About Me:

Saya adalah seorang manusia gila yang terlalu banyak uneg-uneg & obsesi yang belom tercapai. Sebagian orang menilai saya adalah orang yang sedang mencari jati diri. Pernyataan tersebut hampir betul dikarenakan sedikitnya waktu bagi saya untuk menemukan apa yang saya benar2 inginkan dalam hidup ini. Tak ada ruang untuk berekspresi, berkreasi, dan menjadi gila di dunia yang naif ini. Alhasil, terciptalah saya sebagai pribadi yang terkesan eksplosif, dableg & sering keluar dari jalur. Kebahagiaan & kesenangan yang saya rasakan pun terkadang tidak pernah bisa dibagikan dengan orang lain, padahal Chistopher McCandless berpesan di akhir hayatnya: "Happiness only real when it shared". Untuk itulah blog ini tercipta, ga masalah orang2 yang baca mo menanggipnya atau tidak, ga masalah jika para pembacanya menjadi antipati atau termotivasi karena topiknya, yang penting saya sudah berbagi supaya ada sedikit cahaya kebahagiaan dalam hidup saya ini.

Sabtu, 15 Desember 2012

Natal Bersama Doutta Galla - Grantham Green


Rabu, 12 Desember 2012 pukul 6 sore kami menghadiri perayaan natal di tempet kerja Kristina di Panti Jompo Doutta Galla, Grantam Green, yang letaknya tepat di arah jam 2, di seberang rumah kami. Pulang kerja sampe rumah jam 5 sore saya masih sempet berleha-leha dulu sebelum otot perut bekerja ekstra keras malam nya karena harus mengolah banyak makanan di perayaan tersebut.

Secara keseluruhan kesan yang saya dapet dari perayaan natal bersama nenek2 ini adalah baik. Ada 2 poin penting yang saya ambil dari perayaan tersebut, yang pertama “Hidup ini terlalu singkat untuk disia-siakan”. Menyia-nyiakannya berawal dari masalah sepele seperti makanan sehari-hari. Hindari rokok, alkohol, soda, daging, dairy food (makanan produk dari susu) seperti keju, es krim, mentega dan susu itu sendiri dan olahraga minimal 4x seminggu . Mungkin anda bingung kenapa dairy food termasuk dalam list yang harus dihindari. Untuk tau lebih jelas baca di sini:


Setelah baca ini dan menelusurinya, saya segera berusaha untuk ga mendapatkan asupan dairy food. Ternyata sulit karena saya baru sadar hampir semua makan terutama cemilan saya mengandung dairy food. Tapi saya yakin pasti bisa karena saya mau di usia senja saya masih fit dan mampu beraktifitas normal. Oya, kalo saya bisa hindari semua asupan di atas tapi ga olahraga gimana? Jawabannya adalah anda akan sehat, tapi otot tubuh anda lemah. Mungkin berjalan saja butuh waktu lama ketimbang mereka yang menyertainya dengan olahraga.

Hal penting kedua yang saya ambil adalah “Milikilah sifat, sikap, dan segala hal positif yang diajarkan agama”.  Kenapa? Karena di usia senja nanti otak kita bekerja seperti anak kecil lagi yang hanya menginginkan apa yang diinginkan, membuang apa yang dibenci, melempar apa yang membosankan. Jika sejak muda kita tidak terbiasa mengendalikan diri, niscaya ketika kita tua nanti kebiasaan kita lah yang mengontrol kita bukan kita yang mengontrol kebiasaan itu. Apalagi ketika sejak muda segala macam asupan yang saya sebutkan di atas tadi masuk terus tanpa kontrol, dijamin 100% anda akan mengalami yang namanya Dementia, level terendah sebelum Alzeimer (lupa ingatan). Itu jika anda beruntung, kalo nggak beruntung ya umur anda pendek, alias mati muda gara2 kanker atau penyakit lain. Atau kalo anda diberi umur panjang ketidak-beruntungan anda adalah Alzeimer.

Kitab suci udah bilang, apa yang ditabur, itu yang dituai. Jadi anda harus mengerti resikonya kalo anda memang mau menikmati asupan2 di atas. Tau resikonya bukan berarti mengerti. Untuk bisa mengerti cobalah anda kerja volunteer di panti jompo. Coba urusin mereka yang udah Dementia dan punya kebiasan2 buruk seperti mengumpat, sombong, atau pilih2 dalam segala hal sampai2 membuat anda yang udah keletihan merasa tidak dihargai. Lihat dan perhatikan tingkah mereka. Anda akan seperti itu nantinya.

Mengenai acaranya saya cukup menikmati ketika di awal saya melihat ada teriakan “Ho... ho... ho...” tanda Mr. Sinterklas datang. Kedatangan Sinterklas tentunya disertai kado dan pembagian kado diperuntukan bagi para kakek/nenek dengan tujuan menghibur mereka. Entahlah apakah itu kado yang mereka minta atau hanya inisiatif dari para staff pengasuh. Satu per satu nama kakek/nenek dipanggil, ada yang ngeh namanya disebut dengan mengacungkan tangan, ada juga yang melongoh doank sepanjang acara, ga ngerti ini ada apa di tempat tinggalnya, kenapa rame bener orang2 di sini. Otomatis kalo udah begitu ya staff yang berada di setiap spot diminta untuk clingak-clinguk siapa tau orang yang dimaksud ada di sekitar situ. 

Sambil pembagian hadiah, Kristina menyempatkan diri berfoto dengan beberapa staff dan penghuni panti jompo, salah satunya Trudy yang ceria banget. Bisa terlihat aura cerianya selama dia membawakan acara, dan entah kenapa orang ceria itu selalu terkesan semangat. Mungkin karena itu orang2 lebih seneng dan gampang bertemen dengan orang yang ceria ya. Trudy ini yang kasi topi natal yang dipake Eog di foto.

Kristina juga ada sempat berfoto dengan Leah, salah satu staff yang lagi kerja waktu itu. Leah ini asalnya dari Philipina dan para kakek/nenek sering manggil Kristina dengan nama Leah, soalnya para kakek/nenek mengira mereka adalah orang yang sama.


Ketika ada kesempatan kosong, Trudy segera memanggil Kristina untuk mendudukan Eog di pangkuan Sinterklas yang adalah penghuni panti jompo juga. Ditemani Andrea mantan staff Doutta Galla juga yang ceritanya sebagai si Pit Hitam dan dengan posisi seadanya, si kakek Sinterklas terlihat seolah mau membetulkan posisi Eog di pangkuannya tapi sepertinya si kakek tidak cukup kuat untuk mengangkat. Ditambah lagi sayanya terus jepret foto jadi si kakek Sinterklas bingung mau benerin posisi dulu atau membiarkan jepretan fotonya dulu biar bagus. Dan yang bikin geli kumis si Sinterklas posisinya udah pindah jadi ke jenggot. Aduh, kakek, sepertinya makin tua kok makin kehilangan kendali atas tubuh untuk bisa bergerak cepat. Hahahaha...

