktu kuliah dulu jalan2 pake motor dari yogya ke Wonosobo, ketika itu hamparan kebun the dimana2 dan pegunungan terlihat seperti ladang Teletabies.

Setelah melewati waduk penampungan air, jalan masih berkelok2 dan bagi kalian yang menyukai pemandangan pegunungan dijamin ga akan bosan sepanjang perjalanan. Bagi kalian yang suka foto2 dijamin jari kalian gatal untuk mengambil gambar. Gak lama setelah itu kalian akan sampai di sebuah kota bernama Marysville, sebuah suburb yang cukup padat dihuni penduduk karena posisinya yang cukup strategis dimana pemandangan yang indah bisa didapat dan dekat dengan Lake Mountain. Restoran dimana2 namun semuanya tetap teratur dan rapi sehingga member kesan tersendiri di tengah keramaian. Walaupun padat tetap saja ada spot bagus untuk difoto di suburb ini. Kalo tengki bensin kalian hamper hambis, atau kira2 tidak akan mencukupi sampai
dengan 2 jam perjalanan ke depan, sebaiknya isi bensin di suburb ini karena Lake Mountain akan sampai dalam waktu kira2 1 jam dan tidak ada POM bensin di Lake Mountain. Sepanjang jalan pun hanya ada hutan dengan jalan yang berkelok2. Kemampuan akselerasi menyetir anda akan teruji dan terasa di sini. Buat yang ga pede, sebaiknya sedikit melambat, apalagi kalo jalanannya basah. Sebelum musibah terjadi lebih baik jangan ambil resiko.

Perjalanan ini lebih menarik ketimbang yang pertama kali karena salju yang baru turun semalam dan sampai pada saat kami sampai pun salju turun lagi, jadi seluruh pohon yang kami lewati berselimut salju semua. Sangat indah seperti di kartu2 natal atau film2 natal Hollywood tentang indahnya White Christmas. Apalagi pemandangan ketika kami akan pulang, tepat ketika matahari terbenam, cahayanya berpadu dengan salju yang menghampar di sepanjang pegunungan dan pohon2 pinus, waaahhh… Keren banget deh.

Warna keemasan pun mucul akibat pantulan cahaya matahi yang mulai memudar dan pegunungan es pun terlihat seperti hamparan ladang padi yang siap dipanen, emas semua. Saya beruntung sekali hari ini karena Eog tidur dan saya bisa menyelesaikan artikel ini yang sudah 3 hari dicicil karena tak mampu diselesaikan akibat gangguan bocah ingusan.







Senin, 25 Agustus 2014

Saint Patrick's Cathedral

Saya kurang ingat apakah saya pernah menceritakan tempat kunjungan ini atau belum. Tapi lebih baik bercerita 2x daripada tidak pernah tersampaikan sama sekali. Ada tempat kunjungan di Melbourne yang tidak kalah menariknya walaupun sedikit menjauh dari CBD pusat kota. Hanya dengan mengendarai kereta dan berhenti di Parliament Station lalu berjalan kaki sekitar 5 menit, perjalanan menjadi cepat dan efisien. Nama tempat ini adalah St. Patrick Cathedral dan ini bukan kali pertama bagi saya. Walaupun ini sebuah gedung gereja namun mereka menyediakan satu sesi perjalanan wisata mengunjungi setiap sudut dan memberi penjelasan tentang sejarah dan asal mulanya dibangun.

Kadang kala kesepatan kita untuk berkunjung tidak singkron dengan jam berkunjung tempat wisata. Jadi ada baiknya bila anda cek website nya terlebih dahulu apakah katedral ini buka atau tidak. Tidak masalah anda mau berkunjung di siang bolong ataupun di malam hari, kedua waktu tersebut punya sensasi tersendiri dalam setiap kunjungannya, suasana yang berbeda dan kesan yang unik. 

Perlu diketahui bahwa ada baiknya anda tidak berkunjung ke dalam gereja pada saat perayaan ekaristi sudah dimulai, karena besar kemungkinan anda akan ditegur bila menggunakan kamera di dalam gereja . Yang dapat anda lakukan bila terpaksa sampai di tempat bertepatan dengan perayaan ekaristi adalah, menunggu perayaan ekaristi selesai sambil mengunjungi setiap sudut di luar gereja. Ada banyak spot bagus untuk pengambilan gambar, dijamin 1 jam ga akan terasa. Dinding2 gereja yang terbuat dari batu terlihat seperti Castle ala Inggris. Ditambah nuansa pohon2 Oak yang jarang ada di Indonesia, memberikan suasana berbeda dari biasanya.