Setiap penghuni pasti punya keluarga misalnya anaknya, saudaranya, atau bahkan cucunya. Mereka semua diundang juga untuk hadir di setiap acara kebersamaan panti jompo dengan tujuan tentunya membahagiakan para kakek/nenek ini di akhir hidupnya. Sialnya, ada dari mereka yang ga punya siapa2. Mungkin dulu dia anak tunggal terus ga menikah, udah deh ga punya siapa2 jadi ga ada yang pernah mengunjung. Tapi ada pula dari mereka yang menikah tapi ga tau kalo pasangannya itu udah “ngeduluin” dia alias meninggal. Sepanjang hari nungguin dijambangin di panti jompo tapi tak kunjung datang. Nah ini dia salah satu efek Dementia, anda akan seperti ini nantinya jika anda masih mempertahankan rokok di bibir anda.

Acara berlanjut setelah pembagian kado ke acara puncak, yaitu makan-makan, hehehe... Acara yang saya tunggu dari tadi sebenernya. Karena lomayan lama pembagian kadonya berhubung penghuninya ada sekitar 40 orang dan terdapat undangan para jompo dari panti jompo yang lain pula. Jadi kurang lebih memakan waktu 1 jam. untuk udah ganjel indomi 2 bungkus sebelum dateng, jadi ga terlalu keroncongan.

Denger2 cheft nya dateng buat bikin makanannya ini semua dari jam 3 pagi lho padahal dia dibayar mulai jam 7 pagi. Nama Cheft nya Anna, orang Kroasia dan dia sangat berdedikasi pada tempet kerjanya ini karena dia berpikir suatu hari nanti dia juga akan menjadi penghuni panti jompo, jadi dia mau mengerjakan pekerjaannya asal2 jadi. Ga Cuma enak dimakan semua makanannya tapi hiasannya pun menarik padahal simple.

Sebenernya sebelumnya saya punya banyak cerita yang mau saya sampaikan di blog ini. Cerita mengenai masing2 penghuni panti jompo, tapi Kristina mengingatkan bahwa itu ga boleh diceritakan karena sifatnya pribadi dan ga boleh disebar-luaskan. Oke, baiklah kalo begitu. Saya hanya akan menceritakan yang enteng2 saya. Seperti penghuni yang satu ini, para pengasuh memanggilnya Jimmy tapi nama aslinya adalah Cihan Aslan. Tak jelas dari mana asalnya tapi yang pasti Jimmy ini berasal dari Timur Tengah dan dia beragama Islam. Jimmy punya keunikan tersendiri yakni selalu kasi permen lolipop ke setiap orang yang dia senangi. Eog contohnya, udah 2 kali ketemu dengan Jimmy dan 2x pula dia kasi lolipop tanpa dia perduli lolipop nya dimakan sama siapa atau malah dibuang, dia tetep aja kasi. Jimmy juga punya hewan piaraan, namany Johny, seekor bebek. Letak panti jompo Dautta Galla, Grantham Green ini dekat dengan sebuah sungai dimana sering ada beberapa bebek di situ. Jimmy sering menghampiri sungai tersebut dan memberi makan bebek2 di sana. Ketika saya dan Kristina sempat lewat sungai itu, saya tanya bebek yang mana yang namanya Johny? Kristina pun tak tau karena semuanya dipanggil Johny sama Jimmy. Keunikan lain dari Jimmy adalah dia selalu manggil setiap pengasuh dengan sebutan “Mami” karena dia kesulitan mengingat nama.

Di setiap kamar penghuni terdapat papan nama dari si penghuni yang bersangkutan. Dan keunikan lain tentang Jimmy adalah di papan namanya tepatnya di bawah namanya terdapat tulisan “General Manager”. What? Apa maksudnya ini? Saya iseng2 tanya sama Jimmy nya langsung yang kebetulan ada di dekat kami yang lagi asik menyantap pastel. Jawabannya jujur aja saya bingung. Entahlah apa itu menjawab pertanyaan saya atau tidak, tapi keterbatasan inggris saya menyimpulkan dia malah ngejelasin apa itu “General Manager” bukannya ngejelasin kenapa ada tulisan itu di papan namanya.

Penghuni berikutnya yang masih masuk kategori layak untuk diceritakan adalah si kakek John. Kakek John, pernah nunjukin fotonya waktu dia muda ke Kristina. Kata Kristina waktu muda kakek John ini mirip sama aktor Holywood, Nicolas Cage. Kakek John ini masih bisa dibilang waras lah karena saya ajak ngomong semua pembicaraan kita nyambung, Cuma dia harus pake alat bantu jalan aja karena badannya udah ga kuat. Selama acara berlangsung saya ada sempet beberapa kali ambil gambar kakek John dengan Zlata sang pengasuh. Yang bikin saya geli adalah Zlata sering banget mainin jenggotnya kakek John yang udah putih semua itu sambil ngeledek-ledekin. 

Ditengah acara kami sempat mengobrol dengan anak dan cucu dari Gwen, penghuni panti jompo. Si cucu yang bernama David, ternyata dari kecil sering difoto2 terus pas udah bisa jalan dia sempet jadi model. Tapi katanya dia yang sekarang berusia 14 tahun udah ga jadi model lagi karena udah terlalu sibuk sama aktivitasnya di sekolah sekaligus olahraga. Olahraga apa? Kalo anda tinggal di Ausie anda pasti bisa nebak olahraga apa yang saya maksud. Mereka menyebutnya Football tapi ini bukan sepak bola. Olahraga ini lebih mendekati Rugby, tapi tanpa pelindung tubuh seperti helm atau pelindung bahu. Buat saya olahraga ini olahraga orang gila, yang sama sekali ga mengutamakan keselamatan pemainnya. Anehnya orang Ausie tergila2 dengan olahraga ini. Kalo sampe ada momen pertandingan lokal, udah pasti deh stasiun kereta api penuh sesak.
Kami juga sempet ketemu Jam temen kerja Kristina yang harusnya udah kelar kerja tapi dia dateng lagi buat ngisi acara, dan Jessica adiknya. Jessica ini punya keunikan hobi yaitu, memelihara binatang eksotik, yaitu Blue Tangue Lizard (kadal lidah biru). Ih, saya aja liat foto di google udah merinding, kok ya ada anak kecil malah tertarik pelihara binatang kaya gitu. Dan entah seperti kekuatan pikirannya Jessica atau hanya kebetulan, Jessica mengharapkan memiliki kadal yang sama satu lagi supaya kadalnya punya temen. Tiba2 aja pabrik tempat saya kerja ditemukan kadal yang sama seperti yang Jessica perlihara, Blue Tangue Lizard, iiiiihhh... Setelah ditangkap saya minta itu kadal buat saya kasi ke Jessica dan sepertinya dia seneng dengan kadalnya, hanya saja terlalu besar, sementara kadal yang dia punya sebelumnya berukuran setengah dari yang saya kasi. Gpp, Jes, kalo kamu keberatan buang aja, ga usah repot2 dibalikin ke saya.

Setelah makan2, Jam dan Amanda, keduanya temen kerja Kristina, mengisi acara dengan menyanyikan lagu natal. Spontan para hadirin terutama kakek/nenek ikut bernyanyi menyemarakan suasana. Jam pada posisi gitar dan Amanda di posisi vokal. Setelah menyanyikan sekitar 10 lagu, suasanya disemarakan lagi dengan tarian dari Poni, salah satu staff di situ juga. Poni menyemarakkan dengan tarian dari Tonga dan kebetulan Poni juga dari Tonga, tarian yang kekuatannya ada di goyangan pinggul. Kristina merasa adem ayem aja saya nonton tariannya Poni, karena dia tau saya ga bakalan kesem-sem sama si Poni. Istilahnya mah bukan tipe saya lah. Pasti anda baru denger yang namanya Tonga. Itu sebuah negara lho, anda tau? Weleh, weleh, weleh... Kalo anda tau berarti anda lebih hebat dari saya. saya aja baru tau kalo ada negara yang namanya Tonga, luasnya kira2 setengahnya Singapura, seupluk doank. Kena tsunami juga lenyap itu pulau...

Tarian Gangnam Style
Setelah tarian dari Poni selesai saya balik ke tempet makan maksudnya mo ngambil dessert gitu. berhubung saya ga tau acara selanjutnya apa jadi saya berlama2 di ruang makanan sambil foto2 dessert nya. Tiba2 ada lagu Gangnam Style terdengar di luar sana. Wah, apa lagi nih? Kenapa harus Gangnam Style sih? Ini lagu populer banget, sampe semua orang memperdengarkannya. Bahkan grup tarian yang lagi pentas ternyata mempertunjukkan tarian Gangnam Style. Oh, my jot. Tapi berhubung ini momen, jadi saya foto aja. Tapi ternyata lucu juga, terutama ketika melihat Jessica di situ dan satu anak cowok (sepertinya seumuran Jessica) menari dengan lancar dan hafal setiap gerakan, walaupun ga kompak.

Sekiran laporan acara natal bersama kakek/nenek di panti jompo Doutta Galla, Grantham Green. Merry Chrismast semua...



Minggu, 09 Desember 2012

Tempat Tinggal Ketiga


5 hari setelah kedatangan Reza dan Meili membawakan makanan ke rumah dalam rangka perayaan kedua ulang tahun Kristina yang juga dihadiri oleh Jam, saya melakukan inspeksi ke suatu rumah yang sudah menjadi target incaran kami untuk kami tinggali setelah si Bayi lahir. Sekali lagi, cerita ini udah basi, tapi untuk alasan dikenang jadi saya harus ceritakan.

Kami memang sudah berencana untuk hengkang dari rumah yang pertama kali kami sewa sejak tinggal di Melbourne. Kami menemukan satu rumah yang berada di sudut jalan dan kebetulan berseberangan dengan tempat kerja Kristina. Selama ini kesulitan Kristina dalam bekerja sejak hamil adalah harus berjalan setengah jam dari rumah ke tempat kerja dan setengah jam lagi untuk kembali ke rumah. Tapi sejak hamil perjalanan tersebut menjadi semakin lama dan panjang dikarenakan rasa sakit di tengah jalan terkadang muncul, bahkan Kristina tidak bisa berjalan secepat dulu seperti sebelum hamil. Jadi kami berkesimpulan untuk mencari tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerjanya dan kami menemukannya, hanya butuh waktu 28 detik kalo kata google map.

Berikut ini foto2 yang saya ambil pada saat inspeksi rumah karena Kristina sedang bekerja dan saya Cuma dikasi waktu 1 jam. 

Dapur
Kamar Mandi



Living Room
Seperti yang terlihat di gambar semuanya masih kosong. Tapi tahukah anda bahwa rumah yang sama setelah terisi dengan barang2 yang hampir setengahnya tidak kami beli?
T: “Lho, ga beli, apa maksudnya?”
J: “Iya, karena barangnya kami pungut di jalan.”
T: “Mungut, cerita apa lagi nih? Mulung ya?”
J: “Pada waktu kami pindahan ternyata timing nya bertepatan dengan moment pembuangan barang2 bekas. Di Melbourne, khususnya daerah tempat kami tinggal, pemungutan barang bekas oleh pemerintah akan dilakukan di bulan Juli secara gratis. Kita tidak bisa sembarangan membuang barang bekas seperti elektronik, sofa, kasur, dll. Bila tidak sesuai jadwal kita harus membayar sejumlah uang untuk pemungutan tersebut. Tapi pemerintah memberikan waktu sekali dalam 1 tahun untuk pemungutan barang bekas secara gratis.
T: “Jadi itu barang bekas? Emang masih bisa dipake?”
J: “Awalnya saya pikir juga ga bisa dipake lagi. Tapi kok dilihat2 barangnya masih bagus2, jadi saya ambil dan kalo ditotal saya sudah berhemat kira2 $5,000 untuk memenuhi keperluan rumah tangga. Untuk barang elektronik tidak ada yang saya ambil karena entah kenapa setiap barang elektronik yang dibuang pasti kabelnya udah dipotong. Mungkin itu prosedur yang harus dilakukan untuk keselamatan pekerjanya di pusat penampungan kali.

Di awal-awal saya mungut rasanya malu kalo sampe ada yang liat. Tapi ketika barang2 yang dibuang di depan tiap2 rumah semakin banyak dan pemungutan belum dilakukan, saya lihat ada begitu banyak orang juga yang melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan. Mereka bahkan dengan santainya memilah-milah mana barang yang mau mereka ambil. Bahkan beberapa dari mereka yang punya mobil mengangkut dan memasukkannya ke dalam mobil mereka.

barang2 yang saya pungut antara lain 2 sofa besar, 3 matras King size, 3 matras Single size, 1 set matras Queen size.2 meja, rak dengan 6 laci yang di atasnya bisa ditaruh televisi, 2 kereta bayi, 2 tempat tidur bayi,  1 ember mandi bayi, Microware (beruntung kabelnya belum dipotong), rak piring, Heater, ketel listrik, toaster, peralatan barbeque, piring-piring, gelas, mangkok, alat makan, beberapa panci, tempat sabun, dan beberapa baju dingin, sprei, dan selimut bulu. Masih banyak lagi yang perintil-perintil yang tidak bisa saya sebutkan satu2.