Setelah perayaan ekaristi berakhir, anda bisa lanjutkan perjalanan anda mengunjungi bagian dalam gereja yang terlihat megah dan artistik. Track panjang dari pintu masuk menuju altar bisa menjadi spot bagus untuk berfoto ria. Dan bila anda sudah sampai di depan cobalah untuk mengamati di bagian sebelah kanan, terdapat alat musik organ yang sound system nya sebesar bagong. Sound system seperti ini yang biasanya ada di rumah2 opera pameran musik klasik, tapi saya lupa namanya, aduuuh...

Bila anda sadari, gedung katedral ini bila dilihat dari atas berbentuk salib. Maketnya bangunannya dapat anda lihat di dekat pintu masuk sebelah kiri. 

http://www.cam.org.au/cathedral
1 Cathedral Place
East Melbourne, VIC 3002
Ph 03 9662 2233

Minggu, 24 Agustus 2014

Gerhana Bulan

Ada yang bilang katanya ciri2 orang yang lagi seneng adalah mereka melupakan segalanya dan fokus pada hal yang sedang mereka gandrungi. Seperti halnya juga blog ini, yang tujuan awalnya saya bikin adalah sebagai wadah curahat hati saya. Tapi dikarenakan terlalu sibuk dan happy, alhasil blog ini tak pernah ter-update dengan teratur.

Akhirnya saya mencoba gali foto2 yang pernah terjadi dari sejak apdetan blog terakhir tentang Melbourne Museum sampe sekarang, ujubile ajimasa’it…  Ada lebih dari 20 momen yang terabaikan di folder foto dan tak terbagikan dengan rekan2 pengunjung setia blog ini. Hal ini sebenernya sedikit menyalahi aturan yang telah saya buat yakni “Happiness is real when it shared” yang tertulis di halaman muka blog. Maksud hati ingin selalu berbagi hal yang membahagiakan itu dengan rekan2 namun apa daya kesibukan dengan si Eog (bocah ingusan hasil benih saya) dan hobi yang mencandukan membuat saya sedikit mengabaikan blog ini (Alasan saja...!)

Baiklah kita mulai dari momen pertama yang terabaikan, yakni Gerhana Bulan 15 April 2014. Ada yang masih ingat? Atau malah tak nyadar kalo pada tanggal itu ada gerhana bulan? Wkwkwk… dimaklumi sih karena fenomena ini memang hanya terlihat di bagian timur Indonesia paling selatan dan itupun terlihat setelah gerhana totalnya selesai akibat ‘jam tayang’ yang tidak singkron dengan posisi negara Indonesia.

Kalau menurut mitos dan dongeng anak-anak di Jepang, bulan konon ditinggali oleh kelinci yang selalu menumbuk kue mochi. Masyarakat Jepang melihat bagian bulan yang sedikit gelap (terutama terlihat ketika bulan purnama) adalah bentuk kelinci yang sedang menumbuk mochi. Mari kita sedikit berdongeng ria:

Alkisah di suatu hutan hiduplah 3 ekor binatang, yaitu seekor monyet, seekor rubah, dan seekor kelinci. Ketiganya bersahabat baik dan merupakan binatang yang baik hati. Melihat ketiga binatang tersebut, dewa penjaga bulan menjadi penasaran. “Siapa diantara mereka yang paling baik?” pikirnya. Sang dewa lalu turun ke bumi dan mengubah dirinya supaya terlihat seperti pengemis tua. Ia menghampiri ketiga binatang tersebut dengan tertatih-tatih. “Saya sangat lapar dan sudah berhari-hari tidak makan. Kasihanilah orang tua ini,” kata sang dewa. Melihat pengemis yang kelaparan, ketiga binatang itu jatuh kasihan. Monyet segera memetik buah-buahan di hutan sebanyak yang ia bisa dan memberikannya kepada pengemis tersebut. Sementara rubah mengumpulkan ikan sebanyak-banyaknya untuk si pengemis. Namun kelinci tidak bisa mengumpulkan apa-apa. Ia tidak bisa memetik buah diatas pohon yang tinggi maupun menangkap ikan di sungai. Kelinci menjadi sedih, namun ia tak putus asa. Ia meminta tolong kepada monyet dan rubah untuk membantunya mengumpulkan ranting dan kayu kering. Kemudian ia membuat api dan membakar kayu-kayu tersebut. “Maaf aku tidak bisa mengumpulkan apa-apa,” kata kelinci. “Namun aku tidak akan membiarkanmu kelaparan. Aku akan masuk ke dalam api, setelah matang makanlah dagingku supaya kamu tidak lapar lagi.” Tanpa sempat dicegah oleh monyet dan rubah, kelinci segera melompat ke dalam api untuk membakar dirinya sendiri. Namun dalam sekejap sang dewa menyelamatkan kelinci dan menampakkan wujud aslinya. “Kau tidak perlu membakar dirimu, wahai kelinci. Sebenarnya aku adalah dewa penjaga bulan. Ketulusan dan kebaikanmu membuatku terharu. Ikutlah denganku ke bulan untuk menemaniku.” Sejak saat itu, kelinci tinggal bersama sang dewa. Ia melayani sang dewa dan mengawasi bumi dari kejauhan. Bila monyet dan rubah merindukan sahabatnya, mereka memandang bulan di langit untuk melihatnya. Dan bila bulan purnama tiba akan terlihat si kelinci yang sedang membuatkan mochi untuk sang dewa.