Kenapa saya ambil 3 matras yang ukuran King size? Karena planning saya ketiganya mau saya tumpuk jadi satu sehingga agak tinggi dan ga perlu menyediakan ranjang. Kenapa saya ambil 3 buah matras single size? Tujuannya sama yakni untuk meninggikan sehingga ga perlu ranjang. Nah yang matras Queen size sudah 1 set jadi ga perlu ditumpuk sama apapun. Matras yang satu ini memang yang paling bagus diantara matras2 yang lain.

Kenapa saya ambil 2 buah kereta bayi? Karena yang satu buat balita yang memposisikan si anak duduk lebih tegak sehingga tidak bisa dipakai buat bayi yang baru lahir. Kereta bayi yang satunya lagi buat new born alias bayi baru lahir dimana posisinya lebih cenderung ke arah tiduran.

Kenapa saya ambil 2 buah tempat tidur bayi? Karena yang pertama terlihat cantik, cute tapi sayang kurang kokoh. Baru disadari setelah Eog ditaroh di atasnya, sekali Eog menggeliat, tempet tidurnya langsung goyang2, padahal tempet tidurnya diperuntukan bayi baru lahir dan Eog pun baru lahir waktu itu. Sementara kedua lebih bagus, baik dan kuat, tapi sayang tidak memenuhi standar australia karena terbuat dari plastik. Kristina yang tipe orangnya idealis dan ga suka melanggar aturan, tetep kekeh ga mau pake tempet tidur yang saya nemu itu, karena pihak klinik sempat berkunjung dan melarang pemakaian tempat tidur tersebut. Ga tau ini mukjizat atau kekuatan pikiran, kira2 2 minggu setelah Eog lahir ada Garage Sale di depan gereja. Garage Sale adalah aktifitas penjualan barang2 bekas pakai yang dilakukan oleh rumah tangga biasa. Misalnya saya punya barang menumpuk di gudang dan barang2nya masih layak pakai. Saya bisa lakukan Garage Sale, menjual semua barang2 tersebut untuk mengosongkan gudang saya. Daripada dibuang kan lebih baik dijual. Nah, tiba2 saja saya menemukan tempat tidur bayi dari kayu yang diminta dari pihak klinik, mereka menghargainya $80, dimana harga barunya adalah $200.




Heater, pemanas ruangan

Happy Birthday Kristina 31th


Saya baru sadar setelah bongkar2 foto, ternyata ada begitu banyak moment yang belum saya posting, salah satunya ini, ulang tahun Kristina yang ke 31 tanggal 14 Juli yang lalu. Lama banget ya udah, dan basi banget ceritanya tapi saya tetep harus ceritain sebelum tahun berganti dan kenangan itu semakin memudar. Berhubung Kristina lagi kerja dan Eog udah ada yang handle (Maminya Kristina) jadi saya punya waktu untuk nambah postingan.

Oke, to the point aja, soalnya waktu yang saya punya sedikit sementara topiknya menumpuk. Ultah Kristina kami rayain dengan makan2 di restoran Korea Toodouri yang berseberangan dengan Queen Victoria Market, pasar yang dikenal murah dan sudah ada sejak 1850an. Murah sebenernya relatif, karena saya menemukan banyak pasar yang lebih murah ketimbang Queen Victoria Market ini. Mungkin maksudnya murah buat yang tinggal di City kali ya.

Di Toodouri kami pesen barbeque, kimchi pancake, dan... Ya ampun saya lupa semua namanya gara2 ga langsung diceritain di blog sih deket2 moment nya kemaren. Saya aplot fotonya aja ya. Mungkin buat mereka pecinta masakan Korea hanya dengan melihat gambarnya mungkin langsung tau apa itu namanya. Tapi tidak dengan saya. Maksudnya saya suka dengan Korean Food tapi saya punya masalah yaitu sulit mengingat nama, baik nama orang, judul film, ataupun masakan/makanan.

Meili dan Reza ada kasi kado buat Kristina seperangkat food processor dimana ada blender juga salah satunya. Sayang sekarang ga bisa dipake lagi karena rusak. Entah karena Russel Hobbs bukan merek bagus atau karena Kristina yang tiap hari pake jadi mesinnya ga sempet ngaso. Tapi yang pasti nilai ekonomisnya udah kami nikmatin dan seandainya kita punya receipt nya pasti bisa dikembaliin ke tokonya dan minta uang kembali.

Dewi salah satu teman kami yang diundang makan bareng juga pada waktu itu ga bisa dateng karena ada urusan katanya. Entah urusan apa, tapi yang pasti momen nya terlewat tanpa dia, momen yang tidak bisa diulang. Tapi pas pulang ke rumah Dewi ada kasi kado ke Kristina yaitu sepatu Crock warna hitam cocok buat dipakai kerja di panti jompo. Tapi berhubung pada waktu itu Kristina lagi hamil, ternyata ukuran kakinya membesar jadi ga bisa dipake. Alhasil sepatunya disimpen dulu sampe bayinya brojol, nah, sekarang baru deh Kristina bisa pake sepatunya.

Keesokan harinya Reza dan Meili dateng lagi mengantarkan banyak makanan harus percobaannya sekaligus untuk merayakn ultahnya Kristina. Kebetulan waktu itu juga ada Jam, temen kerja Kristina dari Philipina jadi cukup ramai orang2 yang hadir pada malam itu. Dan sekali lagi Dewi tidak ada di tempat. Saya lupa dimana dia, apakah dia kerja atau mengurus ‘urusan’ lagi. Entahlah, terlalu banyak urusan teman kami satu ini.

Pada waktu itu Reza dan Meili membawa 2 macam makanan yang tidak bisa kami habiskan dalam semalam itu. Yang pertama Sticky Dates yang terbuat dari kurma, oh my jot, enaaak buanget... Saya baru pertama kalinya makan Sticky Dates jadi ga ada pembandingnya. Tapi saya yang penyuka kue2 dan cake berani katakan ini enak dan tamparan buat saya karena saya bilang sebelumnya “Kok bentukannya kayanya ga enak ya, Za?” Sticky Dates yang berwarna coklat tua seperti Black Forrest ini dimakan dengan kuah kental yang berwarna coklat muda. Kuahnya ini yang membuat saya memandang sebelah mata dalam hal rasa. Tapi saya tertohok dan tertampar bolak balik, malah kuahnya lah yang bikin enak dan paling enak. Asem tenan ik... Bikin saya malu aja waktu itu. Awalnya bilang ga enak tapi abis itu nambah.

Lanjut ke makanan yang kedua yang dibawa Reza dan Meili adalah Pastel Tutup. Ini sebenernya sama enaknya dengan Sticky Dates tadi. Hanya saja Pastel Tutup ini bukan sejenis cake, melainkn seperti pastel, jadi lebih ke rasa asin sementara  Sticky Dates rasanya manis. Sayang banget, saya keburu kalap waktu itu dengan melahap Sticky Dates terlalu banyak sehingga Pastel Tutup nya saya hanya mencicipi 1 piring saja. Isi dari Pastel Tutup tersebut sama halnya seperti pastel pada umunya, ada kentang, wortel, bihun/so’un. Hanya saja terdapat kuah2 bumbu di dalamnya yang menambah kenikmatan tersendiri bagi saya.

Saya heran sama Reza ini, naluri masaknya bener2 jalan. Ternyata Sticky Dates itu adalah menu di restoran Malaysia tempet dia kerja. Dan entah dari mana dia dapet resepnya, pastinya bukan tertulis. Mungkin dia sempet melihat bagaimana cara pembuatannya ketika di dapur restoran. Atau mungkin saja sang koki Cuma menceritakan secara lisan proses pembuatannya. Inilah yang disebut talenta. Ketika kita sudah menemukan apa talenta kita, maka sesusah apapun rintangan hidup rasanya tetep bisa menikmati pekerjaan. Tantangan buat saya untuk menemukan apa sebenernya talenta saya.

Oya, ada yang kelupaan cerita. Dikarenakan waktu pentraktiran temen kami Dewi ga bisa hadir maka kami merencanakan pentraktiran spesial buat dia. Kami makan bareng di Quang Vinh, restoran Vietnam yang selalu rame padahal harganya ga murah2 amat. Quang Vinh ini berbeda dengan Quang Tao tempet kami makan bareng pas Eog dibabtis. Mungkin mereka masih sodara kali ya, abis namanya mirip2, pasti mereka dari keluarga Quang, xixixixi... 

Quang Vinh masih satu deret dengan Quang Tao dan tempetnya dua kali lebih luas dari Quang Tao. Di Quang  Vinh ini Kristina paling suka Custard Apple Juice (jus sirsak) nya karena katanya lebih kental dan lebih berasa sirsaknya dibanding Song Huong. Jus alpukatnya pun begitu tapi sepertinya Kristina lebih milih Quang Vin. Untuk lebih jelasnya mengenai Quang Vin Resto silahkan baca di sini. 

Sepertinya Dewi pada waktu itu memang momennya pas sibuk2nya atau jangan2 dia mengekskulsifkan dirinya? Entahlah, hanya langit dan Dewi saja yang tau. Pentraktirn Dewi pun kami lakukan pada saat malam hari setelah dia pulang kerja. Dewi berangkat dengan menggunakan Jaket winternya yang baru saja dia beli. Padahal pada waktu itu winter sudah mau selesai.
Sticky Dates dan Pastel Tutup
Penyajian Sticky Dates
Kado dari Dewi
Atas: Saya, Reza
Bawah: Meili, Jam, Kristina

Sabtu, 08 Desember 2012

Dibabtis dan Digundul

*Paroki: istilah yang digunakan untuk menyatakan suatu kawasan gereja.

Dibabtis Pastur John O'Relly
25 November kemaren kami membabtis Eog di gereja Paroki Sacred Heart, Saint Albans. Perasaan tegang sempet saya rasakan karena khawatir ada hal2 yang tidak berjalan mulus ketika prosesi dilaksanakan nanti. Untungnya semua berjalan baik walaupun sempet lilin babtis yang saya pegang padam tapi Mario, aktivis gereja, dengan sergap segera menghampiri saya yang sedang di depan altar menunggu moment penyiraman air babtis ke kepala Eog. Apinya didapat dari lilin besar yang ada di sebelah saya tapi waktu Mario mendekatkan lilin babtis Eog yang tingginya hanya 5cm mendadak tangan Mario luput dari genggaman lilinnya. Alhasil lilin babtisnya berenang2 di kolam lilin besar. Problemnya sekarang adalah gimana caranya ngambil lilin babtisnya yang tercelup lilin panas itu? Hohoho... Mario yang nahan panasnya diambil gitu aja dengan tangan kosong. Mantabs...

Bersama orangtua babtis
Sebenernya lokasi tempat tinggal kami bukan termasuk Paroki Sacred Heart melainkan Paroki Holy Eucharist yang masih berlokasi yang sama yaitu Saint Albans. Tapi karena pembabtisan bayi di Paroki Holy Eucharist setiap minggu pertama dimana Reza dan Meili sebagai orangtu babtisnya ga bisa hadir karena mereka udah booking tiket ke Great Barier Reef jadi kami mengalihkannya ke Paroki Sacred Hearth dimana pembabtisan bayi setiap minggu terakhir setiap bulan.

Prosesnya persis seperti yang kami duga, tak semudah seperti joint MLM atau ngelamar kerja. Suster Judith yang kebetulan mengurusin prosedur pembabtisan bayi, menginterview kami, menanyakan kami paroki mana, tinggal dimana, berapa kali ke gereja. Dan kami paparkan semuanya termasuk alasan kami ingin dibabtis di Paroki Scred Heart tersebut yakni karena orangtua babtisnya akan kembali ke Indo karena visa mereka habis dan kami ga bisa membabtis Eog pada bulan lalu di Paroki Holy Eucharist dikarenakan Eog belum diimunisasi.

Setelah Suster Judith berunding dengan pastur paroki, John O'Relly akhirnya Eog diperbolehkan untuk dibabtis di situ bahkan kami ga perlu mengikuti kelas yang harus dihadiri sebanyak 2x yang diperuntukan bagi mereka yang jarang ke gereja.

Calon babtis dari 3 ras yang berbeda
Singkat cerita pembabtisan berjalan lancar lah, Eog ga teriak-teriak atau menggeliat waktu air babtis disiram layaknya orang kesurupan yang roh jahatnya keluar. Tapi ada satu hal yang membuat saya dan Kristina cukup terkejut, bahwa ternyata peserta yang akan dibabtis hanya 3 orang termasuk Eog. Uniknya lagi 2 yang lain berasal dari ras yang berbeda. Jadi, ketika kami berdiri di depan altar sebagai orangtua bayi, terkesan kami seperti perwakilan dari 3 ras yang berbeda dalam satu pembabtisan kudus, negro, bule, asia. Sorry, saya harus bilang "WOW" untuk yang satu ini walaupun mungkin anda udah emped dengernya. Momennya indah banget...

Bersama Gabriel Filbert
Untuk pertama kalinya saya membabtis anak saya setelah sebelumnya saya sempat menjadi orangtua babtis waktu di Jakarta. Orangtua babtis dari anak temen kuliah sekaligus temen kantornya Kristina waktu di Machindo. Nama anaknya Gabriel Filbert. Ngomong2 Filbert kaya apa ya sekarang? Jadi kangen...