Sebenernya pada tanggal yang sama juga saya berulang tahun yang ke-31. Ini momen belum pernah terjadi dalam hidup saya, pas ulang tahun kadonya Gerhana Bulan, keren bingit... Ketika itu istri sempat belikan kue tar dari toko terdekat sih dan merayakan tiup lilinnya sambil diganggu Eog. Pengen rasanya umur saya balik lagi jadi 17 tapi saya ga mau balik ke masa itu, cukup umurnya saja. 

Untuk foto2 lengkap pada waktu gerhana bulan, silahkan kunjungi Face Book saya. Gerhana bulan yang terambil dari kamera saya agak sedikit terlambat, dikarenakan pada waktu gerhana total, di sini masih sedikit cerah dan terang jadi ga keliatan. Beruntungnya beberapa menit setelah Total suasana mulai remang2 dan alhasil inilah foto terbaik yang bisa saya bagikan. Selamat menikmati bagi mereka yang belum pernah melihat gerhana bulan seperti saya. 

http://www.kopimaya.com/forum/showthread.php/13877-Kelinci-Penunggu-Bulan?p=389237#post389237

Senin, 21 April 2014

Melbourne Museum

Jalan2 kali ini meluncur ke dunia pengetahuan dan sejarah. Jadi buat mereka2 yang tidak tertark dengan 2 hal tersebut dijamin jalan2 ini akan sangat membosankan, seperti halnya ipar saya. Buka dari jam 10 – 17 setiap hari kecuali Jumat Agung dan Natal. Anak2 dibawah umur 17 dan pensiunan digratiskan. Tiket masuk seharga $10 per orang. Dan mereka yang berumur dibawah 12 tahun harus didampingi oleh mereka yang berumur min 17 tahun. Di sini dilarang membawa makanan dari luar. Hanya diijinkan makan dari makanan yang dijual di café saja. Berdasarkan reviewan, makanan di café tersebut ga enak. Jadi anda punya 4 pilihan: satu, bawa makanan dari rumah dan makannya sembunyi2. Dua, anda menahan lapar sampai selesai. Tiga, anda cari makan di luar museum lalu masuk lagi. Empat, anda makan apa yang dijual.

Di bagian pelataran Museum sambil menunggu antrian pembelian tiket (jika anda datang lebih dari jam 11 siang dijamin pasti udah rame) kita akan disajikan pemandangan pesawat terbang model pertama hasil temuan Wright Bersaudara. Dan jika anda cukup peka, anda akan menemukan pemandangan ikan2 kecil yang berkumpul membentuk ikan besar. Ada Museum Shop tepat sebelum pintu masuk ticketing yang menjual pernak pernik yang dikoleksi oleh museum. Salah satunya ada boneka T-Rex setinggi istri saya (kira2 150 cm) yang menyambut di pintu masuk toko. Eog si bocah yang bawa hari ini ketakutan melihat boneka ini karena sang T-Rex menunjukan taringnya yang besar. Juga akan ada meja tiket dibagian paling depan, tepat di bawah pesawat terbang Wright Bersaudara. Tapi meja tiket ini tidak melayani penjualan tiket regular. Meja yang selalu diisi oleh wanita cantik sebagai customer service nya hanya melayani print tiket untuk AZTECT dan IMEX, 2 macam acara yang disajikan di Melbourne Museum dengan harga tiket yang berbeda tentunya (lebih mahal maksudnya, he3). Selain itu meja ini juga bisa menjualkan tiket masuk Melbourne Museum tapi hanya untuk pensiunan dan pemegang concession card (warga negara yang berumur di bawah 25 tahun). Jika anda berencana untuk ke Melbourne Museum pastikan tujuan anda mau ke Museum, AZTECT atau IMEX. Jika anda membeli tiket AZTECT atau IMEX, anda akan digratiskan masuk museum.