Abis acara "sirem2an kepala", kami makan bareng di Quang Tao, restoran Vietnam tapi menyajikan chinese food juga, masih di bilangan St. Albans, ga jauh dari gerejanya. Yang paling saya suka sih menu ceker ayamnya, walaupun sekarang saya baru tau ada restoran lain yang lebih enak lagi ceker ayamnya. Saya akan ceritakan di postingan yang lain mengenai reviewan resto tersebut. Dan ternyata waktu kami sampe restorannya, Meili dan Reza udah sering makan di situ cuma ga pernah tau nama restonya.

Makan2 di Quang Tao setelah babtisan
Pulang ke rumah, Eog langsung digarap abis2an... Rambutnya maksudnya. Penggundulan rambut Eog yang menurut tradisi orang Indo harusnya 1 bulan setelah lahiran untuk buang sial katanya tapi ini baru dilakukan setelah 2 bulan. Dengan menggunakan cukuran kumis, penggundulan Eog sekaligus untuk mengerok kulit kepalanya yang terlihat setengah mengelupas dan mungkin saja selama ini Eog merasa gatal. Abis digundul, Eog seharian tidur, entah karena efek penggundulannya yang bikin adem atau memang capek karena seharian keluar rumah.

Momen penggarapan lahan pertama kali
Deogratias, kiranya diberkatilah engkau dalam setiap langkah yang kau ambil, sikap yang kau tunjukan, dan kasih yang kau sebarkan. Kiranya Tuhan memberikan kebijaksanaan, rasa takut padaNya sebagai dasar pengetahuan, dan melatih dirimu untuk menjadi manusia yang berkualitas. Artinya Engkau akan diberikan banyak masalah yang harus engkau lewati supaya mental, tubuh, dan rohmu menjadi kuat. Engkau tidak perlu menyelesaikan masalahmu karena itu bukan bagianmu. Engkau hanya perlu meyakinkan dirimu bahwa engkau mampu untuk melewatinya. Teruslah bermimpi, jangan berhenti, lalu kejar apa yang kau impikan itu supaya kiranya engkau tidak menyia-nyia hidup yang kau jalani hanya 1x dan tak ada kuasa yang mampu mengulangnya. Jadilah orang yang mampu mengendalikan dirimu sepenuhnya karena orang yang tidak mampu mengendalikan dirinya tidak mungkin mampu mengendalikan orang lain. Tubuhmu lemah tapi rohmu kuat. Karenanya latihlah rohmu juga selain tubuhmu supaya engkau kuat di dalam maupun di luar.

5 Mainan Baru

Berikuti ini adalah 'mainan2' yang saya miliki setelah saya tinggal kurang lebih 1 tahun di Melbourne. Tujuannya postingan kali ini adalah mau ngabarin keluarga yang di rumah supaya dapet gambaran seperti apa kehidupan saya di sini sekarang, tidak ada maksud untuk memamerkan apa yang saya miliki karena kami datang ke sini dengan tangan kosong dan yang kami miliki sekarang hanyalah alat sementara untuk menunjang hidup. Jadi buat para pembaca yang kurang bisa berpikir objektif mungkin sebaiknya lewatkan saja postingan kali ini karena dikhawatirkan akan berpikir negatif. 

Perlu saya paparkan kenapa saya harus ngabarin orang di rumah mengenai kehidupan saya di sini? Karena ada beberapa sisi kehidupan dari kami yang mereka tidak percaya bahwa kami memang sudah mencapainya. Bahkan ketika kami mau membeli barang di point terakhir di bawah, mereka meragukannya karena yang mereka tau saya belum bisa menggunakannya.

Beberapa dari list ‘mainan’ di bawah ini sebenernya sudah pernah saya paparkan di postingan sebelumnya di sini tapi baru kali ini terealisasi. Jadi saya merasa perlu untuk memaparkannya sekaligus bisa menjadi pelajaran buat para pembaca kalau mempunyai impian cobalah untuk mengabadikannya dengan cara menulisnya atau mencari gambar dan memajangnya di tempat2 yang sekiranya setiap saat bisa terlihat. Inilah yang disebut kekuatan afirmasi. Baiklah, mari kita mulai mengurutkan list nya berdasarkan dari pertama saya mendapatkannya.

1.      Kamera SLR
Sudah lama saya mengidam-idamkan sebuah kamera SLR yang bisa memfoto fokus dengan background blur atau sebaliknya atau modifikasi lainnya. Ketika kebetulan ada uang, istri langsung menyarankan ‘Beli aja kameranya, nanti nyesel lho...’ Pasalnya ketika instruksi dari istri untuk beli kamera yang selama ini saya inginkan, perasaan saya balik lagi seperti dulu, sayang2 uangnya. Dan berpikir ulang: “Apakah saya terlalu boros kalo sampe beli kamera aja sampe seharga $1,500?” Harga lebih mahal ketimbang motor Supra Fit yang yang saya beli dulu. Tapi pikiran itu langsung saya patahkan karena saya mau berubah, saya mau belajar menikmati hidup ini. Saya punya banyak keinginan dan selama itu halal saya yakin Tuhan pasti tidak akan menghalangi saya untuk mengejarnya.

2.      Iphone
Di Ausi ini bukan barang mewah. Hampir setiap orang punya iphone dan penjualannya sudah seperti jual kacang goreng dimana yang beli ga abis2 seolah2 itu iphone harganya beda tipis sama kacang. Make iphone di Ausi sama sekali ga ada gengsinya dikarenakan sudah pasaran dan seperti barang gampangan untuk dimiliki baik bagi mereka yang punya mobilitas tinggi atau mereka yang senang dengan kemajuan teknologi. Bahkan yang Cuma pake buat telpon or sms aja beli iphone juga. Kerja jadi tukang cuci piring aja saya berani jamin anda bisa beli Iphone. Waktu Kristina pulang Indo untuk menghadiri perkawinan adiknya, sodara2nya cukup terkesima dengan melihat iphone 4s miliknya. Saya beli iphone ini tujuan pertamanya adalah karena pengen tau seperti apa teknologi smartphone karena selama ini saya pakenya hp monophonic. Setelah tau, aduh, maaf saya bukan tipe orang yang bisa kecanduan teknologi, jadi saya ga punya planning untuk meng-upgrade menjadi Samsung Galaxy atau iphone 5. Maaf tidak ada foto untuk list kali ini karena saya lupa foto waktu baru beli. Kalo mo di foto sekarang malu soalnya iphone nya udah jelek, hehehehe... Ada info yang perlu diketahui perihal sistem pembelian Iphone di oz. Kita bisa beli secara cash sekitar $800 (tipe 4s) tapi akan lebih murah jika kita beli dengan sistem kredit. $49 per bulan selama 2 tahun dimana $49 itu sudah termasuk pulsa yang bisa kita pakai. Artinya kalau kita ga pernah pakai pulsa, kita tetep bayar $49/bulan dimana rekening kita akan terpotong secara otomatis tapi kalo kita pakai pulsanya $55 (misalnya) pada bulan itu maka rekening kita akan dipotong sebesar $55.

3.      Sepeda
Bukan BMX, bukan pula Federal. Saya pun tak yakin apakah merek sepeda ‘Norco’ yang saya beli ini merupakan mereka terkenal. Tapi harganya buat saya termasuk tinggi, $450. Sekali lagi, awalnya saya udah ga mau beli dikarenakan over budget. Tapi dikarenakan kondisi yang mendesak dimana Vincent, teman pabrik yang biasa antar-jemput saya, tidak bisa lagi meneruskan kerepotannya dikarenakan dia pindah tempat tinggal ke City yang sudah barang tentu semakin jauh dari tempat kerja. Jadi dengan berat hati tapi seneng (karena bisa nyepeda ke pabrik) saya beli lah sepeda yang merek dagangnya ga jelas itu, sambil menunggu SIM dan Mobil yang pada waktu itu masih dalam perencanaan untuk membelinya.

4.      Mesin Potong Rumput
Manual $118
Mesin $411.79
Saya harus sebut ini mainan karena sejujurnya saya menyukai aktifitas memotong rumput. Entah kenapa, anda boleh bilang saya aneh, tapi ketika melihat hal yang berantakan dan menjadi rapi setelah dirapikan, rasanya menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri di situ. Nah, ternyata di Melbourne ini kalo tinggal di area rumah yang memiliki pekarangan/halaman rumput, kita punya kewajiban untuk memotongnya atau setidaknya menjaganya tetap pendek supaya tidak ada ular/hewan lain yang membahayakan. Tetangga bahkan punya hak untuk mengadukan rumah kita ke pemerintah kalau rumputnya tinggi2. Awalnya saya beli potong rumput yang manual, yang pisaunya akan memutar kalau alatnya didorong/digerakkan bersamaan dengan roda yang berputar. Selain untuk membakar kalori dan harganya murah, potong rumput manual ini ramah lingkungan (karena tidak menggunakan bahan bakar). Tapi sayang ga bisa bekerja dengan semestinya karena tiap kali memotong rumput yang terlalu tebal langsung bikin pisaunya berhenti dan nyangkut gara2 rumputnya. Selain itu karena rodanya dari plastik jadi ada kalanya waktu mendorong rodanya ga muter karena licin. Kalo rodanya ga muter otomatis pisaunya juga ga muter. Alhasil saya minta uang kembali dari “Big W” toko tempet saya membeli menggantinya dengan membeli mesin potong rumput yang lebih powerfull dan tidak ramah lingkungan tentunya karena menggunakan bensin dan oli samping. Apa boleh buat karena rumput di rumah udah mirip di hutan belantara yang tingginya sebetis orang dewasa.

5.      Mobil
Akhirnya kebeli juga mobil. Walaupun secondhand dan manual tapi Yaris 2006 ini termasuk masih bagus baik dari warna maupun mesinnya. Kilometernya pun baru 66.000 km dan berdasarkan pernyataan si sales katanya pemilik sebelumnya cewek makanya masih terlihat baik. “Apa maksod lo? Jadi lo mo bilang para pria adalah pengrusak?” Ternyata di Melbourne kalo beli mobil manual lebih murah ketimbang yang metic karena di sini sebagian besar orang lebih cenderung menggunakan yang metic, lebih ga capek dan cepet belajarnya. Sementara di indo kalo yang metic malah lebih murah kan? Yup hukum ekonomi, hukum permintaan dan penawaran. Semakin tinggi permintaan harga meningkat, semakin rendah permintaan harga menurun. 

Sabtu, 01 Desember 2012

Happy Anniversary ke-3

* Lab praktikum Kampus
* : Lokasi

28 November kemaren saya sekeluarga ditraktir sama Dewi, temen kuliah sekaligus share mate di Melbourne. Dewi yang dateng ke Melbourne dengan menggunakan Work and Holiday Visa setahun yang lalu tak terasa visanya udah mau abis aja. Sebenernya visanya Dewi habis tanggal 3 Desember, tapi berhubung dia diajak temennya nginep di rumahnya di City (mungkin dalam rangka perpisahan), jadi Dewi minggat lebih awal. 

Traktiran Dewi sekaligus memperingari Hari Pernikahan saya dan Kristina yang ke-tiga. Kami mulai kenal  tahun 2001 waktu Kristina memperkenalkan diri di depan kelas sebagai Asisten Dosen mata kuliah Pengantar Akuntansi 1. Kami mulai pacaran 19 Juni 2002, berarti kami kenal udah lebih dari 10 tahun yang lalu. Yang paling berat dalam membina hubungan menurut saya adalah memahami karakter pasangan sambil menekan ego. Tapi menurut Kristina kalo ga salah denger dulu dia pernah bilang yang paling berat buat dia adalah hubungan jarak jauh.

* Taman Sari, Yogya, belakang pasar hewan Ngasem
Yup, memang kami sempet menjalani hubungan jarak jauh dikarenakan Kristina yang lulus lebih dulu karena dia lebih tua 2 tahun dari saya plus lulus cepat (cum laude). Ditambah lagi sayanya bego lulusnya lama, semakin memperparah keadaan dan memperpanjang lamanya hubungan jarak jauh tersebut. Kalo ga salah itung sih kira2 4 tahun kami jarak jauh dari total 8 tahun pacaran.

Kami dari budaya keluarga yang beda drastis menjadi penyebab utama setiap pertengkaran kami. Yang selalu saya ingat cuma satu penyebab setiap pertengkaran kami, yaitu Uang. Kalo udah urusannya sama duit, pasti kami berantem mulu. Kristina yang budayanya "uang bisa dicari tapi moment ga bisa diulang" bentrok drastis sama paham yang saya genggem selama ini, "menahan diri dan berhemat pangkal kaya" karena menurut saya dengan menjadi kaya kita pasti bahagia.

Intinya kami berdua sebenernya sama2 ingin menggapai apa yang kami inginkan dalam hidup, hanya saja cara kami berlawanan, padahal kami merupakan pasangan yang harusnya penuh toleransi dan memahami karakter masing2. Yang terjadi adalah selama pacaran kami berusaha untuk saling mempengaruhi satu sama lain supaya diikuti pahamnya. Saya pengen Kristina berhemat dan menahan diri untuk segala kesenangan seperti makan enak dan jalan2 supaya bisa lunasin utang, ngumpulin duit, beli rumah, dll. Sementara Kristina merasa dia udah stres di tempet kerja, satu2nya yang bisa menghibur dirinya dari stres adalah melakukan hal yang dia senangi yaitu makan enak dan jalan2.