Diawali dengan lingkaran pohon dengan pejelasan dari setiap lingkaran menandakan umur dari pohon tersebut. Lalu koleksi aneka tumbuh2an dan binatang airnya, kami masuk ke ruangan kaca yang berada tepat di sebelah lingkaran pohon. Eog anak saya yang gemar akan air dan binatang air, ngendon cukup lama di situ dan ga mau bangkit walau dipaksa. Alhasil sampai di perhentian yang menarik perhatiannya lah yang membuat dia berhenti menangis. Apa itu? Ya ga jauh2 dari air juga yakni kodok di dalam aquarium yang dihias sedemikian rupa untuk menyerupai habitatnya.

Setelah melewati koleksi tumbuhan kami merangkak ke atas lantai 2. Tepat di depan kami hanya ada pilihan ke kanan atau ke kiri. Sebelum memilih kanan atau kiri kami disuguhkan koleksi kerangka kura2 dan Tringgiling terbesar yang pernah hidup di bumi. Lanjut, kami pilih ke kiri terlebih dahulu dimana di ujung jalan terdapat Windminll, kincir angin pembangkit listrik. Sepanjang lorong ini pun terdapat lukisan2 karya penduduk local Australia (aborigin) dan koleksi2 senjata api yang pernah digunakan untuk menduduki Australia jaman dahulu.

Satu2nya Galeri yang ada di lorong ini adalah sejarah tentang kota Melbourne, dari kuda pacu terbaik yang pernah ada, rumah penduduk jaman dulu yang masih menggunakan kompor arang, sejarah pembangunan rel kereta api, alat komunikasi, sampai fashion dan perkembangan seni di kota Melbourne. Sayang, dibagian fashion dan seni ini saya dilarang untuk mengambil foto, jadi foto yang tertangkap hanya bagian depannya saja. Sekedar info, di Melbourne ini olah raga pacuan kuda cukup terkenal, sampai2 ada hari libur yang judulnya Melbourne Cup, yakni piala yang dianugerahkan kepada kuda pacu yang memenangkan lomba. Kesimpulannya galeri ini lebih bercerita tentang sejarah yang sudah tercatat mengenai kota Melbourne dan Australia secara umum.

Setelah puas di lorong kiri tentang perkembangan kota Melbourne, kami langsung meluncur ke lorong berikutnya yang hanya tinggal track lurus “Mind and Body Gallery. Galeri ini berisi tentang seluk beluk manusia, dari organ tubuhnya sampai fungsinya. Dari DNA sampai ke mimpi. Di sini terdapat ukuran tinggi tubuh manusia raksasa dari Irlandia dan manusia kurcaci di sebelahnya yang pernah hidup di Bumi. Ada bagian di galeri ini yang menampilkan video tentang mimpi seseorang. Ada juga mesin yang bisa mendeteksi seberapa peka tubuh kita bereaksi terhadap stress yang dihadapi, hanya dengan meletakan telapak tangan kita. Galeri ini secara khusus bercerita tentang ilmu pengetahuan dari yang dangkal sampe dalem banget.

Turun ke bawah dari Mind and Body Gallery, kita dapatkan koleksi kerangka2 dinosaurus dan binatang2 yang sudah diawetkan. Tak jauh dari situ ada galeri untuk anak2 dimana isinya antara lain seperti taman bermain. Terdapat blok2 untuk disusun, buku2 bacaan anak2, dan binatang2 lainnya yang disajikan dengan nuansa anak2. Eog cukup lama nongkrong di sini karena dia nemu patung Wombat (sejenis binatang mamalia berkaki empat sebesar anjing) untuk dielus-elus sambil diajak ngomong. Sebelum itu ada penguin, kura2, anjing laut, dan kangguru. Semuanya dielus-elus sama eog sambil diajak ngomong. Sepertinya kalo kami piara anjing, Eog pasti seneng. Tapi sayang, kami tak berminat, karena ngurus eog aja udah kelabakan, apalagi harus ditambah satu lagi piaraan untuk diurus, bisa tambah pusing kepala.