*Di bawah Tugu Yogyakarta
Saya semakin stres karena gaji kami berdua walaupun ditotal bisa nyampe Rp 10 juta tapi ga cukup buat membiayai hidup di Jakarta yang kejam. Kenapa bisa ga cukup? Dikarenakan kami sama2 anak pertama, saya mewajibkan diri mengirimi bulanan untuk orangtua sebagai wujud respek dan balas budi, dan Kristina sebagian besar uang dan utangnya dipakai untuk membiayai kuliah adik2nya sekaligus biaya hidup mereka. 

10 tahun kami saling mengenal dan buat orang seperti saya yang egonya tinggi karena kurang mendapatkan pelajaran tentang bagaimana cara mengayomi dan menjadi tulang punggung keluarga, sehingga menyebabkan saya butuh waktu lama untuk mau mengalah dan menyadari bahwa beban Kristina lebih berat dari saya. Saya hanya punya satu adik dan itupun udah mandiri sebagai guru di BPK Penabur. Sementara Kristina punya 4 adik yang belum mandiri, 2 orang masih harus dibiayai kuliahnya, 2 lagi kerja dengan gaji yang senen/kemis dan ga pernah sisa di akhir bulan. 

*Di kawinan sepupu Kris di Pekalongan yg suaminya seorang fotografer
Singkat cerita saya mengalah dengan cara mencoba merendahkan hati dan ego untuk mengikuti apa yang istri rencanakan untuk masa depan adik2nya dan keluarga kami. Tentunya tak semudah membalikan telapak tangan. Walaupun udah memutuskan untuk mengikuti keinginan istri, ego ini sering kali muncul ditengah planning yang sedang mulus dikerjakan. Yah, berantem lagi, tapi ga sedasyat dulu. Kali ini dengan intonasi nada bicara yang ga sengak lah karena sadar dan tau betul bahwa tujuan dari semua ini adalah baik.

Semuanya butuh proses, dan yang paling ga enak adalah kalo prosesnya butuh waktu yang panjang. Kalo menilik lagi ke belakang, rasanya kok kagum dan heran kami bisa melewati itu semua. Rasanya bener2 berat waktu dibayangin lagi. Dan kalo ditawarin untuk mengulang kejadian 10 tahun yang lalu, hmmm... saya dengan tegas dan lantang menjawab: MENOLAK karena saya pasti jatuh dan aduh... ga kuat saya ngebayanginnya aja.

*Kris di Wisuda, awal penderitaannya, LDR
Lebih dari 10 tahun bareng dan 3 tahun dalam pernikahan, itu pun sampe sekarang saya masih proses. Proses untuk mengontrol ego dan menerima paham yang istri anut. Karena hati kecil sebenernya tau kalo paham istri lebih bener ketimbang paham yang saya anut cuman saya nya aja yang gengsi buat ngaku (udah di posting di blog mah sama aja udah mengakui, pet, gimna sih lu? Kadang2 balik jadi oon lagi).

Hidup cuma sebentar, mo sampe kapan ngumpulin duit? Kalopun udah kekumpul duitnya, pada waktu itu saya umur berapa? apakah masih bisa menikmati hasilnya? Hati kecil sebenernya tau kalo nikmatin hidup yang ada sekarang jauh lebih berharga ketimbang nyiksa dan nahan diri demi kenikmatan di masa yang akan datang yang belum pasti. Banyak yang bilang hidup ini seperti roda, kadang di atas kadang di bawah. Kalo pas uang udah kekumpul eh ternyata hidup pas lagi di bawah? Yah, mo gimana lagi terpaksa kan ga bisa memetik hasil yang selama ini dikumpulin dengan menyiksa diri. Dikarenakan didikan orangtua selama lebih dari 20 tahun jadi ga gampang buat saya untuk bisa nerima paham istri yang baru saya kenal 11 tahun. Jadi, yah, sebenernya ini hanya masalah waktu.

*Unt pertama kalinya kami ke DuFan
Mungkin ada yang berpendapat, suami kok ngikut istri? Apa kata dunia? Tren sekarang kan lagi ngikutin hal2 yang berbau Arab dan Syariat dimana wanita tidak boleh lebih tinggi dari pria (itu sih yang saya tangkep, kalo salah mohon dimaapin, hehehe). Bahkan kalo ditilik terus bisa berbuah sebuat opini 'Suami Takut Istri', karena biasanya suami yang ngikut istri karena istrinya lebih dominan. Yup, statement itu memang betul. Maksud saya statement yang terakhir yang menyatakan bahwa istri lebih dominan ketimbang suami karenanya suami bisa ngikut istri. Tapi bukan berarti suami takut istri. Dalam membina hubungan memang harus ada yang mengalah yang ga bisa diartikan kalah. Siapa yang harus mengalah? Ya, gunakanlah akal sehat, berdiskusilah dengan pasangan, temukan jalan tengahnya. Bagian inilah yang orang di luar sana tidak mengerti, mereka hanya melihat ekspresi dan reaksi dari aksi kita yang sedang bergumul dengan karakter, rencana masa depan, atau apapun itu demi kemajuan hidup bersama.

Saya tidak setuju dengan statement 'Suami Takut Istri' karena menurut saya tidak ada suami yang takut pada istrinya, yang ada adalah suami yang respek terhadap istrinya karena dengan segala kerendahan-hatinya dia rela terlihat minor dan belajar dari pasangannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Begitulah kata Wing Chun, Yip Man dalam film IP MAN ketika dihina oleh pendekar dari Utara yang menantangnya berkelahi. Yip Man dianggap pengecut dan hanya bersembunyi di balik ketiak istrinya. Ini yang saya maksud menekan ego, ketika orang lain menilai dengan kasat mata kita takut pada istri/pacar, rasa gengsi itu muncul. Tapi  di sisi lain akal sehat kita sadar kalo kita sedang berjuang untuk memiliki karakter yang lebih baik. Orang lain tidak mengerti rasa respek kita pada istri/pacar. Di sini dibutuhkan kedewasaan dalam berpikir dan bersikap.

*DuFan, saya pulang ke Jakarta dlm rangka libur natal
Sejujurnya, saya belum sampai pada titik itu. Saya sedang mengolah diri dan kepribadian saya menuju ke situ. Saya masih sombong dan tinggi ego kadang muncul di saat saya merasa didominasi. Ini ga gampang tapi saya yakin pasti bisa. Yang saya butuhkan hanyalah kerendahan-hati dan waktu.

Happy Anniversary, istriku. Saya beruntung mendapatkanmu tapi sebuah kesialan bagimu mendapatkanku.

*Kampus, malam pelepasan saat saya di wisuda. Kris dateng sm ortu dan adik saya

*Monas, jalan2 ngirit versi saya.
*Kaliurang, sy dlm rangka urus buku tanbungan dan Kris urus SKCK di Semarang unt pengajuan WHV

*Flinder St. Station, Melbourne. Visa kami diapprove